Cerita Merangsang – Selembut Nafsu Wanita

15 Juni 2010
Di suatu desa hiduplah seorang pemuda yang bernama Ryan Wilantara. Ia sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojeg. Pasa awalnya pengalaman sebagai tukang ojeg biasa-biasa saja bahkan lancar-lancar saja. Tetapi lama kelamaan pengalamannya semakin pahit. Hal itu ditandai dengan semakin sepinya penumpang tetapi persaingan tetap ada.

Untuk mengubah nasibnya, akhirnya Ryan memutuskan untuk mengadu nasib di kota. Untuk modal tersebut Ryan terpaksa menjual motor milik satu-satunya itu. Akhirnya terjuallah motor Ryan seharga 5 juta kepada tetangganya yang kebetulan sedang membutuhkan motor.

Dengan modal sebesar itu jadilah Ryan pergi ke kota untuk mengadu nasib. Saat tiba di kota Ryan mencari kontrakkan yang cocok untuknya. Setelah cukup lama mencari, ia mendapatkan kontrakan dengan biaya sebesar Rp 150.000/bulan. Untuk ukuran Jakarta biaya tersebut termasuk murah.

Setelah resmi menempati kontrakan itu datanglah seorang gadis tetangganya untuk berkenalan.

“Hai..” sapa gadis itu.

“Hai juga..” balas Ryan.

“Aku baru melihatmu di sini.”

“Ya memang saya baru datang dari desa untuk mengadu nasib di kota ini.”

“Ooh dan siapa namamu?”

“Namaku Ryan, panggil saja aku Ryan. Dan namamu..?”

“Namaku Melisa, panggil saja aku Lisa.”

Setelah itu cukup lama mereka berbincang-bincang mengenai diri dan pengalaman mereka.

“Lis, nanti sore kamu ada acara.?”

Lisa berpikir sejenak.

“Tidak, memangnya ada apa?”

“Aku mau mengajakmu untuk membeli mebel.”

“Ya, bisa nanti aku, kau ajak.”

Saat ini waktu sore pun tiba. Ryan dan Melisa pergi ke toko mebel sambil berbincang-bincang. Ryan membuka pembicaraan.

“Lis, aku saat ini menganggur dan ingin mencari pekerjaan. Apakah engkau punya informasi lowongan kerja?”

“Kalau di tempatku ada yaitu sebagai security, kamu mau?”

“Memangnya kerjamu dimana sih?”

“Aku bekerja sebagai DJ di sebuah diskotik.”

“Kalau ada lowongan di sana tolong bantu aku dong.”

“Ya, akan aku usahakan.”

Pada suatu saat dengan usaha Lisa, Ryan di panggil oleh manager diskotik untuk wawancara. Dan wawancara berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun. Selain itu Ryan juga di terima untuk bekerja di discotik itu.

Ryan mulai bekerja pada esok malam yang kebetulan berbarengan dengan sahabat barunya, Lisa.

Hari pertama Ryan mulai bekerja pada pukul 6 sore sampai pukul 4 pagi. Begitu juga untuk hari-hari berikutnya. Kebetulan pada jam kerja itu berbarengan dengan Lisa sehingga mereka bisa berangkat bersama-sama.

Di discotik itu Ryan berkenalan dengan Herman sebagai kepala security. Malampun semakin larut tetapi pengunjung semakin ramai. Saat itu datanglah seorang wanita cantik berambut panjang mengunjungi diskotik tersebut. Ia datang sendirian dengan wajah yang murung yang mungkin di sebabkan karena kesepian.

Kemudian wanita itu menghampiri di mana Ryan dan Herman berada.

“Maaf, adakah yang bisa menemaniku?”

Atas permintaan wanita itu Ryan dan Herman saling tatap. Lalu Herman memberi kode agar Ryan yang memenuhi permintaan wanita itu. Ryan pun setuju karena Herman merupakan atasannya. Kemudian wanita itu menggandeng Ryan untuk menuju ka lantai discotik untuk berdansa. Musik mengalun lembut dan wanita itu mendekap erat tubuh Ryan. Dan wanita itu berkata:

“Aku baru melihatnu di sini.”

“Ya, saya memang orang baru di sini.”

“Kenalkan, namaku Sarah dan siapa namamu?”

“Panggil saja aku, Ryan.”

Kemudian metreka kembali berdekapan erat sampai alunan musik selesai. Setelah itu Sarah kembali berbicara kepada Ryan.

“Ryan pas libur kerja maukah kau main ke rumahku.”

Ryan berpikir sejenak.

“Mungkin bisa tetapi jam berapa?”

“Kira-kira jam 9 pagi lah.”

“Ya, akan saya usahakan untuk mengunjungi rumahmu.”

“Ohh, terima kasih Ryan.” Ucap Sarah sambil mengecup pipi Ryan dan memberikan beberapa lembar seratus ribuan ke telapak tangan Ryan. Ryan berusaha untuk menolak tetapi sarah terus memaksanya. Akhirnya Ryan pun terpaksa menerima uang dari Sarah.

Setelah Sarah pergi keluar dari diskotik itu, Ryan memghampiri Herman untuk melaporkan kejadian yang baru dialaminya.

“Bang Herman tadi wanita itu memberiku uang sebanyak ini.”

“Ooo, itu memang rejekimu, maka terimalah dan aku minta satu lembar untuk beli rokok.”

Dan Ryan pun memberikannya dengan senang hati. Selain itu Ryan juga memberikan beberapa lembar uang tersebut kepada Lisa saat sampai di rumah kontrakannya. Dan Lisa pun sangat senang menerimanya. Beberapa hari kemudian Ryan teringat janjinya kepada Sarah untuk main ke rumahnya. Memang pada waktu yang lalu Ryan juga diberikan kartu nama dari Sarah.

Untuk menepati janjinya Ryan jadi pergi menuju rumah Sarah yang alamatnya sudah tertera di kartu nama dari Sarah. Dengan menggunakan angkutan umum, Ryan sampai di suatu pemukiman elit. Kemudian Ryan mencari rumah yang tertera di kartu nama tersebut. Setelah mencari-cari, Ryan menemukan rumah yang akan dicari. Saat Ryan sampai di pintu gerbang rumah Sarah, pintu pagar itu terbuka secara otomatis. Ternyata Sarah sudah menunggu di teras rumahnya.

Ryan sangat kagum dengan rumah Sarah, karena rumah itu sangat besar dan mewah. Halaman rumah itu cukup luas dengan aman yang sangat indah. Sarah menyambut mesra kedatangan orang yang dinantikannya, yaitu Ryan.

“Hai Ryan. Akhirnya kau datang juga.”

“Engkau sudah lama menungguku?”

“Belum kok baru 5 menit aku menunggumu di sini, ayo kita ke dalam sekarang. Aku sudah menyiapkan santapan untukmu.”

Akhirnya Ryan mengikuti Sarah untuk masuk ke dalam rumah gadis itu. Ryan sangat kagum dengan perabotan yang ada di rumah Sarah, semuanya serba lux dan sangat indah di pandang mata. Setelah itu mereka menuju ruang makan untuk makan siang bersama. Ternyata hidangan yang sudah dipersiapkan oleh Sarah cukup banyak yang membuat Ryan cukup terkejut.

“Wah, banyak sekali hidangan ini. Apakah ini hanya untuk kita berdua?”

“Ya, ini untuk kita berdua, memangnya kenapa?”

“Terus terang hidangan ini sangat banyak. Apakah kita berdua sanggup untuk menghabiskannya?”

“Kalau tidak habis, tidak apa-apa. Kan nanti bisa dihangatkan jika kita ingin makan lagi.”

“Oh ya Sarah.”

“Ya ada apa, sayang?”

Di rumah sebesar ini kamu tinggal dengan siapa?”

“Di sini aku tinggal sendirian dengan 2 orang pembantu.”

“Berarti apakah kamu tidak kesepian?”

“Aku memang kesepian Ryan. Dan aku sangat berharap engkau mau tinggal bersamaku di sini.”

“Waduh bagaimana ya. Aku saat ini masih bingung dan saya tidak enak dengan anggapan orang, karena kita ini bukan apa-apa dan baru berkenalan.”

“Walaupun begitu aku mohon padamu Ryan agar engkau mau tinggal bersamaku di sini untuk mendampingi aku yang setiap saat kesepian.”

Ryan semakin bingung dengan permohonan Sarah itu antara menolak atau menerima, dalam diri Ryan masih perang batin.

“Atau kalau engkau tak mau tinggal di sini bagaimana kalau engkau aku belikan sebuah rumah supaya aku bisa bebas untuk mengunjungimu”

“Wah jangan Sarah itu sama saja engkau membuat hutang budi kepadamu”.

“Aku ikhlas kok yang penting kita bisa bertemu setiap saat.”

Setelah makan siang selesai, mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya Sarah membuka pembicaraan kembali.

“Ryan, ikut aku yuk!”

“Kemana?”

“Pokoknya ikut deh.”

Akhirnya Ryan mengikuti Srah untuk menuju keruang tengah. Di ruang tengah itu Sarah menyalakan TVnya yang cukup besar sekaligus VCD playernya. Ryan melihat Sarah memasukkan sekeping vCD ke playernya. Dan Sarah kembali mendekati Ryan untuk duduk di sampingnya sekaligus untuk menonton film dari TV itu.

Ternyata dari tangan di TV itu Ryan cukup terkejut karena yang di tampilkan adalah tayangan yang sangat vulgar. Tak lama kemudian Sarah bangkit untuk menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian Sarah kembali muncul dari kamar dan memakai daster sutera tang sangat tipis dan tak ada pelapis tubuhnya selain daster itu. Kemudian Sarah mendekati Ryan yang sudah bangkit gairahnya karena menyaksikan tayangan vulgar dari TV itu.

“Ryan..

“Ya..

“Kita ke kamar yuk.”

Bagai kerbau dicucuk hidungnya Ryan mengikuti Sarah untuk menuju ke kamarnya. Saat sampai di kamar, Sarah langsung mengunci pintu kamar. Ryan sangat kagum dengan keadaan di kamar itu. Kamar yang cukup luas, bahkan melebihi luasnya rumah kontrakan Ryan dan berisikan perabotan yang sangat mewah. Kemudian Sarah mengajak Ryan untuk ke ranjang tidurnya yang mewah dan empuk itu.

Didekat ranjang mewah itu Ryan dan Sarah saling berhadap-hadapan. Saling pandang. Dan Sarah langsung memeluk Ryan denagn hangat dan Ryan pun memeluknya. Saat berpelukan Ryan membelai rambut Sarah yang hitam mengkilat dan panjang tergerai itu. Kemudia Ryan mencium bibir Sarah yang sejak tadi merekah. Dan Sarah pun membalas denagn melumat bibir Ryan dengan hangat. Ketika mereka saling mempermainkan lidahnya, wanita kaya yang kesepian itu benar-benar melambung perasaannya.

Karena mereka sudah tak tahan lagi, Sarah melepaskan gaun tipisnya dan sekaligus melepaskan pakaian Ryan. Lalu Sarah terlentang di atas ranjang mewah dan menantikan pelukan Ryan. Kemudian Ryan memeluk tubuh itu. Menyentuh payudaranya yang ranum dan lembut kulitnya.

Ryan mencium bibir itu kembali. Lidahnya mempermainkan rongga mulut Sarah. Menggelitiknya dan menimbulkan rasa nikmat. Sarah memang masih perawan, dan Sarah dengan antusias menangkap lidah Ryan dengan lidahnya. Permainan yang panas itu terus berlanjut. Puas mencium, Ryan dengan lidahnya menyapu sepanjang leher. Sehingga membuat Sarah menggelinjang.

“Oohh, Ryan..”

Ryan hanya tersenyum saja. Dengus nafasnya kini terasa di telinga dan lidahnya menggelitik di lubang telinga itu. Kemudia Ryan mencucup puting susunya.

“Oohh..

Ryan tersenyum. Lidahnya mempermainkan puncak payudara itu. Kemudian menghisap-hisapnya.

“Ryan..”

Puas menghisap-hisap puting susu Sarah, Ryan menjilati kulit lembut sepanjang perut. Kemudian turun ke bawah, dan singgah di bukit kecil dengan rerumputan yang menghitam. Bau wangi khas parfum dan shampo membuat Ryan betah di tempat itu. Ia menciumi rerumputan itu.

“Oohh..”, desah Sarah kenikmatan.

Sejuta keindahan terasa menyatu. Kenikmatan tiada tara. Kenikmatan yamg luar biasa. Akibatnya seluruh tubuhnya gemetar hebat.

“Ryan..”

“Ya?”

“Tak tahan nih..”

Ryan tersenyum. Ryan tahu Sarah masih perawan dan alat kemaluan Ryan sudah menegang sejak tadi dan siap untuk menghujam. Ryan mencoba benda itu untuk masuk ke dalam liang vagina yang tampak mulai basah dan lembab itu.

Ia tekuk kaki Sarah yang cantik. Ia lebarkan pahanya sehingga lubang dalam liang vagina itu menganga di depan senjata pamungkasnya. Dan ia mulai masuk. Mulai menekan. Tetapi sering terpeleset. Beberapa kali ia coba, tapi gagal lagi.

Akhirnya kedua tangan Sarah membantu melebarkan bibir vaginanya. Dan Ryan memasukkan senjata meriamnya, menekan dengan tubuh. Dan akhirnya melesak ke dalam, setelah Sarah menggerakkan pantatnya sedikit. Dan terdengar pekik tersentak.

“Oouwww..!”

Sarah memeluk tubuh Ryan, matanya berkaca-kaca.

“Kenapa?” tanya Ryan lirih.

“Sakit.”

“Aku hentikan ya.”

“Jangan Ryan walau sakit tapi enak kok.”

“Benar?”

“Ya.”

Lalu Ryan melanjutkan menusuk vagina Sarah dengan senjatanya secara pelan-pelan. Ryan tahu bahwa selaput kesucian Sarah telah pecah. Pastilah darah perawan itu akan jatuh ke sprey, menetes dan ia melihat Sarah menahan rasa sakit.

Namun di sisi lain ia kepuasan di wajah itu, maka ia kemabli menggerakkan senjatanya yang terlanjur menghujam ke dalam gua lembab itu, perlahan saja. Kemudian menekannya lagi, dan begitu seterusnya. Sarah merasa ada sesuatu yang bergerak cepat dan menggetarkan seluruh sendi darahnya. Dan mengalir dengan bergolak dahsyat.

“Oohh..”

Desah Sarah merasakan kenikmatan. Begitu juga dengan Ryan, gerakannya makin cepat dan makin bertenaga, akhirnya ia mencengkeram bahu Sarah dan memeluk wanita itu. Keduanya melenguh dahsyat. Berbarengan dengan itu cairan kental dan hangat menyembur dari lubang meriam Ryan dan dinding rahim Sarah.

Dengus kepuasan terasa sekali dari hidung Ryan. Begitu juga dengan hempasan nafas Sarah. Dan Ryan menggelosor di sisi Sarah, dan melihat ada apa di bawah pantatnya. Ia melihat ada bercak darah sedikit di atas sprey yang sudah acak-acakan tak karuan itu.

TAMAT

Tags :Cerita merangsang,cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, dewi persik telanjang, telanjang artis indonesia


Cerita Merangsang – Fifi, Sahabat Diana

18 April 2010

Sejak peristiwa sexku dengan Diana aku semakin aktif untuk mengikuti senam, yach biasa untuk menyalurkan hasratku yang menggebu ini. Kegiatan ini semua tentunya juga rapi karena ku nggak kepingin istriku tahu hal ini. Suatu ketika aku diperkenalkan pada teman-teman diana satu kelompok, dan pinter sekali diana bersandiwara dengan berpura-pura telah bertemu denganku pada suatu pesta pernikahan seseorang sehingga temannya tidak ada yang curiga bahwa aku telah berhubungan dengan diana.

Hari ini, seusai senam jam 08.30 aku harus langsung kekantor untuk mempersiapkan pertemuan penting nanti siang jam 14.00. Kubelokkan kendaraanku pada toko buku untuk membeli perlengkapan kantor yang kurang, saat aku asyik memilih tiba-tiba pinggangku ada yang mencolek, saat kutoleh dia adalah fifi teman diana yang tadi dikenalkan.

“Belanja Apa De…, kok serius banget…”, Tanyanya dengan senyum manis.

“Ah enggak cuman sedikit untuk kebutuhan kantor aja kok…”

Akhirnya aku terlibat percakapan ringan dengan fifi. Dari pembicaraan itu kuperoleh bahwa Fifi adalah keturunan cina dengan jawa sehingga perpaduan wajah itu manis sekali kelihatannya. Matanya sipit tetapi alisnya tebal dan…, Aku kembali melirik kearah dadanya.., alamak besar sekali, kira-kira 36C berbeda jauh dengan diana sahabatnya.

“Eh.., De aku ada yang pengin kubicarakan sama kamu tapi jangan sampai tahu diana ya”, pintanya sambil melirikku penuh arti.

“Ngomong apaan sih.., serius banget Fi…, apa perlu?”, tanyaku penuh selidik.

“Iya perlu sekali…, Tunggu aku sebentar ya…, kamu naik apa..”, tanyanya lagi.

“Ada kendaraan kok aku…” timpalku penasaran. Akhirnya kuputuskan Fifi ikut aku walaupun mobilnya ada, nanti kalau omong-omgngnya sudah selesai Fifi tak antar lagi ketempat ini.

“Masalah apa Fi kamu kok serius banget sih…”, tanyaku lagi.

“Tenang De…, ikuti arahku ya…, santai saja lah…”, pintanya.

Sesekali kulirik paha Fifi yang putih itu tersingkap karena roknya pendek, dan Fifi tetap tidak berusaha menutupi. Sesuai petunjuk arah dari Fifi akhirnya aku memasuki rumah besar mirip villa dan diceritakan oleh Fifi bahwa tempat itu biasa dipakai untuk persewaan.

“Ok fi sekarang kita kemana ini dan kamu mau ngomong apaan sih”, tanyaku tak sabar, setelah aku masuk ruangan dan Fifi mempersilahkan duduk.

“Gini De langsung aja ya…, Kamu pernah merasakan Diana ya..?”, tanyanya.

Deg…, dadaku berguncang mendengar perkataan Fifi yang ceplas ceplos itu.

“Merasakan apaan sih Fi?”, tanyaku pura-pura bodoh.

“Alaa De jangan mungkir aku dikasih tahu lho sama Diana, dia menceritakan bagaimana sukanya dia menikmatimu…, Hayooooo masih mungkir ya…”.

Aku hanya diam namun sedikit grogi juga, nampak wajahku panas mendengar penuturan Fifi yang langsung dan tanpa sungkan tersebut. Aku terdiam sementara Fifi merasa diatas angin dengan berceloteh panjang lebar sambil sesekali dia senyum dan menyilangkan kakinya sehingga nampak pahanya yang mulus tanpa cacat. Aku hanya cengar cengir saja mendengar semua omomgannya.

“Gimana De masih mau mungkir nih…, Bener semua kan ceritaku tadi…?”, Tanyanya antusias.

Aku hanya tersenyum kecut. Kuperhatikan Fifi meninggalkan tempat duduknya dan tak lama kemuadian dia keluar sambil membawa dua gelas air minum. Fifi kembali menatapku tajam aku seperti tertuduh yang menunggu hukuman. Tak lama berselang kembali Fifi berdiri dan duduk disampingku.

“De…”, sapanya manja.

Aku melirik dan, “Apa?”, jawabku kalem.

“Aku mau seperti yang kau lakukan pada Diana De…”, aku sedikit terkejut mendengar pengakuannya dan tanpa membuang waktu lagi kudekatkan bibirku pada bibirnya.

Pelan dan kurasakan bibir Fifi hangat membara. Kami berpagut bibir, kumasukkan lidahku saat bibir Fifi terbuka, sementara tanganku tidak tinggal diam. Kusentuh lembut payudaranya yang kenyal dia tersentak kaget. Bibirku masih bermain semakin larut dalam bibirnya. Fifi kelihatan menikmati sekali sentuhan tanganku pada payudaranya. Sementara tangan kananku mengusap lembut punggungnya. Fifi semakin menjadi leherku diciumi dan tangan Fifi berada dipunggungku. Tanganku beroperasi semakin jauh dengan meraba paha Fifi yang mulus dia semakin menggelinjang saat tangan kananku mulai masuk dalam payudaranya. Tanpa menunggu reaksi lanjutan aku menaikkan BH sehingga tanganku dengan mudah menyentuh putting yang mulai mengeras.

Kudengar nafas Fifi memburu dengan diselingi perkataan yang aku tak mengerti. Fifi mulai pasrah dan kedua tangaku menaikkan kaos sehingga kini Fifi hanya memakai rok mini yang sudah tidak lagi berbentuk sedangkan BH hitam sudah tidak lagi menutup payudaranya. Kudorong perlahan Fifi untuk berbaring di Sofa, Aku terkagum melihat putihnya tubuh yang nyaris tanpa cacat. Kuperhatikan putting susunya memerah dan kaku, bulu-bulu halus berada disekitar pusar menambah gairahku. Fifi hanya terpejam dan aku mulai menurunkan rok mini setelah jariku berhasil menyentil pengait dibawah pusar. Kini Fifi hanya tinggal memakai CD dan BH hitam kontras dengan warna kulitnya. Aku bergegas mempreteli pakaianku dan hanya tinggal CD. Cepat-cepat kutindih tubuh mulus itu dan Fifi mulai menggelinjang merasakan sesuatu mengganjal dibawah pusarnya. Aku turun menciumi kakinya sesenti demi sesenti.

“Enggghh hhss”, hanya suara itu yang kudengar saaat mulutku beraksi di lutut dan pahanya.

Penisku terasa sakit karena kejang. Mulutku mulai menjalar di paha.., benar-benar kunikmati sejengkal demi sejengkal. Tanganku mencoba menelusuri daerah disela pahany, Dan kudengar suara itu semakin menjadi saat tanganku berhasil menyusup dari pinggir CD hitam dan berhasil menemukan tempat berbulu dengan sedikit becek didalamnya. Tanganku terus membelai bulu-bulu kaku dan tangan satunya berusaha mempermudah dengan menurunkan CD didaerah pada berpapasan dengan mulutku. Kusibak semua penghalang yang merintangi tanganku untuk menjamah kemaluan, dan kini semakin nampak wajah asli kemaluan Fifi indah montok putih kemerahan dengan bulu jarang tapi teratur letaknya. Mataku terus mengawasi kemaluan Fifi yang menarik, kulihat klitorisnya membengkak keluar merah muda warnamya…, aku semakin terangsang hebat.

Mulutku masih disela pahanya sementara tanganku terus menembus liang semakin dalam dan Fifi semakin menggelinjang terkadang mengejang saat kupermainkan daging kecil disela gua itu. Kusibakkan dua paha dengan merentangkan kaki kanan pada sandaran sofa sedangkan kaki kiri kubiarkan menyentuh lantai. Kini kemaluan Fifi semakin terbuka lebar. Mulutku sudah tak sabar ingin merasakan lidahku sudah berdecak kagum dan berharap cepat menerobos liangnya beradu dengan daging kecil yang manja itu dengan bulu yang tidak banyak. Kumisku bergeser perlahan beradu dengan bulu halus milik Fifi dan dia hanya bisa terpejam dengan lenguhan panjang setengah menjerit. Kubirakan dia mengguman tak karuan. Lidahku mulai menjilat dan bibirku menciba menghisap daging kecil milik Fifi yang menjorok keluar. Kuadu lidahku dengan daging kecil dan bibirku tak henti mengecup, kurasakan kemaluan semakin basah.

Fifi berteriak semakin keras saat tangaku juga mengambil inisiatif untuk meremas payudaranya yang bergerak kiri kanan saat Fifi bergoyang kenikmatan. Aku juga tidak tahan melihat semua ini. Kutarik bibirku menjauh dari kemaluanya dan kulepas Cdku sehingga nampaklah batang penisku yang sudah tegak berdiri dengan ujung merah dengan sedikit lendir. Kusaksikan Fifi masih terpejam kudekatkan ujung penisku sampai akhirnya menyentuh kecil kemaluan Fifi. Jeritan Fifi semakin menjadi dengan mengangkat pantatnya supaya penisku menjenguk lubangnya. Kujauhkan penisku sebentar dan kulihat pantat Fifi semakin tinggi mencari. Kugesek gesekkan lagi penisku dengan keras, aku terkejut tiba-tiba tanfan Fifi menagkap batang penisku dan dituntun menuju lubang yang telah disiapkan. Denga lembut dan sopan penisku masuk perlahan. Saat kepala penis masuk Fifi menjerit keras dan menjepitkan kedua kainya dipinggangku. Kupaksakan perlahan batang penisku akhirnya berhasil menjenguk lubang terdalam milik Fifi. Kaki Fifi kaku menahanku dia membuka mata dan tersenyum.

“Jangan digoyang dulu ya De…”, pintanya dan dia terpejam kembali.

Aku menurut saja. Kurasakan kemaluan Fifi berdenyut keras memijit penisku yang tenggelam dalam tanpa gerak. Akhirnya Fifi mulai menggoyangkan pantatnya perlahan. Aku merasakan geli yang luar biasa. Kuputar juga pantatku sambil bergerak maju mundur dan saat penisku tenggelam kurasakan bibir kemaluan Fifi ikut tenggelam dengan kulit penisku. Tak seberapa lama aku merasakan penisku mulai panas dan geli yang berada diujung aku semakin menekan dan manarik cepat-cepat. Fifi merasakan juga rupanya, dia mengimbangi dengan menjepitkan kedua kakinya dipinggangku sehingga gerak penisku terhambat. Saat penis masuk karena bantuan kaki Fifi semakin dalam kurasakan tempat yang dituju.

Aku tidak kuat dan, “Fi aku mau keluar”, lenguhku.

Fifi hanya tersenyum dan semakin mempererat jepitan kakinya. Akhirnya, Kutekan semua penisku dalam-dalam dan kusaksikan Fifi terpejam dan berteriak keras. Kurasakan semprotan luar biasa didalam kemaluan Fifi. Dan aku terus menggoyangnya, tiba-tiba Fifi berteriak dan tangannya memelukku kuat-kuat. Bibirnya menggigit dadaku sementara pantatnya terus mengejang kaku, aku hanya terdiam merasakan nikmatnya semua ini.

Aku menindih Fifi dan penisku masih kerasan didalam liang sanggamanya. Fifi mengelus punggungku perlahan seolah merasa takut kehilangan kenikmatan yang sudah direguknya. Perlahan kujauhkan pantatku dari tubuh Fifi dan kurasakan dingin penisku saat keluar dari liang kenikmatan. Aku terlentang merasakan sisa-sisa kenikmatan. Fifi kembali bergerak dan berdiri. Dia tersenyum melangkah menuju kamar mandi. Kudengar suara gemericik air mengguyur…,

Fifi kembali mendekatiku, aku duduk diatas karpet untuk berdiri hendak membersihkan penisku yang masih belepotan, aku terkejut saat Fifi kembali mendorongku untuk tidur.

“Eh fi aku mau ke kamar mandi dulu.., bersih- bersih nih…”

Tapi tak kudengar jawaban karena Fifi menunduk di sela pahaku dan kurasakan mulut Fifi kembali beraksi memanjakan penisku dengan lidahnya. Aku geli menggelinjang merasakan nikmatnya kuluman mulut Fifi ke penisku. Telur penisku dijilat dan dihisap perlahan. Serasa ujung syarafku menegang.

Kujepit kepalanya dengan dua pahaku, Aku mulia menggumam tak karuan tapi Fifi semakin ganas melumat penisku. Ujung penisku dihisap kuat-kuat kemudian dilepas lagi dan tangnnya mengocok tiada henti. Akhirnya aku menyerah untuk merasakan kenikmatan mulut Fifi yang semakin menggila. Kulihat kepala Fifi naik turun mengelomoh penisku yang menegang. Saat mulutnya menghisap kusaksikan pipi Fifi kempot seperti orang tua. Penisku dikeluarkan dari mulutnya dan kusaksikan kepala penisku sudah memerah siap untuk menyemprotkan air kehidupan. Fifi kembali menggoyang mulutnya untuk penisku tiada henti. Kepala penisku mendapat perlakukan istimewa. Dihisap dan dikulum. Lidahnya menjilat dan mengecap seluruh bagian penisku. Tangan Fifi membantu mulutnya yang mungil memegangi penisku yang mulai tak tentu arah. Aku kegerahan, kupegang kepalanya dan kuataur ritme agar aku tidak cepat keluar.

Hanya suara aneh itu yang sanggup keluar dari mulutku. Aku mencoba duduk untuk melihat seluruh gerakan Fifi yang semakin liar pada penisku. Kepala Fifi tetap dalam dekapan tangaku, kuciumi rambutnya yang halus dan kobelai punggungnya yang putih licin, dia mulai berkeringat mengagumu penisku. Mulut Fifi berguman menikmati ujung penisku yang semakin membonggol. Tanganku kuarahkan untuk meremas payudaranya. Saat kegelianku datang, payudaranya jadi sasaran amuk tanganku. Kuremas kuat Fifi hanya mengguman dan melenguh. Gila, Sayang aku tidak berhasil mengatur waktu yang lebih lama lagi untuk tidak mengeluarkan cairanku. Mulut Fifi sekain ganas melihat tingkahku yang mulai tak karuan. Lenguhku semakin keras. diluar dugaan Fifi semakin kuat melakukan kuluman dan hisapan peda penisku. Akhirnya aku tidak tahan merasakan kenikmatan yang tiada tara ini. Kuangkat pantatku tinggi – tinggi, rupanya Fifi mengerti maksudku, dimasukkannya dalam-dalam penisku dan kurasakan Fifi tambah kuat menghisap cairanku aku jadi merasa tersedot masuk dalam mulutnya.

Tak seberapa lama setelah cairanku habis, Fifi masih mengulum dan membersihkan sisa-sisa dengan mulutnya. Aku hanya bisa tengadah merasakan semuanya. Setelah itu Fifi mulai melepas mulutnya dari penisku. Kulihat semuanya sudah bersih dan licin. Fifi tersenyum dan dia mengelus dadaku yang masih telanjang. Aku baru bisa berdiri dan menuju ke kamar mandi saat Fifi beranjak dari duduknya untuk membuatkan aku minuman. Kubersihkan diriku. Aku minum sejenak, dan Fifi hanya diam saja memandangiku.

“Kenapa Fi…?”, tanyaku.

Dia memandangku dan berkata, “Maaf ya De sebenarnya aku tadi hanya memancingmu saja kok, aku nggak tahu kamu udah pernah main ama Diana atau belum, abisan aku lihat tatapan mata Diana sama kamu kadang mesra sekali sih aku jadi curiga”

“Gila, kupikir”, tapi aku hanya senyum saja mendengarnya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 12.45 aku harus bergegas untuk menyiapkan rapat. Kami berdua menuju ke toko tempat Fifi memarkir mobilnya. Selama diperjalanan kami semakin mesra dan berkali-kali kudengar lenguh manja Fifi seakan masih menikmati sisa-sisa orgasmenya. Tangankupun sekali-kali tidak lagi takut menelungkup disela pahanya atu penggelayut dipayudaranya yang besar. Bahkan Fifi semakin membiarkan pahanya terbuka lebar dengan rok terangkat untuk mempermudah tanganku mengembara dikemaluannya. Fifipun tak mau kalah penisku jadi sasaran tangannya saat tangaku tidak menempati kemaluannya. Kurasakan penisku tegang kembali. Fifi hanya tersenyum dan meraba terus penisku dari luar celana. Akhirnya sampai juga ditempat Fifi memarkir mobil dan kami berpisah, Fifi memberikan kecup manja dan ucapan terima kasih.

Aku hanya tersenyum dan bergumam, “Besok aku mau lagi..”

Fifi mengangguk dan berkata “Kapanpun Ade mau, Fifi akan layani”

Hati setanku bersoak mendengar jawaban yang mengandung arti kemanjaan sebuah penis dan keganasan kemaluan memerah dengan bulu halus. Diana tidak mengetahui kalau aku sering merasakan kemaluan Fifi yang putih dan empuk itu. Mereka masih tetap akrab dan berjalan bersama seperti biasanya.

TAMAT

Tags : Cerita merangsang,telanjang gadis indonesia,telanjang bulat, tante girang telanjang, telanjang artis indonesia, artis bugil telanjang, youtube artis bugil,gadis bugil tante girang, tante girang bugil videos, bugil aura kasih, gambar bugil cewek hamil, model bugil tabloid, artis indonesia bugil, indonesia bugil memek,foto bugil


Cerita Merangsang – Eksekusi Siska dan Sisti

12 April 2010

Nama saya James. Sekarang saya kuliah di US. Kejadian ini waktu saya masih SMA di Jakarta. Waktu itu saya sudah punya pacar namanya Sisti. Kita sudah pacaran kurang lebih 2 tahun semenjak awal masuk SMA di Bandung. Gara-gara saya berantem sama kepala sekolah akhirnya saya pindah ke Jakarta. Hubungan kita masih lancar-lancar saja waktu itu. Kalau nggak saya yang telepon kadang dia. Dan kalau saya kangen, pulang sekolah langsung cabut ke Bandung untuk menengok dia, pagi-pagi jam 2 langsung dari Bandung ke sekolah lagi. Soal menginap, biasanya saya sering tidur di kamarnya kalau di rumah sepi banget. Ibunya sih sudah liberal banget, maklum blasteran bule. Masih muda banget tuh ibunya. Waktu itu masih 35 tahun, kadang malah kalau jalan sama saya berdua menemani dia belanja disangka teman-teman.. “Eh James, siapa tuh cewek loe, tua amat?” Hahahahhaha… dia punya anak dua, kembar, Sisti dan Siska. Kembar, putih, tinggi, lucu, soal body nggak usah saya ceritakan deh, tahu Jeniffer Lopez? nah kayak gitu tuh si kembar. Siska juga sudah punya pacar kebetulan sobat saya juga.

Hubungan kita sudah dekat banget. Sejak awal memang saya sudah “ngeseks” sama dia. Dan orang tuanya sama saya sudah nggak ada masalah kalau misalnya salah satu datang terus menginap (soal “ngeseks” nggak tahu tentu saja). Ceritanya nich kembar berdua datang ke Jakarta mau belanja. Jadi minta ditemani oleh saya untuk jalan-jalan keliling Jakarta. Kebetulan di Jakarta rumah mereka lagi direnovasi. Saya suruh saja menginap di rumah saya. Lagian orang tua saya lagi pergi, jadi kosong. “Ok deh”, kata mereka. Malamnya terus kita jalan-jalan ke Zanzibar, janjian sama teman. Saya nggak berani minum banyak-banyak soalnya pulangnya nyetir. Tapi tuh si kembar dicekokin sama teman-teman banyak banget sampai nggak kepalang maboknya. Akhirnya jam 4 kita pulang dan setelah berusaha keras merayu Siska buat turun joget-joget dari meja, terus menggotong Sisti ke mobil bla.. bla.. bla.. sampai deh di rumah. Sampai di kamar akhirnya tanpa ba bi bu lagi kita langsung tidur bertiga, biarpun AC jalan tapi gara-gara mabok tetap saja kepanasan. Akhirnya saya buka celana panjang saya hingga tinggal CD saja, terus saya menggeletak di tengah-tengah mereka. Tapi berhubung kepala saya pusing dan tahu dong, kalau mabok bawaannya tegang mulu. Saya mulai meraba-raba Sisti (biar mabok tapi saya bisa bedain pacar saya yang mana).

Pertama-tama saya selipkan tangan saya kedalam kemejanya. Terus jemari saya menjelajah kemana-mana di dalam BH-nya. Lama banget saya memainkan putingnya, dipelintir-pelintir terus dielus-elus lagi. “James… buka saja belakangnya biar lega”, kata Sisti tiba-tiba. “Tapi jangan ribut ya, nggak enak sama Siska, lagian kamu gila ya… sodaraku disebelah!” bisiknya. “Ah biar saja, kamu juga mau khan…” kata saya nggak sabar sambil melepaskan tali BH-nya sama buka kemejanya, habis itu saya cium-ciumi payudaranya, kadang-kadang saya jilat-jilat pentilnya pakai lidah membuat lingkaran di buah dadanya. Kemudian naik lagi ke lehernya, saya cium-ciumi belakang kupingnya sampai si Sisti menggelinjang-gelinjang. Lalu turun lagi ke bawah mencium-ciumi ujung dadanya yang merah kecil sambil saya cubit-cubit kecil ujung satunya dengan tangan kanan saya. “Sudah James… cepet donk… buka celanaku sudah nggak kuat nih, ahh James… tega ih kamu! jangan lama-lama dong say…!” Karena saya juga nggak tahan, saya buka juga celana hipster hitamnya sekalian sama celana dalamnya. Terus terang saya paling suka memainkan kelentit wanita, bukan karena nikmat tapi saya suka banget lihat tampang mereka kalau dimainin pakai lidah terus bibir vaginanya digigit-gigit, sepertinya kejatuhan surga, nikmat banget.

Sekitar sepuluh menit saya memainkan vaginanya sampai kepala saya didekap sama kakinya, keras banget. Tangannya mendorong-dorong kepala saya buat menjilat lebih dalam lagi. “Jamesss, masukiin dongg! cepet!” katanya. “Mm… tapi basahin dulu punyaku… mau nggak?” kata saya. “Iya… sini Sisti isepp!” Akhirnya kita tukar posisi, saya di bawah dan dia mulai menghisap penis saya. Biarpun saya sering senggama sama wanita lain, kalau soal menghisap kayaknya cewek saya masih paling jago. Penis saya sih nggak panjang-panjang amat hanya 15 cm tapi gede dan berhubung bibir cewek saya kecil jadi dia rada-rada kesusahan buat menghisapnya. Ujungnya sama dia dijilat-jilat dulu terus dimasukan sebagian. di dalamnya sama Sisti dimainkan pakai lidah, dikeluarkan lagi, dihisap lagi sampai ke ujungnya terus didiamkan di mulutnya. Yang membuat saya paling nggak kuat kalau sama dia penis saya dikenyot-kenyot kayak menghisap jolly. Serasa isinya mau keluar semua. Saking saya keenakan sampai nggak sadar tangan saya pegang kepalanya buat menahan agar penis saya nggak dikeluarkan dari mulutnya. “Aahh mm… terusss sayangg!” desah saya sambil masih menahan kepalanya, kayaknya dia sudah mulai kesusahan napas.

Tiba-tiba bibir saya dicium dan begitu buka mata ternyata Siska. Dia ternyata kebangun mendengar erangan kita tapi diam saja, tapi nggak kuat juga akhirnya. Saya cium juga dia. “James, jahat ih kamu berdua… nggak mikir apa aku lagi bobo?” katanya. “Sis… sorry habis sudah konak neh…” “Tahu nggak James jadinya… Siska khan jadinya horny banget!” “Ok deh Sis… ma’ap… jadi mesti gimana dong?” “mm… kamu cium-cium punyaku kayak ke Sisti lagi dong? mau nggak?” “Ok… buka gih celananya aku isepin sini…” Siska buka celana sama kaosnya, terus naik ke atas mukaku. Sisti ternyata nggak keberatan, sama-sama sudah horny berat sih berdua. Akhirnya kita main threesome, saya hisap vagina Siska terus Sisti naik ke penis saya. “Aahh Jamesss… emang kamu top banget deh… terusss jilat itunya sayang…!”

Enggak lama kita tukar posisi, saya suruh Sisti tiduran, terus Siska saya minta telungkup. Jadi saya masukin penis saya lewat belakang (doggy style), ahh ternyata nggak kalah sama vagina kembarannya, sama-sama masih rapat! Sambil saya mensetubuhi si Siska, tangan saya menjelajah vagina Sisti, saya masukan jari tengah saya kedalam sambil jari saya yang lain mulai berusaha memegang analnya, saya nggak pernah senggama lewat anal cuma kalau sekarang pegang-pegang doang sih sering, nambah sensasi. Ternyata saking keenakan, mereka berdua ciuman, sambil tangannya memegang payudara kembarannya, saya jadi tambah napsu sekali melihatnya. Akhirnya saya pindah ke Sisti, saya angkat salah satu kakinya terus saya masukan penis saya dari samping. Huwiii, ini salah satu favorit saya juga. Enggak kebayang rasanya paha saya kegesek-gesek sama pahanya, terus penis saya masuk lewat pinggirnya, rasanya lain banget daripada saya di atas. Siska kemudian mulai memainkan lidahnya di payudara Sisti sambil memegang vaginanya. “Ahh Jammesss bentar lagi sayanggg… aahh…” ternyata Sisti sudah sampai klimaks, saya pindah untuk melakukan hal yang sama-sama Siska cuma kali ini saya minta dia membalikkan badan sambil tiduran, terus saya masukan dari belakang. “Aahh Jamesss tegaa ih kamu… nikmat banget tuhh truss trusss!” “Siska… rapetin kaki kamu donk… iya gitu sayang…!” Ini posisi yang buat saya cepat keluar. Kakinya dirapatkan terus saya kocok-kocok dari belakangnya. “Siska aku mau keluar nich.. di dalem yaa…” kata saya. “Jangan Jamesss!” kata Siska. “Sini aku isep saja ya.. dikeluarin di mulut Siska!” saya masukan ke mulutnya, ternyata Sisti juga nggak mau kalah, yang ada kayak rebutan. Gila juga ternyata Siska menghisapnya. Sambil menghisap tangannya mengocok-ngocok penis saya. Sisti lagi menciumi biji saya. “Ahh Siss… Jamess keluarrr nichh!” Akhirnya saya keluarkan sperma saya di mulutnya sambil saya tahan kepalanya dia agar menghisap terus.

Selesai itu kita bertiga langsung tidur kecapaian. Pagi-paginya bangun, yang ada malah cekikikan. “Eh Siska bandel ya! ngapain saja sama si Aryo kalau berdua yo hahahah”, goda saya sama Sisti. “Ah kalian juga sama hihihihhih”, katanya.

Lain kali saya ceritakan pengalaman saya sama pacar saya yang lain, juga sama ibuya. Sorry kalau saya ceritanya rada-rada ngelantur kemana-mana, tapi ini kejadian benar.

TAMAT

Tags : Cerita merangsang,ngetot,cerita pemerkosaan, telanjang, cewek bugil, 3gp gratis, abg telanjang,gadis cantik, telanjang gadis indonesia, gadis abg telanjang, cewek jakarta,rumah tumpangan, gambar seks, malam pertama, 17tahun keatas, 3gp video, skodeng, bogel, gambar skodeng


Cerita Merangsang – Mosaik Perselingkuhan Para Istri – 6

9 April 2010

Dari bagian 5

Peristiwa kelima,

DI TENGAH PESTA

Aku dan suamiku datang 30 menit lebih awal, soalnya ini pesta kawin perak boss dimana suamiku harus menunjukkan loyalitasnya. Bangunan pendopo di rumah boss telah berubah menjadi ball room yang hebat. Nampak meja-meja panjang yang telah ditata mewah lengkap dengan gelas-gelas kristal dan sendok garpu peraknya serta piring-piring porselin diatas taplak putih bersih yang menghampar menutup mejanya. Sementara para pelayan sibuk menyiapkan makanan dan perangkat penunjangnya yang juga memamerkan kemewahan pesta ala orang-orang Barat.

Diatas stage nampak duduk seorang pianis dengan tuxedo buntut-nya yang menyentuh lantai sementara tangannya menyentuh lembut tuts piano Vluegel yang terbuka sayapnya untuk memperdengarkan, entah benar entah tidak, sepotong karya Tchaikovsky. Dan di bawahnya terbentang lantai kayu mahoni yang sangat mengkilat yang nanti akan dipenuhi para pasangan anggun yang melintasinya dalam acara Polonaise yang elegant itu. Aku dan suamiku telah siap untuk ikut meramaikannya dan untuk itu kami telah berlatih Polonaise setiap hari di pusat latihan tari Nana Marina yang top itu.

Sementara itu cahaya ruangan yang datang dari lampu-lampu kristal buatan Rossental yang super mewah jatuh temaram telah menciptakan harmoni antara karpet yang merah darah, meja-meja putih dengan gelas-gelas kristalnya, para tuan dan nyonya yang berseliweran dalam busana resmi pesta berupa jas tuxedo lengkap dengan celananya yang ber-strip sutra putih disampingnya untuk para tamu pria dan gaun malam berwarna gelap untuk wanita pasangannya lengkap dengan sarung tangannya yang membungkus tangan-tangan mereka hingga sebatas lengannya. Aku sendiri setengah mati menyiapkan ini semua.

Sebagai perempuan kelahiran desa Gempol, Wonosari, pesta macam begini baru sekali kami alami, dan maknanya sangat luar biasa bagi kami. Kami, suamiku dan aku, mempersiapkan diri lebih dari satu bulan dengan entah menghabiskan berapa juta rupiah untuk busana yang mungkin baru sepuluh tahun lagi kami pakai kembali. Tetapi aku sendiri berbahagia dengan kesempatan ini.

Aku mendatangi Harry Darsono, desainer top kita itu, untuk konsultasi sekaligus memesan busana yang sesuai dengan aku. Kemudian pada jatuh harinya, seharian ini aku berkutat di rumah fashionnya untuk menyetel semuanya termasuk melatih aku bagaimana mesti membawakan diri dengan busana macam ini. Aku memakai gaun terusan yang berhenti di dadaku untuk digantungkan dengan tali lembut ke bahuku. Dengan kain sutra yang khusus di datangan dari Amerika, begitu kata Harry, gaun malamku ini dia kerjakan siang malam selama lebih dari 2 minggu. Hasilnya sangat memuaskan aku. Saat aku keluar hendak pulang mereka bilang tampilanku sangat cantik mempesona seperti Cinderella atau Boneka Barby yang seksi itu. Aku tidak tahu persis, adakah Harry Darsono dan teman-temannya tahu bahwa aku berasal dari desa Gempol, Wonosari.

Kini aku dengan busana malamku, parfum L’Ivonne-ku serta beberapa bentuk gelang berlian ditangan kanan dan kiriku dengan penuh percaya diri menggandeng tangan suamiku bak pengantin agung memasuki ruangan pesta yang sangat mewah ini. Aku merasa seolah-olah semua nafas terhenti dan semua mata menyaksikan kehadiran kami, tentunya karena adanya aku yang dibilang mirip Cinderella dan Boneka Barbie tadi. Ada sih, yang nampak acuh saja saat aku melewati mereka, ah, biarlah, mungkin mereka tahu bahwa aku hanya berasal dari desa Gempol, Wonosari.

Suamiku memperhatikan tulisan nama-nama di meja. Panitia pesta telah menyusun secara protokoler siapa duduk di mana. Sebagai top eksekutif perusahan suamiku membawa aku untuk menempati kursi dekat dengan kursi boss dan nyonya. Disamping kanan kiri kami kubaca nama-nama para tokoh-tokoh masyarakat baik pengusaha, celebriti ataupun pejabat dan politisi negeri tercinta ini. Beberapa tamu yang telah hadir terlebih dahulu memberikan hormat pada suamiku dan kemudian meraih dan mencium tanganku sebagaimana layaknya menghadapi seorang putri terhormat macam Cinderella itu. Pasti mereka termasuk yang tidak tahu bahwa aku berasal dari desa Gempol, Wonosari. Aku merasa sangat tersanjung. Aku lihat mata mereka yang tidak berkedip memperhatikan aku sekaligus melupakan bahwa disebelah kiri mereka ada istrinya yang mestinya tidak kalah cantik denganku. Dan kulihat betapa para istri-istri itu sedemikian cemburu, bahkan ada yang terang-terangan mencibirkan bibirnya, mungkin mereka itu tahu persis bahwa aku asli berasal dari Gempol.

Suamiku menarik kursi berukir keemasan untukku, baru kali ini dia lakukan selama lebih dari 10 tahun kami menikah, kemudian dengan usaha keras agar nampak anggun seanggun-anggunnya, aku menempatkan pantatku untuk duduk. Tiba-tiba aku ingat telepon genggam atau HP-ku yang baru kubeli terlupa ketinggalan di laci mobil, aku harus mengambilnya karena aku sudah janji kepada Ratmi teman sedesaku yang kini buka salon dekat rumahku di RW 07 kampung Warakas, Tanjung Priok. Dengan HP-ku yang mutakhir itu aku bisa mengabadikan dalam foto-foto seluruh kejadian pada pesta mewah ini, sehingga aku tak usah banyak cerita padanya. Aku bisikkan kepada Mas Karsiman, suamiku, tentang HP-ku yang ketinggalan di mobil itu. Dengan tanpa mengindahkan tata krama bagaimana seharusnya melayani istri anggunnya dia ngomel padaku, dimana sih ingatan kamu, begitu saja kok lupa, dasar “cah ndeso”, katanya. Dia rogoh celananya dan lemparkan kunci mobilnya ke aku. Kuakui bahwa dari sekian banyak orang di ruangan ball room itu, hanya Mas Karsiman-lah orang yang paling tahu bahwa aku benar-benar dari desa Gempol, Wonosari.

Aku beranjak dari kursiku dan bergegas ke mobil di halaman parkir. Saat aku turun dari teras sambil sedikit mengangkat gaun malamku agar tidak nyerimpet kakiku seorang petugas parkir yang berkumis melintang dan memakai seragamnya yang gagah membungkuk dalam-dalam penuh hormat, meraih tanganku dan menciumnya kemudian dia menanyakan apakah aku perlu bantuan. Sikap penuh hormatnya yang hebat itu membuat aku sangat tersanjung, dan bak seorang nyonya yang super penting aku minta dia untuk mendampingi aku menuju ke mobil. Beda dengan suamiku, aku pastikan dialah orangnya yang paling sama sekali tidak tahu bahwa aku berasal dari desa Gempol, Wonosari. Dia bantu aku mengangkat gaun malamku agar tidak nyerimpet kakiku. Dan dia mengangkat benar-benar tinggi hingga jauh dari kakiku, bahkan hampir setengah pahaku. Wah, aku kembali lebih tersanjung oleh penghormatannya. Apalagi setelah kuamati petugas parkir itu ternyata ganteng banget, jauh lebih ganteng dari pada suamiku. Terlintas pada pikiranku kalau petugas parkir ini lebih cocok sebagai pendampingku, sementara Mas Karsiman akan lebih cocok menggantikannya sebagai petugas parkir.

Sampai di lapangan parkir aku lihat mobilku yang menghadap ke jalan sudah dipepet berdesak oleh mobil lain, tetapi untung di sebelah pintu yang aku akan buka masih ada ruang untuk daun pintu mobilku. Petugas yang baik dan penuh hormat itu dengan sabar menantikan aku membuka pintu mobil dengan terus mengangkat gaun malamku sebagaimana permintaanku tadi. Sesudah mencoba beberapa mata kunci, akhirnya pintu mobilku terbuka. Aku buka lebar-lebar pintunya dan langsung merunduk nungging mencari HP-ku yang ketinggalan. Aku meraba-raba jok kursi depan dan jok kursi belakang, kemudian membukai laci-laci tetapi tak kunjung kutemukan HP-ku itu. Sementara itu petugas parkir yang ganteng tadi mulai mencium bokongku. Uh, rasanya ketersanjunganku makin sangat tak tehingga, kalau orang-orang cukup mencium tanganku sebagai tanda hormatnya, petugas parkir ini lebih-lebih lagi dengan mau mencium bokongku.

Keyakinanku bahwa dia benar-benar tidak mengetahui asal-usulku yang dari desa Gempol, Wonosari jadi ber-lipat-lipat. Apalagi saat menciumi bokongku juga diikuti semakin meninggikan ngangkat gaun malamku agar nantinya tidak menyandung kakiku. Sedemikian tingginya dia mengangkat gaunku hingga kurasakan betapa kumisnya yang melintang itu langsung membuat aku merinding saat menyentuh pori-pori bokongku. Ketika tangan-tanganku tak juga menemukan HP-ku dalam mobil itu aku mencoba bertahan untuk tetap nungging beberapa saat lagi guna memberi kesempatan lebih lama kepada petugas parkir itu menyampaikan hormatnya padaku.

Kemudian saat ciumannya juga dia tambahkan dengan kecupan bibirnya dan jilatan lidahnya aku langsung ingat akan kebiasaan suamiku yang selalu mengawali godaannya padaku dengan ciuman di bokongku, kemudian mengecup dan menjilatinya sebagaimana yang kini dilakukan petugas parkir ini. Yang selanjutnya aku sangat ingin tahu adalah, apakah dia juga akan melepasi celana panjangnya dan menempelkan tongkat panjangnya untuk di usel-uselkan kebokongku sebagaimana yang juga diperbuat suamiku. Aku perlu menunggu beberapa saat hingga ternyata dia benar-benar melakukan persis seperti yang biasa dilakukan suamiku itu. Ah, bukan main petugas parkir ini, dia betul-betul mengetahui dengan persis kebiasaan suamiku.

Dan ketika dia kemudian bangkit mencopoti celana dalamku dan melemparkannya ke jok mobilku kemudian dengan penuh emosi merangkul tubuhku serta kedua tangannya meraih susu-susuku dan meremas-remasinya, sementara tongkatnya yang hangat, gede dan panjang itu disodok-sodokan ke daerah yang sangat rahasia milikku, aku betul-betul merasa sedang menghadapi suamiku. Tetapi kali ini ada yang beda, petugas parkir ini memberikan kenikmatan 73 kali lipat dari kenikmatan yang bisa diberikan suamiku. Aku katakan 73 karena yang dia tuju (tujuh) ada 3, pertama adalah nonokku yang merupakan milikku yang paling rahasia yang selama ini hanya suamiku yang berhak mengambilnya, kedua adalah buah dadaku sangat menampakkan pesona dan nikmat sensual dan yang ketiga.., apa, ya..? Tiba-tiba aku terlupa karena aku rasakan sodokan di bawah sana menghunjam-hunjam demikian hebatnya hingga nikmatnya membuat aku lupa segala-galanya.

Sodokan tongkat panas dan panjang petugas parkir itu demikian dalam menembusi nonokku hingga menyentuh dinding rahimku. Sementara dinding-dinding nonokku yang dipenuhi saraf-saraf peka terus melumat dan meremas-remas batang bulat gede itu karena kegatalan. Ketika lumatan dan remasan dinding peka itu belum juga mengurangi kegatalanku, aku terpaksa membantunya dengan menggoyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri serta memaju dan mundurkan pantat serta pinggulku hingga seluruh badan mobilku pun ikut bergoyang-goyang. Pada saat seperti ini biasanya suamiku minta supaya aku berpura-pura ditimpa nikmat yang tak terhingga, dia minta supaya aku mendesah dan merintih bahkan kalau perlu berteriak seakan aku menanggung derita yang tak terperikan. Tetapi saat ini petugas parkir itu benar-benar sedang memberikan kenikmatan yang tak terhingga padaku, dan aku sungguh-sungguh ditimpa derita nikmat yang tak terperikan, sehingga tanpa dia minta kini aku benar-benar mengeluarkan desahan, rintihan dan teriakan-teriakan demikian hebat yang bahkan tak bisa kukendalikan lagi.

Dan ketika tongkatnya terasa makin legit dan sesak keluar masuk dalam nonokku, aku tahu bahwa sebentar lagi dia akan mempersembahkan kenikmatan yang tak terperi padaku. Aku sendiri sudah harus bergegas menerima puncak-puncak derita hasil perbuatannya. Dan saat aku merasakan adanya semprotan cairan yang sangat kuat dan panas dalam nonokku, puncak nikmatkupun muncrat hadir menyertainya. Pada saat itu aku tak lagi ingat macam bagaiman kegaduhan yang terjadi dalam mobil yang juga ikut terguncang-guncang ini. Yang kuingat hanyalah aku ter-rebah nungging dan tengkurap ke jok mobil dan petugas parkir itu melepas batang panasnya dari lubang kemaluanku. Kemudian aku terlena sesaat.

Aku baru sadar saat musik Polonaise dari ruang ball room terdengar bergema. Aku segera bangkit karena pasti Mas Karsiman, suamiku telah menunggu aku. Aku menjambret kertas tissue yang selalu ada di mobilku untuk membersihkan cairan dan lendir kental yang meleleh di seputar vagina dan pahaku. Aku cari petugas parkir itu, rupanya dia telah meninggalkan aku. Mungkin karena aku lupa tidak memberikan tugas untuk membimbingku dari mobil menuju gedung ball room itu. Dan aku bergegas kembali untuk suamiku yang pasti sudah gelisah menunggu. Sebelum aku menemuinya aku mampir terlebih dahulu ke toilet ball room untuk membetulkan busana malamku dan sedikit riasan wajahku. Saat akhirnya suamiku menggandeng aku untuk melakukan ritual Polanaise dalam pesta perak bossnya, aku merasakan ada yabg bergetar dalam BH-ku. Ya, ampun, rupanya aku lupa kalau HP-ku telah kuselipkan ke dadaku menjelang berangkat dari rumah itu. Aku menerima SMS dari Ratmi agar aku tidak lupa membuat dokumentasi foto pesta hebat ini.

Malam itu saat pesta usai aku digandeng kembali oleh suamiku keluar dari ball room menuju tempat mobil kami. Aku tengak-tengok kesana kemari mencari petugas parkir yang ramah itu tetapi tak kulihat batang hidungnya. Mungkin dia sedang sibuk mengatur keluar masuk mobil lainnya di tempat lain. Aku sampai di rumah sekitar pukul 11 malam. Kulihat Ratmi dan pelayan rumahku masih melek menungguku. Sebagai putri yang seanggun Cinderella aku merasa tidak harus menegur mereka. Aku langsung masuk ke kamar untuk membuka busana jutaan rupiahku ini. Rumah kontrakan yang sempit di Tanjung Priok ini membuatku sangat kegerahan. Saat aku melepaskan gelang berlianku dari tangan kanan dan kiriku aku merasa ada yang kurang. Satu bentuk gelang berlianku telah hilang dari tanganku. Aku jadi ingat tuju(tujuh)-an yang ke tiga, rupanya petugas parkir itu telah menjambret gelang berlianku yang kubeli seharga 5 juta rupiah dari uang arisanku itu. Seketika pandanganku gelap, aku limbung terkulai dan jatuh ke lantai.

Aku sudah tergeletak di tempat tidur saat terbangun. Kulihat Ratmi sedang mengipasi aku dengan kertas bungkus dagangannya. Pelayanku sedang memijiti kakiku, dan suamiku di sana sedang terduduk lesu. Di genggaman tangannya kulihat celana dalamku yang nampak basah lembab yang dia ketemukan di jok mobilku. Dia menasehatiku dengan matanya yang penuh rasa kasihan agar kalau aku pergi-pergi jangan meninggalkan celana dalam di mobil, hingga menyebabkan aku kini masuk angin. Kemudian dia menyuruh pelayanku mengambil minyak goreng untuk mengerok punggungku.

Malam itu aku tertidur dengan sangat nyenyak. Masa bodo dengan gelang berlian, masa bodo dengan busana Harry Darsono, masa bodo dengan Polonaise dan Nana Marina-nya. Rasanya sawah di Gempol, Wonosari jauh lebih indah dari semuanya ini. Dan pelukan Mas Karsiman terasa jauh lebih nikmat daripada jambretan tangan petugas parkir itu.

E N D

Tags : cerita merangsang, bugil, artis telanjang, koleksi foto bugil, abg bugil, gadis telanjang bugil, abg telanjang bugil, telanjang gadis indonesia, telanjang artis indonesia, telanjang abg, cerita nafsu, nafsu tante, nafsu pembantu, nafsu mama, memek nafsu


Cerita Merangsang – Mosaik Perselingkuhan Para Istri – 4

8 April 2010

Dari bagian 3

Peristiwa keempat,

ANAK SAHABATKU

Saat kuliah aku punya sahabat karib bernama Yenny. Walaupun belum tentu sekali setahun berjumpa tetapi semenjak sama-sama kami berkeluarga hingga anak-anak tumbuh dewasa, jalinan persahabatan kami tetap berlanjut. Setidaknya setiap bulan kami saling bertelpon. Ada saja masalah untuk diomongkan. Suatu pagi Yenny telepon bahwa dia baru pulang dari Magelang, kota kelahirannya. Dia bilang ada oleh-oleh kecil untuk aku.

Kalau aku tidak keluar rumah, Idang anaknya, akan mengantarkannya kerumahku. Ah, repotnya sahabatku, demikian pikirku. Aku sambut gembira atas kebaikan hatinya, aku memang jarang keluar rumah dan aku menjawab terima kasih untuk oleh-olehnya. Ah, rejeki ada saja, Yenny pasti membawakan getuk, makanan tradisional dari Magelang kesukaanku. Aku tidak akan keluar rumah untuk menunggu si Idang, yang seingatku sudah lebih dari 10 tahun aku tidak berjumpa dengannya.

Menjelang tengah hari sebuah jeep Cherokee masuk ke halaman rumahku. Kuintip dari jendela. Dua orang anak tanggung turun dari jeep itu. Mungkin si Idang datang bersama temannya. Ah, jangkung bener anak Yenny. Aku buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Idang naik ke teras rumah,

“Selamat siang, Tante. Ini titipan mama untuk Tante Erna. Kenalin ini Bonny teman saya, Tante”.

Idang menyerahkan kiriman dari mamanya dan mengenalkan temannya padaku. Aku sambut gembira mereka. Oleh-oleh Yenny dan langsung aku simpan di lemari es-ku biar nggak basi. Aku terpesona saat melihat anak Yenny yang sudah demikian gede dan jangkung itu. Dengan gaya pakaian dan rambutnya yang trendy sungguh keren anak sahabatku ini. Demikian pula si Donny temannya, mereka berdua adalah pemuda-pemuda masa kini yang sangat tampan dan simpatik. Ah, anak jaman sekarang, mungkin karena pola makannya sudah maju pertumbuhan mereka jadi subur. Mereka aku ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk mereka.

Kuperhatikan mata si Donny agak nakal, dia pelototi bahuku, buah dadaku, leherku. Matanya mengikuti apapun yang sedang aku lakukan, saat aku jalan, saat aku ngomong, saat aku mengambil sesuatu. Ah, maklum anak laki-laki, kalau lihat perempuan yang agak melek, biar sudah tuaan macam aku ini, tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu dan banyak nyerempet-nyerempet ke masalah seksual. Dan si Idang sendiri senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung, nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya. Kami jadi banyak tertawa dan cepat saling akrab. Terus terang aku senang dengan mereka berdua. Dan tiba-tiba aku merasa berlaku aneh, apakah ini karena naluri perempuanku atau dasar genitku yang nggak pernah hilang sejak masih gadis dulu, hingga teman-temanku sering menyebutku sebagai perempuan gatal. Dan kini naluri genit macam itu tiba-tiba kembali hadir. Mungkin hal ini disebabkan oleh tingkah si Donny yang seakan-akan memberikan celah padaku untuk mengulangi peristiwa-peristiwa masa muda. Peristiwa-peristiwa penuh birahi yang selalu mendebarkan jantung dan hatiku. Ah, dasar perempuan tua yang nggak tahu diri, makian dari hatiku untukku sendiri. Tetapi gebu libidoku ini demikian cepat menyeruak ke darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yang langsung terasa bengap kemerahan menahan gejolak birahi mengingat masa laluku itu.

“Tante, jangan ngelamun. Cicak jatuh karena ngelamun, lho”.

Kami kembali terbahak mendengar kelakar Idang. Dan kulihat mata Donny terus menunjukkan minatnya pada bagian-bagian tubuhku yang masih mulus ini. Dan aku tidak heran kalau anak-anak muda macam Donny dan Idang ini demen menikmati penampilanku. Walaupun usiaku yang memasuki tahun ke 42 aku tetap “fresh” dan “good looking”. Aku memang suka merawat tubuhku sejak muda. Boleh dibilang tak ada kerutan tanda ketuaan pada bagian-bagian tubuhku. Kalau aku jalan sama Oke, suamiku, banyak yang mengira aku anaknya atau bahkan “piaraan”nya. Kurang asem, tuh orang. Dan suamiku sendiri sangat membanggakan kecantikkanku. Kalau dia berkesempatan untuk membicarakan istrinya, seakan-akan memberi iming-iming pada para pendengarnya hingga aku tersipu walaupun dipenuhi rasa bangga dalam hatiku. Beberapa teman suamiku nampak sering tergoda untuk mencuri pandang padaku. Tiba-tiba aku ada ide untuk menahan kedua anak ini.

“Hai, bagaimana kalau kalian makan siang di sini. Aku punya resep masakan yang gampang, cepat dan sedap. Sementara aku masak kamu bisa ngobrol, baca tuh majalah atau pakai tuh, komputer si oom. Kamu bisa main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang ‘enggak-enggak’, ya..”, aku tawarkan makan siang pada mereka.

Tanpa konsultasi dengan temannya si Donny langsung iya saja. Aku tahu mata Donny ingin menikmati sensual tubuhku lebih lama lagi. Si Idang ngikut saja apa kata Donny. Sementara mereka buka komputer aku ke dapur mempersiapkan masakanku. Aku sedang mengiris sayuran ketika tahu-tahu Donny sudah berada di belakangku.

Dia menanyaiku, “Tante dulu teman kuliah mamanya Idang, ya. Kok kayanya jauh banget, sih?”.

“Apanya yang jauh?, aku tahu maksud pertanyaan Donny.

“Iya, Tante pantesnya se-umur dengan teman-temanku”.

“Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Don”.

“Bener. Kalau nggak percaya tanya, deh, sama Idang”, lanjutnya sambil melototi pahaku.

“Tante hobbynya apa?”.

“Berenang di laut, skin dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV”.

“Ooo, pantesan”.

“Apa yang pantesan?”, sergapku.

“Pantesan body Tante masih mulus banget”.

Kurang asem Donny ini, tanpa kusadari dia menggiring aku untuk mendapatkan peluang melontarkan kata-kata “body Tante masih mulus banget” pada tubuhku. Tetapi aku tak akan pernah menyesal akan giringan Donny ini. Dan reaksi naluriku langsung membuat darahku terasa serr.., libidoku muncul terdongkrak. Setapak demi setapak aku merasa ada yang bergerak maju. Donny sudah menunjukkan keberaniannya untuk mendekat ke aku dan punya jalan untuk mengungkapkan kenakalan ke-lelakian-nya.

“Ah, mata kamu saja yang keranjang”, jawabku yang langsung membuatnya tergelak-gelak.

“Papa kamu, ya, yang ngajarin?, lanjutku.

“Ah, Tante, masak kaya gitu aja mesti diajarin”.

Ah, cerdasnya anak ini, kembali aku merasa tergiring dan akhirnya terjebak oleh pertanyaanku sendiri.

“Memangnya pinter dengan sendirinya?”, lanjutku yang kepingin terjebak lagi.

“Iya, dong, Tante. Aku belum pernah dengar ada orang yang ngajari gitu-gitu-an”.

Ah, kata-kata giringannya muncul lagi, dan dengan senang hati kugiringkan diriku.

“Gitu-gituan gimana, sih, Don sayang?”, jawabku lebih progresif.

“Hoo, bener sayang, nih?”, sigap Donny.

“Habis kamu bawel, sih”, sergahku.

“Sudah sana, temenin si Idang tuh, n’tar dia kesepian”, lanjutku.

“Si Idang, mah, senengnya cuma nonton”, jawabnya.

“Kalau kamu?”, sergahku kembali.

“Kalau saya, action, Tante sayang”, balas sayangnya.

“Ya, sudah, kalau mau action, tuh ulek bumbu tumis di cobek, biar masakannya cepet mateng”, ujarku sambil memukulnya dengan manis.

“Oo, beres, Tante sayang”, dia tak pernah mengendorkan serangannya padaku.

Kemudian dia menghampiri cobekku yang sudah penuh dengan bumbu yang siap di-ulek. Beberapa saat kemudian aku mendekat ke dia untuk melihat hasil ulekannya.

“Uh, baunya sedap banget, nih, Tante. Ini bau bumbu yang mirip Tante atau bau Tante yang mirip bumbu?”.

Kurang asem, kreatif banget nih anak, sambil ketawa ngakak kucubit pinggangnya keras-keras hingga dia aduh-aduhan. Seketika tangannya melepas pengulekan dan menarik tanganku dari cubitan di pinggangnya itu. Saat terlepas tangannya masih tetap menggenggam tanganku, dia melihat ke mataku. Ah, pandangannya itu membuat aku gemetar. Akankah dia berani berbuat lebih jauh? Akankah dia yakin bahwa aku juga merindukan kesempatan macam ini? Akankah dia akan mengisi gejolak hausku? Petualanganku? Nafsu birahiku?

Aku tidak memerlukan jawaban terlampau lama. Bibir Donny sudah mendarat di bibirku. Kini kami sudah berpagutan dan kemudian saling melumat. Dan tangan-tangan kami saling berpeluk. Dan tanganku meraih kepalanya serta mengelusi rambutnya. Dan tangan Donny mulai bergeser menerobos masuk ke blusku. Dan tangan-tangan itu juga menerobosi BH-ku untuk kemudian meremasi payudaraku. Dan aku mengeluarkan desahan nikmat yang tak terhingga. Nikmat kerinduan birahi menggauli anak muda yang seusia anakku, 22 tahun di bawah usiaku.

“Tante, aku nafsu banget lihat body Tante. Aku pengin menciumi body Tante. Aku pengin menjilati body Tante. Aku ingin menjilati nonok Tante. Aku ingin ngentot Tante”.

Ah, seronoknya mulutnya. Kata-kata seronok Donny melahirkan sebuah sensasi erotik yang membuat aku menggelinjang hebat. Kutekankan selangkanganku mepet ke selangkangnnya hingga kurasakan ada jendolan panas yang mengganjal. Pasti kontol Donny sudah ngaceng banget. Kuputar-putar pinggulku untuk merasakan tonjolannya lebih dalam lagi. Donny mengerang.Dengan tidak sabaran dia angkat dan lepaskan blusku. Sementara blus masih menutupi kepalaku bibirnya sudah mendarat ke ketiakku. Dia lumati habis-habisan ketiak kiri kemudian kanannya. Aku merasakan nikmat di sekujur urat-uratku. Donny menjadi sangat liar, maklum anak muda, dia melepaskan gigitan dan kecupannya dari ketiak ke dadaku. Dia kuak BH-ku dan keluarkan buah dadaku yang masih nampak ranum. Dia isep-isep bukit dan pentilnya dengan penuh nafsu. Suara-suara erangannya terus mengiringi setiap sedotan, jilatan dan gigitannya. Sementara itu tangannya mulai merambah ke pahaku, ke selangkanganku. Dia lepaskan kancing-kancing kemudian dia perosotkan hotpants-ku. Aku tak mampu mengelak dan aku memang tak akan mengelak. Birahiku sendiri sekarang sudah terbakar hebat. Gelombang dahsyat nafsuku telah melanda dan menghanyutkan aku. Yang bisa kulakukan hanyalah mendesah dan merintih menanggung derita dan siksa nikmat birahiku.

Begitu hotpants-ku merosot ke kaki, Donny langsung setengah jongkok menciumi celana dalamku. Dia kenyoti hingga basah kuyup oleh ludahnya. Dengan nafsu besarnya yang kurang sabaran tangannya memerosotkan celana dalamku. Kini bibir dan lidahnya menyergap vagina, bibir dan kelentitku. Aku jadi ikutan tidak sabar.

“Donny, Tante udah gatal banget, nih”.

“Copot dong celanamu, aku pengin menciumi kamu punya, kan”.

Dan tanpa protes dia langsung berdiri melepaskan celana panjang berikut celana dalamnya. Kontolnya yang ngaceng berat langsung mengayun kaku seakan mau nonjok aku. Kini aku ganti yang setengah jongkok, kukulum kontolnya. Dengan sepenuh nafsuku aku jilati ujungnya yang sobek merekah menampilkan lubang kencingnya. Aku merasakan precum asinnya saat Donny menggerakkan pantatnya ngentot mulutku. Aku raih pahanya biar arah kontolnya tepat ke lubang mulutku.

Ke bagian 5

Tags : cerita merangsang, mahasiswi bugil, cerita sexs, cerita ghairah, gambar telanjang, cerita berahi, setengah baya, telanjang gadis indonesia, gadis abg telanjang, artis bugil telanjang, video bugil artis indonesia, cerita 17 tahun keatas, cerita selingkuh, cerita malam pertama, cerita 17tahun


Cerita Merangsang – Mosaik Perselingkuhan Para Istri – 3

8 April 2010

Dari bagian 2

Peristiwa ketiga,

ZIARAH MENCARI BERKAH

Seharusnya Mas Ganjar lebih mensyukuri hidupnya. Keadaan ekonomi keluarga kami boleh dibilang tidak ada kekurangan. Rumah dan perabotannya, mobil, beberapa hektar tanah dan sawah di berbagai lokasi telah kami miliki. Sementara usahanya tetap berjalan baik walaupun keadaan ekonomi umumnya sedang mengalami kesulitan yang besar. Tetapi dia selalu merasa kurang, selalu resah dan gelisah. Sampai-sampai dia nggak pernah lagi menyempatkan untuk menggauli aku sebagai pengisi kerinduan serta menyalurkan libidoku yang relatip masih tinggi ini. Aku sih mencoba memaklumi sepanjang upaya untuk meraih harta yang lebih banyak lagi itu dilakukan secara nalar yang sehat, bukan dengan yang dia selalu tempuh selama ini.

Setiap ada masalah dia bukan memperbaiki cara kerjanya dan berdo’a tetapi dia pergi ke dukun-lah, orang sakti-lah, tidur di kuburan-lah, berendam di kali-lah. Aku sungguh tidak mengerti dari mana dia belajar cara-cara seperti itu. Minggu depan ini rencana dia akan ziarah ke sebuah makam keramat Mbah Rogo di desa Melati di lereng Gunung Merapi. Dia minta aku menemaninya. Menurut Mas Ganjar yang diberi tahu oleh “orang tua”nya yang diberi tahu oleh “orang tua”nya lagi yang diberi tahu oleh “orang tuan”nya lagi lagi dan seterusnya, Mbah Rogo adalah prajurit Diponegoro yang kalah perang kemudian bertapa di lereng Gunung Merapi tempat dia dimakamkan kini. Karena kesaktiannya banyak orang yang punya hajat berziarah tidur di samping makamnya. Dia bilang bahwa para jenderal, para menteri, para gubernur dan bupati yang meraih sukses pasti sebelumnya ziarah dan tidur di samping makam Mbah Rogo itu. Aku tertawa bingung dan geli, katanya sakti kok kalah perang. Dan tak lagi bisa tertahan ketawaku meledak saat Mas Ganjar juga berniat tidur di samping kuburan Mbah Rogo.

Kalau soal jalan sih, aku senang-senang saja, hitung-hitung rekreasi, apalagi ke gunung, yang sudah jadi hobby petualanganku sejak SMP dulu. Setiap liburan sekolah mainanku nggak lain camping ke gunung, sampai teman-temanku menjuluki aku sebagai “peri gunung”. Aku bilang jangan ajak aku di kuburannya, nanti malahan aku masuk angin jadi merepotkan. Mas Ganjar menghiburku, bahwa walaupun di lereng Gunung Merapi, di desa Melati itu sudah didirikan hotel berbintang karena para kerabat para jendral, menteri dan macam-macam tadi biasanya ikut mengantarkan mereka yang berniat ziarah. Aku dijanjikan untuk nginap saja di hotel berbintang itu.

Singkat kata, pada jam 5 sore di suatu hari yang telah ditetapkan sebuah mobil Kijang di mana Mas Ganjar bersama istrinya, aku, nampak memasuki gerbang desa Melati. Mas Ganjar yang nyopir seharian itu tidak menunjukkan kelelahan. AC mobil kami matikan karena udara desa ini sangat sejuk dan segar. Bahkan aku merasa kedinginan.

Dengan penuh semangat dia menuju alamat rumah dimana temannya yang juga datang dari Jakarta telah lebih dahulu tiba dan menunggu di sana. Sesudah tanya sana-sini akhirnya kami memasuki halaman sebuah rumah joglo yang luas dan indah. Dan semakin indah karena dari beranda rumah itu kami bisa menyaksikan puncak Gunung Merapi yang selalu mengeluarkan asapnya.

Sesudah memarkir mobil kami menemui seseorang yang kebetulan berada di situ, Mas Ganjar menanyakan apakah Mas Tardjo yang temannya sudah berada disini. Orang tadi bergegas masuk dan tak lama kemudian keluar disertai dua orang lain. Yang satu gagah dan tinggi besar dengan kumisnya yang tebal melintang dan yang lain biasa-biasa saja. Mereka menyambut hangat Mas Ganjar yang kemudian memperkenalkan aku pada Mas Tardjo, ternyata yang berkumis melintang dan Mas Sardi penduduk asli dari desa itu. Aku agak terganggu pada cara memandang Mas Tardjo pada diriku. Matanya sepertinya hendak menelanjangi tubuhku. Aku mudah tergetar dengan pandangan lelaki semacam itu. Walaupun aku berusaha untuk tidak menunjukkan kegugupanku tak urung jantungku berdegup kencang juga. Aku paham dan sering mengalami bahwa pada umumnya lelaki kalau memandang aku selalu memandang dari segi tubuhku. Aku memang tidak cantik, tetapi setiap orang baik lelaki atau perempuan selalu memuji aku sebagai wanita yang manis dan seksi. Apalagi kalau aku pakai celan jeans seperti sekarang ini. Sehingga aku tidak begitu heran saat Mas Tardjo memandangi aku sepertinya ingin menikmati tubuhku.

Kemudian Mas Tardjo bersama Mas Sardi menujukkan kamar kami di rumah itu. Aku langsung komplain pada suamiku, Mas Ganjar, yang katanya aku akan diinapkan di hotel berbintang. Dia tidak bisa menjawab dengan jelas kecuali bahwa hotel yang dimaksud masih dalam perencanaan. Sebentar lagi, katanya dengan enteng. Aku jadi agak sebel.

Tetapi ketika kami memasuki kamar di rumah joglo itu seketika sebelku hilang. Kamar ini bukan main indahnya. Dengan perabot dan dekorasi tradisional dari jendelaku kembali aku bisa menikmati Gunung Merapi yang mengepulkan asapnya itu. Aku langsung senang dan kerasan. Aku keluarkan dan gantung baju-bajuku untuk ganti selama di perjalanan ini. Sementara Mas Ganjar mengatur rencananya yang mulai malam ini akan “prihatin”an, makan, minum dan tidur di samping kuburan Mbah Rogo selama 3 hari 3 malam berturut-turut sampai hari Jum’at Kliwon yang kebetulan juga malam bulan purnama yang diyakininya sebagai hari yang paling keramat.

Sebelum pergi ke makam yang lokasi dan pucuk atapnya nampak dari rumah joglo ini Mas Ganjar pesan kalau aku memerlukan sesuatu bisa minta bantuan Mas Sardi yang selalu berada di joglo ini pula. Selebihnya Mas Ganjar tahu persis bahwa aku adalah perempuan yang sangat percaya diri karena dia adalah partnerku setiap kali kami naik gunung dan berbagai petualangan yang lain jaman sama-sama masih remaja di SMP dulu.

Sepergi Mas Tardjo aku duduk sendiri di pendopo dalam cahaya lampu minyak di meja kecil di depanku menikmati sejuknya lereng Gunung Merapi ini. Aku senang dan bahagia berkesempatan mengalami suasana indahnya pedesaan seperti ini. Dari arah timur bulan menjelang purnama muncul di langit cerah ini Sesekali dari kegelapan sedikit ke atas sana nampak lelehan panas yang sangat spektakuler, itulah lahar Merapi yang terus muntah membawa berkah dan sesekali bencana bagi masyarakat di sekitar gunung ini. Ah, alangkah nikmatnya seandainya Mas Ganjar bukan tidur di kuburan tetapi duduk disampingku sini sambil memeluk memberi kehangat pada tubuhku. Terus terang hampir 2 bulan lebih dia nggak pernah menyentuhku apalagi menggauliku. Sehari-hari pikirannya hanya dikejar uang, harta, uang, harta, uang, harta, uang.

Tiba-tiba aku jadi ingat pandangan haus mata Mas Tardjo tadi. Aku maklum, seorang lelaki kalau sudah lebih dari 1 minggu meninggalkan istrinya pasti memandang siapapun atau bahkan apapun akan nampak cantik adanya. Dan dari yang aku dengar tadi hari ini adalah hari yang kesepuluh dia berada di desa Melati ini. Tentu saat dia melihatku serasa melihat bidadari jatuh dari langit. Bulu kudukku berdiri, sepertinya ada angin dingin yang meniupkan birahi di malam dining di lereng Merapi ini. Kulihat dalam cahaya bulan sesorang bergegas memasuki halaman joglo. Ternyata dia Mas Tardjo. Dia langsung masuk rumah, mungkin ada sesuatu yang mau diambil dari kamarnya. Tetapi beberapa menit kemudian aku mendengar langkah kaki memasuki lantai pendopo dan mendekat ketempat aku duduk sendiri ini. Aku tebak pasti dia.

“Bu Ganjar belum ngantuk? Nggak capai sesudah seharian di perjalanan?”.

Kemudian dia duduk di kursi sebelah depanku. Dalam cahaya lampu minyak ini nampak kumisnya yang tebal melintang. Dalam cahaya remang-remang lampu minyak seperti ini aku tidak perlu menyembunyikan wajahku yang terasa bengap karena darahku naik terdorong oleh pikiran-pikiranku tadi dan sedikit banyak juga semakin terdorong saat tiba-tiba Mas Tardjo, lelaki haus ini kini berada sangat dekat denganku.

Terus terang hatiku belum pernah merasa sesepi ini. Dan yang lebih gila lagi belum pernah jantungku bergetar seperti ini saat seorang lelaki yang bukan suamiku ada di dekatku. Mungkin karena malam yang dingin ini, atau karena lampu minyak yang remang-remang di pendopo ini, atau karena cahaya bulan yang menerangi tanah basah halaman joglo ini, atau karena gairah libidoku yang telah lebih dari 2 bulan tak tersalurkan ini. Dan tiba-tiba rasa bahagiaku yang mengawali saat aku duduk di pendopo ini tadi berubah jadi derita dan siksa. Rasa percaya diriku yang tak diragukan oleh Mas Ganjar suamiku kurasakan oleng. Aku kehilangan ketegaranku yang sering kurasakan saat-saat pendakian di karang terjal, tak takut untuk jatuh. Kini aku takut jatuh. Bukan jatuh dari ketinggian, tetapi jatuh dalam sepi dan kehausan yang nisbi. Tanpa terasa air mataku menggenang di pelupuk mataku dan tiba-tiba wajahku tertelungkup di meja kecil di depanku sambil aku menangis sesenggukan. Tentu saja Mas Tardjo kaget. Pertanyaan yang dia lontarkan padaku tadi kujawab dengan tangisanku.

“Kenapa bu, Bu Ganjar sakit?”.

Kemudian dia menghampiriku, menyentuh bahuku, memeluknya, kemudian mengangkat agar aku tegak kembali.

“Sebaiknya Bu Ganjar istrirahat. Mari kuantarkan ke kamar Ibu”.

Aku nggak tahu kenapa aku setuju saja dengan usulannya. Saat aku dibimbingnya untuk berdiri dari kursi dan kemudian sedikit dipapah saat menuju ke kamarku aku merasakan semacam ketenangan dari sebuah tempat perlindungan. Mas Tardjo seakan menggantikan peran Mas Ganjar yang seharusnya dalam saat-saat seperti ini berada di dekatku. Tanpa sadar tanganku berpegangan pada pinggangnya dan seketika rasa hangat tubuhnya mengalir ke tubuhku. Aku merasa kamarku yang hanya beberapa meter dari pendopo seakan demikian jauh.

Perjalanan dalam papahan Mas Tardjo yang hanya beberapa langkah ini seakan bermil-mil. Dan saat berada tepat di depan pintu sepertinya aku masih ingin berjalan lebih jauh lagi, tubuhku semakin menggelendot pada papahan Mas Tardjo yang kemudian dengan sigapnya meraih kakiku kemudian menggendongku memasuki kamar dan menidurkan aku ke ranjang. Tanganku yang otomatis memeluk lehernya saat dia menggendongku tak kulepaskan ketika Mas Tardjo hendak bangkit turun dari ranjangku. Pelukan itu aku pererat bahkan kutarik wajahnya mendekat kewajahku. Aku menginginkan perlindungan yang lebih dari dia. Aku mencium pipinya dan kemudian bibirnya. Aku belum pernah mencium bibir berkumis karena suamiku tidak berkumis. Saat aku merasakan aneh pada bibirku karena kumisnya, Mas Tardjo langsung menyambut ciumanku dengan lumatannya yang aku rasakan sangat nikmat dan sekaligus menyejukkan gejolak birahiku. Malam itu kami benar-benar tidak tidur dan saat pakaian-pakaian kami terlepas dari tubuh kami juga tak sempat memakainya lagi. Menjelang matahari terbit yang ditandai ayam berkokok di dusun Melati di lereng Merapi ini kami tertidur telanjang dalam selimut tebal yang tersedia di ranjang kami. Sejak hari itu, selama 3 hari 3 malam Mas Ganjar “bertapa” di makam, aku dan Mas Tardjo terus menerus mendayung nikmat dalam samudra nafsu birahi kami yang melanda bak badai tornado di lautan bebas.

Dalam perjalanan pulang Mas Ganjar menceritakan bahwa dia mendapatkan wangsit dalam bentuk mimpi saat tertidur di makam. Dia seakan didatangi seorang kakek berjubah putih, dia adalah Mbah Rogo, yang memberikan pesan apabila permintaan Mas Ganjar ingin terpenuhi, dia harus memperbanyak “bertapa” dirumah dan memberikan amal lebih banyak kepada para karyawannya melalui gaji yang cukup dan membayar mereka tepat pada waktunya. Sekali lagi aku tertawa geli akan pesan Mbah Rogo yang begitu teknis dan detail. Dan lebih dari itu seakan Mbah Rogo tahu akan kehausan birahi dan penyelewenganku.

Sepulang dari dusun Melati di lereng Merapi itu, saat Mas Ganjar berada di rumah kami hampir-hampir tidak sempat memakai pakaian kami. Dan Mas Ganjar sendiri lebih sering berada di rumah serta tidak pernah lagi kluyuran mencari makam-makam keramat.
Ke bagian 4

Tags : cerita merangsang, cerita seks, cerita pemerkosaan, telanjang, cewek bugil, 3gp gratis, abg telanjang, telanjang gadis indonesia, artis bugil telanjang, video bugil artis indonesia, cantik telanjang,mahasiswi bugil,sma telanjang,cantik bugil


Pacarku Gadis Bule – 2

6 April 2010

Dari bagian 1

Setelah aku menghabiskan 4 kali permainan seks yang mengasyikkan malam itu. Pagi harinya aku menyiapkan sarapan pagi dan menghabiskan waktu pagi hari itu dengan mengobrol dan bercengkerama. Kami sama-sama tau bahwa walaupun kami sudah pernah berhubungan seks dengan orang lain tapi aku tetap menjaga kesehatan begitu pula dengan Hildy. Bahkan sempat dia menanyakan apakah aku pernah berhubungan seks dengan PSK (Pekerja Seks Komersil) aku bilang belum pernah. Mungkin dia takut kalau-kalau aku punya penyakit kelamin. Begitupun dengan dia, aku tanyakan juga pengalaman seksnya, karena aku takut terkena penyakit. Hildy bilang bahwa dia juga berusaha menjaga kesehatan.

Kami masih terus bercerita tentang masa kecilku dan masa kecilnya, pembicaraan terus berlanjut kepada masalah keluarga. Dengan cerita kami tersebut kami jadi tahu masing-masing kebiasaan dan seperti apa keluarga kami. Kami bercerita masih di atas ranjang bahkan Hildy hanya menggunakan celana dalam dan BHnya saja sedangkan aku celana pendek dan kaos oblong.

Menjelang siang hari, obrolan kami sudah ngelantur kesana kemari dan masih dengan celana dalam dan BHnya Hildy tiduran di ranjang, melihat itu akupun tidak tahan melihat kemulusan tubuhnya yang bule. Kudekati dia dan kucium bibirnya. Hildy membalas ciumanku, kami saling memainkan lidah di mulut kami sambil tak lupa aku meremas-remas payudaranya yang montok. Kemudian ciumanku berpindah dari mulut ke kuping dan kusedot-sedot kuping Hildy hingga membuatnya menggelinjang menahan birahi dan gairah di sekitar telinganya yang memang memberikan rangsangan sangat hebat. Kemudian ciumanku turun ke leher dan akhirnya di dua gundukan bukitnya. Dengan menyungkil kaitan BH di belakangnya terbukalah dua bukit yang aduhai. Kini kedua bukit itu makin jelas karena sinar di siang hari memberikan cahaya yang lebih terang.

Kuperhatikan dua bukit itu dengan seksama dan terlihat jelas sekali ada perbedaan warna antara badan dan di sekitar dua bukit itu. Karena HIldy sering berjemur ria di pantai maka terlihat bekas BH di kedua payudaranya memberikan warna yang sangat putih pucat dengan puting yang berwarna coklat muda. Tapi aku justru menyukai kulit payudaranya yang putih itu. Tanpa pikir panjang kusedot putingnya sambil tanganku yang satunya memainkan puting yang lainnya.

Lama aku memainkan putingnya hingga akhirnya tanganku yang satu turun ke bawah dan menyelusup ke balik celana dalam berwarna hitam. Kurasakan gundukan rambut halus di vagina Hildy, dan aku elus-elus rambut-rambut halus tersebut. Kemudian jari tengahku menyentuh klitorisnya dan ketika ku tarik elusan jari tanganku dari bawah ke atas (dari lubang vaginanya hingga ke klitoris) kurasakan vaginanya sudah basah dan ketika jari tanganku sampai di klitorisnya, Hildy menarik nafas panjang sambil mengeluarkan suara lenguhan.

Jari-jemariku semakin basah oleh cairan dari vagina Hildy dan mulutku masih memainkan putingnya. Aku mendengar suara lenguhan Hildy yang semakin keras dan akupun mempercepat memainkan klitorisnya setelah itu jari tengahku turun dan kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang surganya. Nafas Hildy semakin memburu dan lenguhannya semakin keras, apalagi saat jariku menyentuh dinding atas vaginanya di mana G-spot berada kata para pakar. Hildy semakin tidak dapat menahan rangsangan yang aku berikan walaupun hanya dengan jariku rangsangan yang dia terima begitu dasyat apalagi ketika kumasuk dan keluarkan jariku dari lubang vaginanya.

Hildy tidak dapat menahan dirinya lagi, dengan lenguhan yang semakin keras dan nafas yang memburu serta tidak beraturan Hildy menjerit merasakan orgasmenya yang pertama.

“..Oohh Har.. yess.. i am cumming” ternyata Hildy sudah mencapai orgasme yang pertamanya. Dalam hatiku aku bergumana ingin sekali tahu berapa kali Hildy memperoleh orgasmenya, akan kuhitung kali ini.

Aku tidak puas dengan jari-jari tanganku di vaginanya lalu aku beranjak dan melepaskan hisapanku dari payudaranya kemudian aku membuka celana dalam Hildy. Ketika celana dalamnya sudah merosot sekali lagi aku melihat tato indahnya yang persis di atas vagina di selangkangan. Lalu kucium lagi tato itu dan turun ke daerah lubang kewanitaannya. Karena siang hari sinarnya lebih terang kini aku dapat melihat dengan jelas bentuk dan warna vaginanya yang merah dan menantang. Aku membayangkan warna vaginanya mirip sekali dengan yang ada di film-film blue. Saat itu aku senang sekali karena dapat merasakan vagina bule yang selama ini aku impikan.

Kubuka belahan bibir vaginanya dan sebelum lidahku menjulur mencapai klitorisnya masih sempat aku melihat ke bagian dalam vaginanya yang begitu indah dan menggairahkan. Kucium aroma vaginanya dan kurasakan aroma itu begitu wangi dengan aroma yang lain daripada yang lain. Kubayangkan ternyata wanita yang suka merawat vaginanya memiliki aroma yang sangat wangi dan sangat menggairahkan sehingga tidak bosan-bosannya kucium aroma itu. Lalu aku cium dan kuhisap klitorisnya sambil kutarik-tarik dengan mulutku. Hildy semakin mengerang bukan lagi melenguh karena tarikan klitorisnya oleh mulutku membuatnya geli tak tertahankan. Lidahkupun turun ke bawah dan kumasukkan lidahku ke dalam lubang surganya. Lidahku bermain di dalam lubang itu dengan sekali-kali ujung lidahku kuarahkan ke bagian atas vaginanya dimana daerah sensitif itu berada.

Lama aku melakukan ciuman-ciuman dan jilatan di daerah kewanitaannya, hingga pada akhirnya aku merasakan kaki Hildy mulai menegang. Aku melirik ke arah wajah Hildy yang semakin memerah dan menegang raut mukanya. Aku tahu bahwa sebentar lagi orgasme keduanya akan datang, maka aku percepat jilatanku di dalam lubang dan klitorisnya. Tiba saatnya dia mengerang keras sambil pantat dan badannya terangkat dengan ditopang kedua tangannya.

“Oohh God.. I’m cumming Harr.. oohh yess.. bastard..”

Tercapailah orgasme keduanya aku senang sekali bisa membuatnya orgasme dua kali hanya diwaktu pemanasan. Kini aku membuka celana dan bajuku kemudian aku tiduran dan menyuruhnya untuk mengambil posisi di atas tubuhnya yang kecil ini. Sambil duduk di atas tubuhku Hildy memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan dia mulai menggoyang-goyangkan pantatnya maju mundur. Sambil matanya yang merem melek Hildy terus mengikuti irama pantatnya maju mundur, kudengar erangannya yang lembut. Untuk membuat sensasi baru tanganku memainkan klitorisnya sementara Hildy tetap melakukan irama goyangan maju mundur sambil duduk. Jari-jariku terus memainkan klitorisnya hingga kulihat Hildy mempercepat tempo gerakannya. Semakin cepat gerakan Hildy maka kupercepat pula jariku memainkan klitorisnya.

“Oohh.. yess..” pertahanan Hildy jebol untuk yang ketiga kalinya. Setiap kali dia orgasme aku menghitungnya di depan dia sehingga membuatnya tertawa dan sedikit malu-malu.

Keringat mengucur di tubuhku dan tubuh Hildy, aku melihat Hildy sudah begitu lemas dan sepertinya tidak dapat melakukan gerakan lagi di atas tubuhku. Sedangkan aku masih belum apa-apa, maka akupun mengambil alih posisi dengan menyuruhnya melakukan posisi nungging aku ingin melakukan doggy style. Dari belakang aku dapatmelihat belahan vaginanya kemudian kubuka kakinya lebar-lebar. Kucoba memasukkan penisku sendiri tapi ternyata sulit dan tanpa diperintah tangan Hildy membimbing penisku untuk memasuki vaginanya dan amblaslah penisku di dalam. Gerakkan maju mundur pantatku kulakukan dengan tempo yang tidak terlalu cepat. Aku merubah posisiku seperti nungging pula dan tanganku yang lainnya memainkan klitorinya sambil kugerakkan pantatku maju mundur dan sambil kusodok-sodok vaginanya. Hildy sudah tidak dapat menahan lagi untuk menerima orgasme yang keempat dan dengan cepat sekali Hildy sudah memperoleh orgasmenya yang keempat.

Aku sudah puas dengan posisi doggy style kemudian kusuruh Hildy untuk tiduran dan dia langsung membuka kakinya lebar-lebar. Karena penisku sudah menegang sekali maka tanpa kuarahkan dengan tanganku dengan mudahnya penisku dapat amblas di lubang vagina Hildy. Aku semakin beringas membuat gerakan maju mundur dan terkadang kuputar-putar pantatku sehingga penisku yang berada di dalam vaginanya menyentuh sekeliling dinding vaginanya. Semakin kuputar pantatku erangan Hildy semakin keras dan orgasmepun datang lagi. Aku merasa bangga dengan diriku karena bisa memuaskan seorang gadis bule yang besar. Aku masih menghitung setiap kali dia orgasme.

“You know, You’ve got 5 times orgasme and I want to give you 8 times orgasm..”

“Oohh.. Har you are too strong for me and I think I cannot stand it anymore”.

“I won’t stop it before you get more than 6 or 8 times”. Sambil irama gerakkannya tidak berubah aku sempat mengobrol dengannya.

Lama sudah kami bersetubuh dengan keringat yang terus mengucur hingga Hildy sudah mencapai orgasmenya yang ketujuh. Kini akupun tidak dapat menahan pertahananku, kurasakan akan jebol juga orgasmeku. Kupercepat gerakkanku dengan memutar-mutar pantatku.

“Hildy.. are you cumming? ..please cumm with me.. ooh.. i am cumming”.

“Yes.. let’s cum together.. oohh i am cumming.. oohh I crazy for you Har”

Kami sama-sama sudah tidak dapat menahan lagi orgasme kami yang kutunggu-tunggu itu. Aku sudah dapat menahan lagi orgasmeku, begitu pula dengan Hildy, dia semakin menjerit, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, maka akupun mengeluarkan kata-kata jorok untuk membuatnya lebih terangsang sehingga proses orgasmenya akan lebih cepat lagi. Ketika puncakku akan datang kutarik penisku dari dalam vaginanya dan kutumpahkan spermaku di atas perutnya sambil tanganku masih sempat memainkan klitorinya dan mulutku menciumnya dengan buas agar proses orgasme kami berbarengan. Kami sama-sama mengeluarkan erangan yang keras. Kemudian kamipun sama-sama lemas dan aku terkulai lemas di sampingnya.

“Har, I’ve never got cumm 8 times, this is the first time I got it.. ohh you are so strong..”

“Thanks Hildy.., but you see this is proof that even Indonesian is small but strong.. he he.. do you agree with that?”.

“Yes I agree with you he he..”

“So don’t look that I am small man but I can make you satisfy many times.., and you know the next door my friend when she fucked with a tall guy and big one and western guy but she never satisfy.. so I am better then him.. he he.. sorry am just teasing you”.

“I know you just teasing me but anyway that is true Har.. cause most of them do not care about our satifaction”.

Kami mengobrol tentang sex dan aku selalu memberikan komentar tentang diriku dan keperkasaan orang Indonesia, aku berbuat seperti itu karena selain badanku kecil dan kebanyakan orang Indonesia seukuran denganku (mayoritas) tapi keperkasaannya terkadang lebih jantan daripada orang bule yang berbadan besar. Kini Hildy dapat menyadari bahwa walaupun orang Indonesia kecil tapi mereka perkasa dan dia kini beranggapan bahwa tidak semua orang besar dengan penis besar dapat memuaskan perempuan.

Hingga siang hari lewat kami lupa untuk makan siang karena keasyikan ngobrol, kemudian akupun mengantarnya pulang ke rumahnya. Di rumahnya kami ngobrol lagi dan teman-temannya melihat kami akrab kemudian mereka memberikan senyuman yang menurutku penuh dengan arti. Hildy melirik kepada mereka dan kemudian dia menghampiri mereka dan tertawa. Aku sangat ingin sekali apa yang mereka bicarakan dan aku dapat jawabannya ketika kawannya yang bernama Natalie datang menghampiriku.

“Hildy said that you are so strong.. he he.. how big is your cock Har”

Aku tidak menjawabnya hanya dengan senyuman karena malunya yang gak ketulungan. Setelah mengobrol dengan topik yang lain kemudian Natalie pamitan.

“Ok strongman, see you in a bit”

“See you, bye”

Tak lama Natalie pergi Hildy menghampiriku lagi dan dia sudah bersiap-siap untuk mandi. Hildy mengajakku mandi bareng, tentu saja aku senang sekali dengan ajakannya. Kamipun pergi ke kamar mandi sama-sama dan mandi bareng dengan saling mengguyur badan kami dan Hildy menyabuniku dan memandikanku begitu pula aku menyirami badannya.

Kamipun sama-sama pergi ke tempat pertemuan kami untuk makan malam bersama. Itulah pengalamanku yang sangat mengasyikkan dan setelah kejadian itu aku tidak pernah mengalami pengalaman yang serupa lagi di tahun-tahun berikutnya. Hanya sebatas ciuman dan remasan saja aku mengalami dengan bule tidak sampai berhubungan seks. Bahkan ketika aku punya pacar lagi orang bule kami hanya sebatas ciuman dan remasan di daerah sensitifnya, kami tidak melakukan seks karena pacarku itu bilang bahwa dia masih perawan dan aku percaya karena umurnya masih sangat muda walaupun sudah tamat dari Universitas.

E N D

Tags : cerita merangsang, cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,gadis cantik, telanjang gadis indonesia, gadis abg telanjang, cewek jakarta, abg bugil, bugil asia, cewek indonesia bugil, gambar cewek bugil, video indonesia bugil


Cerita Merangsang – Gairah bapak kos

5 April 2010

Pagi itu kulihat Oom Pram sedang merapikan tanaman di kebun, dipangkasnya daun-daun yang mencuat tidak beraturan dengan gunting. Kutatap wajahnya dari balik kaca gelap jendela kamarku. Belum terlalu tua, umurnya kutaksir belum mencapai usia 50 tahun, tubuhnya masih kekar wajahnya segar dan cukup tampan. Rambut dan kumisnya beberapa sudah terselip uban. Hari itu memang aku masih tergeletak di kamar kostku. Sejak kemarin aku tidak kuliah karena terserang flu. Jendela kamarku yang berkaca gelap dan menghadap ke taman samping rumah membuatku merasa asri melihat hijau taman, apalagi di sana ada seorang laki-lai setengah baya yang sering kukagumi. Memang usiaku saat itu baru menginjak dua puluh satu tahun dan aku masih duduk di semester enam di fakultasku dan sudah punya pacar yang selalu rajin mengunjungiku di malam minggu. Toh tidak ada halangan apapun kalau aku menyukai laki-laki yang jauh di atas umurku.

Tiba-tiba ia memandang ke arahku, jantungku berdegup keras. Tidak, dia tidak melihaku dari luar sana. Oom Pram mengenakan kaos singlet dan celana pendek, dari pangkal lengannya terlihat seburat ototnya yang masih kecang. Hari memang masih pagi sekitar jam 9:00, teman sekamar kostku telah berangkat sejak jam 6:00 tadi pagi demikian pula penghuni rumah lainnya, temasuk Tante Pram istrinya yang karyawati perusahaan perbankan.

Memang Oom Pram sejak 5 bulan terakhir terkena PHK dengan pesangon yang konon cukup besar, karena penciutan perusahaannya. Sehingga kegiatannya lebih banyak di rumah. Bahkan tak jarang dia yang menyiapkan sarapan pagi untuk kami semua anak kost-nya. Yaitu roti dan selai disertai susu panas. Kedua anaknya sudah kuliah di luar kota. Kami anak kost yang terdiri dari 6 orang mahasiswi sangat akrab dengan induk semang. Mereka memperlakukan kami seperti anaknya. Walaupun biaya indekost-nya tidak terbilang murah, tetapi kami menyukainya karena kami seperti di rumah sendiri. Oom Pram telah selesai mengurus tamannya, ia segera hilang dari pemandanganku, ah seandainya dia ke kamarku dan mau memijitku, aku pasti akan senang, aku lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari obat-obatan. Biasanya ibuku yang yang mengurusku dari dibuatkan bubur sampai memijit-mijit badanku. Ah.. andaikan Oom Pram yang melakukannya…

Kupejamkan mataku, kunikmati lamunanku sampai kudengar suara siulan dan suara air dari kamar mandi. Pasti Oom Pram sedang mandi, kubayangkan tubuhnya tanpa baju di kamar mandi, lamunanku berkembang menjadi makin hangat, hatiku hangat, kupejamkan mataku ketika aku diciumnya dalam lamunan, oh indahnya. Lamunanku terhenti ketika tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamarku, segera kutarik selimut yang sudah terserak di sampingku. “Masuk..!” kataku. Tak berapa lama kulihat Oom Pram sudah berada di ambang pintu masih mengenakan baju mandi. Senyumnya mengambang “Bagaimana Lina? Ada kemajuan..?” dia duduk di pinggir ranjangku, tangannya diulurkan ke arah keningku. Aku hanya mengangguk lemah. Walaupun jantungku berdetak keras, aku mencoba membalas senyumnya. Kemudian tangannya beralih memegang tangan kiriku dan mulai memjit-mijit.

“Lina mau dibikinkan susu panas?” tanyanya.

“Terima kasih Oom, Lina sudah sarapan tadi,” balasku.

“Enak dipijit seperti ini?” aku mengangguk.VDia masih memijit dari tangan yang kiri kemudian beralih ke tangan kanan, kemudian ke pundakku. Ketika pijitannya berpindah ke kakiku aku masih diam saja, karena aku menyukai pijitannya yang lembut, disamping menimbulkan rasa nyaman juga menaikkan birahiku. Disingkirkannya selimut yang membungkus kakiku, sehingga betis dan pahaku yang kuning langsat terbuka, bahkan ternyata dasterku yang tipis agak terangkat ke atas mendekati pangkal paha, aku tidak mencoba membetulkannya, aku pura-pura tidak tahu.

“Lin kakimu mulus sekali ya.”

“Ah.. Oom bisa aja, kan kulit Tante lebih mulus lagi,” balasku sekenanya.

Tangannya masih memijit kakiku dari bawah ke atas berulang-ulang. Lama-lama kurasakan tangannya tidak lagi memijit tetapi mengelus dan mengusap pahaku, aku diam saja, aku menikmatinya, birahiku makin lama makin bangkit.

“Lin, Oom jadi terangsang, gimana nih?” suaranya terdengar kalem tanpa emosi.

“Jangan Oom, nanti Tante marah..”

Mulutku menolak tapi wajah dan tubuhku bekata lain, dan aku yakin Oom Pram sebagai laki-laki sudah matang dapat membaca bahasa tubuhku. Aku menggelinjang ketika jari tangannya mulai menggosok pangkal paha dekat vaginaku yang terbungkus CD. Dan… astaga! ternyata dibalik baju mandinya Oom Pram tidak mengenakan celana dalam sehingga penisnya yang membesar dan tegak, keluar belahan baju mandinya tanpa disadarinya. Nafasku sesak melihat benda yang berdiri keras penuh dengan tonjolan otot di sekelilingnya dan kepala yang licin mengkilat. Ingin rasanya aku memegang dan mengelusnya. Tetapi kutahan hasratku itu, rasa maluku masih mengalahkan nafsuku.

Oom Pram membungkuk menciumku, kurasakan bibirnya yang hangat menyentuh bibirku dengan lembut. Kehangatan menjalar ke lubuk hatiku dan ketika kurasakan lidahnya mencari-cari lidahku dan maka kusambut dengan lidahku pula, aku melayani hisapan-hisapannya dengan penuh gairah. Separuh tubuhnya sudah menindih tubuhku, kemaluannya menempel di pahaku sedangkan tangan kirinya telah berpindah ke buah dadaku. Dia meremas dadaku dengan lembut sambil menghisap bibirku. Tanpa canggung lagi kurengkuh tubuhnya, kuusap punggungnya dan terus ke bawah ke arah pahanya yang penuh ditumbuhi rambut. Dadaku berdesir enak sekali, tangannya sudah menyelusup ke balik dasterku yang tanpa BH, remasan jarinya sangat ahli, kadang putingku dipelintir sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa.

Nafasku makin memburu ketika dia melepas ciumannya. Kutatap wajahnya, aku kecewa, tapi dia tersenyum dibelainya wajahku.

“Lin kau cantik sekali..” dia memujaku.

“Aku ingin menyetubuhimu, tapi apakah kamu masih perawan..?” aku mengangguk lemah.

Memang aku masih perawan, walaupun aku pernah “petting” dengan kakak iparku sampai kami orgasme tapi sampai saat ini aku belum pernah melakukan persetubuhan. Dengan pacarku kami sebatas ciuman biasa, dia terlalu alim untuk melakukan itu. Sedangkan kebutuhan seksku selama ini terpenuhi dengan mansturbasi, dengan khayalan yang indah. Biasanya dua orang obyek khayalanku yaitu kakak iparku dan yang kedua adalah Oom Pram induk semangku, yang sekarang setengah menindih tubuhku. Sebenarnya andaikata dia tidak menanyakan soal keperawanan, pasti aku tak dapat menolak jika ia menyetubuhiku, karena dorongan birahiku kurasakan melebihi birahinya. Kulihat dengan jelas pengendalian dirinya, dia tidak menggebu dia memainkan tangannya, bibirnya dan lidahnya dengan tenang, lembut dan sabar. Justru akulah yang kurasakan meledak-ledak.

“Bagaimana Lin? kita teruskan?” tangannya masih mengusap rambutku, aku tak mampu menjawab.

Aku ingin, ingin sekali, tapi aku tak ingin perawanku hilang. Kupejamkan mataku menghindari tatapanbya.

“Oom… pakai tangan saja,” bisikku kecewa.

Tanpa menunggu lagi tangannya sudah melucuti seluruh dasterku, aku tinggal mengenakan celana dalam, dia juga telah telanjang utuh. Seluruh tubuhnya mengkilat karena keringat, batang kemaluannya panjang dan besar berdiri tegak. Diangkatnya pantatku dilepaskannya celana dalamku yang telah basah sejak tadi. Kubiarkan tangannya membuka selangkanganku lebar-lebar. Kulihat vaginaku telah merekah kemerahan bibirnya mengkilat lembab, klitorisku terasa sudah membesar dan memerah, di dalam lubang kemaluanku telah terbanjiri oleh lendir yang siap melumasi, setiap barang yang akan masuk.

Oom Pram membungkuk dan mulai menjilat dinding kiri dan kanan kemaluanku, terasa nikmat sekali aku menggeliat, lidahnya menggeser makin ke atas ke arah klitosris, kupegang kepalanya dan aku mulai merintih kenikmatan. Berapa lama dia menggeserkan lidahnya di atas klitosriku yang makin membengkak. Karena kenikmatan tanpa terasa aku telah menggoyang pantatku, kadang kuangkat kadang ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba Oom Pram melakukan sedotan kecil di klitoris, kadang disedot kadang dipermainkan dengan ujung lidah. Kenikmatan yang kudapat luar biasa, seluruh kelamin sampai pinggul, gerakanku makin tak terkendali, “Oom… aduh.. Oom… Lin mau keluar….” Kuangkat tinggi tinggi pantatku, aku sudah siap untuk berorgasme, tapi pada saat yang tepat dia melepaskan ciumannya dari vagina. Dia menarikku bangun dan menyorongkan kemaluannya yang kokoh itu kemulutku. ” Gantian ya Lin.. aku ingin kau isap kemaluanku.” Kutangkap kemaluannya, terasa penuh dan keras dalam genggamanku. Oom Pram sudah terlentang dan posisiku membungkuk siap untuk mengulum kelaminnya. Aku sering membayangkan dan aku juga beberapa kali menonton dalam film biru. Tetapi baru kali inilah aku melakukannya.

Birahiku sudah sampai puncak. Kutelusuri pangkal kemaluannya dengan lidahku dari pangkal sampai ke ujung penisnya yang mengkilat berkali-kali. “Ahhh… Enak sekali Lin…” dia berdesis. Kemudian kukulum dan kusedot-sedot dan kujilat dengan lidah sedangkan pangkal kemaluannya kuelus dengan jariku. Suara desahan Oom Pram membuatku tidak tahan menahan birahi. Kusudahi permainan di kelaminnya, tiba-tiba aku sudah setengah jongkok di atas tubuhnya, kemaluannya persis di depan lubang vaginaku. “Oom, Lin masukin dikit ya Oom, Lin pengen sekali.” Dia hanya tersenyum. “Hati-hati ya… jangan terlalu dalam…” Aku sudah tidak lagi mendengar kata-katanya. Kupegang kemaluannya, kutempelkan pada bibir kemaluanku, kusapu-sapukan sebentar di klitoris dan bibir bawah, dan… oh, ketika kepala kemaluanya kumasukan dalam lubang, aku hampir terbang. Beberapa detik aku tidak berani bergerak tanganku masih memegangi kemaluannya, ujung kemaluannya masih menancap dalam lubang vaginaku. Kurasakan kedutan-kedutan kecil dalam bibir bawahku, aku tidak yakin apakah kedutan berasal dariku atau darinya.

Kuangkat sedikit pantatku, dan gesekan itu ujung kemaluannya yang sangat besar terasa menggeser bibir dalam dan pangkal klitoris. Kudorong pinggulku ke bawah makin dalam kenikmatan makin dalam, separuh batang kemaluannya sudah melesak dalam kemaluanku. Kukocokkan kemaluannya naik-turun, tidak ada rasa sakit seperti yang sering aku dengar dari temanku ketika keperawanannya hilang, padahal sudah separuh. Kujepit kemaluannya dengan otot dalam, kusedot ke dalam. Kulepas kembali berulang-ulang. “Oh.. Lin kau hebat, jepitanmu nimat sekali.” Kudengar Oom Pram mendesis-desis, payudaraku diremas-remas dan membuat aku merintih-rintih ketika dalam jepitanku itu. Dia mengocokkan kemaluannya dari bawah. Aku merintih, mendesis, mendengus, dan akhirnya kehilangan kontrolku. Kudorong pinggulku ke bawah, terus ke bawah sehingga penis Oom Pram sudah utuh masuk ke vaginaku, tidak ada rasa sakit, yang ada adalah kenikmatan yang meledak-ledak.Dari posisi duduk, kurubuhkan badanku di atas badannya, susuku menempel, perutku merekat pada perutnya. Kudekap Oom Pram erat-erat. Tangan kiri Oom Pram mendekap punggungku, sedang tangan kanannya mengusap-usap bokongku dan analku. Aku makin kenikmatan. Sambil merintih-rintih kukocok dan kugoyang pinggulku, sedang kurasakan benda padat kenyal dan besar menyodok-nyodok dari bawah.

Tiba-tiba aku tidak tahan lagi, kedutan tadinya kecil makin keras dan akhirnya meledak. “Ahhh…” Kutekan vaginaku ke penisnya, kedutannya keras sekali, nimat sekali. Dan hampir bersamaan dari dalam vagina terasa cairan hangat, menyemprot dinding rahimku. “Ooohhh…” Oom Pram juga ejakulasi pada saat yang bersamaan. Beberapa menit aku masih berada di atasnya, dan kemaluannya masih menyesaki vaginaku. Kurasai vaginaku masih berkedut dan makin lemah. Tapi kelaminku masih menyebarkan kenikmatan.

Pagi itu keperawananku hilang tanpa darah dan tanpa rasa sakit. Aku tidak menyesal.

END

Tags : cerita merangsang, cerita ngentot, artis bugil, video bokep, tante bugil, cerita sexs,gadis cantik, telanjang gadis indonesia, gadis abg telanjang, cewek jakarta, artis bugil telanjang, artis bugil blogspot com, video bugil artis indonesia, gadis indonesia telanjang, abg bugil telanjang 3gp, cewek cantik telanjang bugil


Cerita Merangsang – Diperbudak Nyonya – 1

4 April 2010

Sebelumnya perkenalkan, aku adalah seorang pria yang sebut saja Reno dengan umur 28 tahun. Aku merupakan pria yang memiliki wajah lumayan ganteng dan tubuh yang kekar dengan tinggi 185 cm dan berat 81 kg. Tetapi pengalaman ini telah terjadi 3 tahun yang lalu saat aku masih berusia 25 tahun. Pengalaman yang aku alami sangat menyakitkan karena aku diperbudak oleh tiga orang nyonya yang haus sex sekaligus. Bukan hanya satu hari, dua hari atau tiga hari saja, tetapi dalam wakti satu minggu atau tujuh hari.

Cerita bermula ketika aku baru datang dari daerahku di daerah Sulawesi. Waktu aku datang, aku tidak memiliki pekerjaan yang pasti dan uang yang aku bawa hanya pas-pasan. Paling-paling uang tersebut hanya bisa untuk makan tiga hari saja. Aku memberanikan diri datang ke Jakarta karena kata temanku mendapat pekerjaan di Jakarta mudah asal mau melakukan apa saja semua bisa diatur.

Ketika hari sudah malam dan sepi, mungkin sekitar pukul 9 malam. Aku sudah tidak tahu mau kemana lagi. Tiba-tiba saja ada seorang wanita naik mobil Mercy menghampiri aku. Menanyakan keadaan aku, siapa namaku, dan asal aku. Dari penampilannya dia terlihat baik, anggun, cantik, sopan, dan sekitar berumur 36 tahun. Dia adalah Nyonya Lenny. Setelah sedikit kenal aku tahu bahwa dia seorang janda tanpa anak. Dia tinggal di daerah Pondok Indah. Dia adalah seorang Direktris dari sebuah Perusahaan Swasta terkenal di Jakarta.

Aku diperbolehkan tinggal di rumahnya. Dan aku bekerja sebagai supir pribadinya. Tanpa test apapun aku diterimanya bekerja. Untunglah kataku, karena aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi termasuk uang. Di rumah Nyonya Lenny aku diberi makan dan pakaian yang layak. Sedangkan barang-barang yang aku bawa sudah dibuang seluruhnya atas perintah Nyonya Lenny. Karena ia suka pada kebersihan rumah dan seseorang. Ya aku tidak memikirkannya, karena semua sudah diberikan oleh Nyonya Lenny. Barang-barangku tidak penting, hanya sebuah baju, celana, dan celana dalam yang kupakai. Sedangkan yang kubawa tertinggal di Stasiun Kereta waktu aku datang. Aku merasa beruntung karena bertemu dengan Nyonya Lenny.

Aku sudah bekerja dengan Nyonya Hanna selama 2 bulan berjalan. Hari ini aku disuruhnya menjemput dua orang temannya di Bandara. Mereka datang dari daerah Bandung dan akan menginap kurang lebih selama satu mingguan di rumah Nyonya Lenny. Setelah aku mengantar Nyonya Lenny ke kantor, aku langsung menuju ke Bandara untuk menjemput kedua temannya. Aku tidak kesulitan menemukan mereka, karena aku sudah memiliki foto-foto mereka. Dari foto terlihat mereka seorang Nyonya-nyonya yang cantik dan muda. Yang satu bernama Lola dan yang satu bernama Lina.

Lalu mereka aku antar langsung ke tempat Nyonya Lenny di kantornya. Mereka banyak mengobrol dan melepas kangen mereka. Setelah diberitahu oleh Nyonya Lenny ternyata yang bernama Lina berumur 34 tahun dan bekerja sebagai Kapten pada sebuah kantor kepolisian. Lola adalah seorang waria yang bekerja pada sebuah salon kecantikan dan berumur 30 tahun tanpa operasi, jadi masih memiliki penis tetapi Nyonya Lola memiliki payudara, makanya dia disebut waria. Nyonya Lenny juga berpesan agar aku juga menuruti perintah kedua nyonya temannya itu, seperti aku mematuhi perintah Nyonya Lenny. Aku hanya bisa patuh dan tentunya mengiyakan.

Hari ini aku diberitahukan bahwa Nyonya Lenny harus dijemput pukul lima tepat. Sedangkan para karyawan lain pada hari ini dipulangkan lebih cepat pada pukul 3 sore. Mungkin sekitar pukul 4 sore sudah tidak ada karyawan lagi selain Nyonya Lenny dan kedua temannya, yaitu Nyonya Lina dan Nyonya Lola. Selama dua jam mereka berbincang-bincang serius dan sepertinya akan merencanakan sesuatu dalam jangka panjang. Tapi apa rencana mereka aku sendiri tidak tahu. Karena aku pikir itu bukanlah urusan aku. Itukan urusan para Bos-bos besar. Sedangkan aku hanya seorang supir.

Setelah pukul lima tepat aku sudah sampai di kantor Nyonya Lenny. Dari luar terlihat sepi, karena tidak ada satu mobil pun di luar. Hanya lampu di ruang kerja Nyonya Lenny saja yang masih menyala, sedangkan yang lainnya sudah dipadamkan. Lalu aku menuju ruang kerja Nyonya Lenny dan mengetuk pintu.

Lalu terdengar suara “Silakan Masuk!!” kata Nyonya Lenny.

“Selamat Sore, Bu,” kataku menyapa Nyonya Lenny.

“Apa yang harus saya lakukan, Bu?” tanya aku kepadanya.

“Hari ini kamu harus patuh kepada kami” dengan nada suara yang sedikit membentak.

“Baik, Bu saya akan patuh kepada ibu”

Mendengar kataku mereka bertiga malah tertawa terbahak-bahak. Lalu Nyonya Hanna menyuruhku untuk menandatangani sebuah kertas yang aku sendiri tidak tahu apa isinya. Karena aku sedikit takut, aku langsung saja menandatangani surat tersebut secara langsung.

“Bagus sekali!!” katanya sambil mereka tertawa senang Ha.. Ha.. Ha..!!

Setelah aku menadatangani surat yang sah karena diatas materai, mereka menyuruhku untuk membaca surat yang baru saja aku tanda tangani tadi. Betapa terkejut dan kagetnya aku. Didalam surat tersebut menuliskan aku harus sanggup dan tanpa paksaan harus melayani keinginan dan kepuasan sex mereka berdua tanpa batas. Surat ini dibuat tanpa paksaan karena aku masih memiliki setumpuk hutang-hutang yang harus aku lunasi. Dalam surat itu juga menuliskan kalau aku seorang budak mereka yang harus patuh. Hatiku jadi menjerit tapi pasrah atas tindakan dan sikap mereka. Memang aku dalam bekerja dua bulan ini sudah meminjam beberapa kali kepada Nyonya Lenny untuk memeberikan uang kepada orangtuaku yang sakit dan untuk membiayai sekolah dua orang adikku.

“Nah, Sekarang kamu buka siapa-siapa lagi. Kamu adalah budak sex kami. Karena kamu punya banyak hutang,” kata Nyonya Lenny kepadaku.

“Iya, Bu” kataku pelan dan pasrah.

“Kau memang penurut. Lagi pula kalaupun kau tidak mau, apa yang bisa kau perbuat. Semua yang kau miliki sekarang adalah milikku. Kau tidak punya apa-apa lagi, termasuk baju dan celana kamu, bahkan celana dalam kamu pun milikku. Ha.. Ha.. Ha..!!” Mereka tertawa penuh kemenangan.

“Ya, Bu saya akan patuh pada perintah ibu.”

“BUKAN IBU!!” bentak Nyonya Lenny, “Sekarang kamu harus memanggil kami dengan sebutan NYONYA”

“Kamu mengerti!!” bentak Nyonya Lenny Lagi.

“Baik, nyonya,” kataku pelan.

Permainan akan segera dimulai. Aku hanya pasrah. Walaupun aku memiliki tubuh yang kekar dan atletis aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka. Karena aku takut dan harus patuh kepada mereka. Walaupun aku mau lapor ke polisi juga susah karena Nyonya Lina adalah Seorang Kapten Polisi yang terkenal Killer.

Permainan segera dimulai. Baik sekarang, “Buka baju kemejamu!!” bentak Nyonya Lenny.

Aku segera membuka kancing kemeja yang aku kenakan. Mereka sangat menyukai tubuhku. Karena tubuhku atletis dan kekar. Dada dan perutku terawat dengan baik, apalagi aku juga dibiayai untuk fitness oleh Nyonya Lenny agar aku sehat dan bugar dalam menyetir. Setelah aku telanjang dada, lalu Nyonya Lenny menyuruhku untuk melepas sepatu dan kaos kaki yang aku kenakan dan jam tanganku juga aku lepaskan. Lalu Nyonya Lola yang waria menyuruhku untuk membuka celanaku. Tapi aku hanya diam saja dan tidak menghiraukannya. Tapi aku malah mendapat marah dari Nyonya Lenny dan dia melempar aku dengan sebuah spidol yang ada diatas mejanya.

“Kamu harus patuh pada temanku, Nyonya Lola,” bentak Nyonya Lenny.

“Sekarang lepas celana panjangmu!!”

“CEPAT!!” bentak Nyonya Lenny.

Melihat aku melepas celana panjangku, Nyonya Lola tertawa bahagia penuh kemenangan. Sekarang aku hanya mengenakan celana dalam saja yang berwarna putih. Mata mereka tertuju kearah tubuh dan penisku yang masih terbungkus dengan celana dalam yang masih kukenakan.

Lalu Nyonya Lina menghampiriku dan memelintir tanganku ke belakang. Lalu Nyonya Lina mengeluarkan borgolnya dan memborgol kedua tanganku ke belakang. Sedangkan Nyonya Lola mengambil gunting dan mengunting celana dalam yang aku kenakan. Sekarang aku sudah dalam keadaan polos tidak ada sehelai pun yang ada di tubuhku. Mereka puas dan tertawa melihat aku dalam keadaan bugil. Semua pakaianku disita oleh Nyonya Lenny dan dimasukkan dalam lemari besi pada ruangannya.

Lalu aku di dudukkan di kursi dalam keadaan tangan di borgol dan mata ditutup dengan sehelai kain. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan kepadaku. Tiba-tiba ada yang memegang penisku. Rupanya salah satu dari mereka sedang mencukur bulu kemaluanku. Kini bulu kemaluanku pun sudah bersih, kini aku tidak memiliki bulu lagi disekitar penis. Lalu penisku juga dicengkram dan dikocok-kocok dengan kuat.

Hampir saja aku keluar, tapi semua itu dapat kutahan sementara. Penisku kini sudah tegak, tegang, dan memerah. Lalu mereka mengikat penisku dimulai dari bola pelir. Mereka ikat secara terpisah dan diikat keduanya secara bersama dengan disatukan. Begitu juga dengan kepala penisku, mereka ikat dengan pengunakan bahan dari karet sehingga kepala penisku benar-benar terikat dengan kuat. Sehingga penisku tidak mau melemas. Selain itu mereka juga memberikan aku obat kuat berupa tiga butir yang harus aku minum. Mungkin hal itu yang membuat penis aku dapat tegang lama. Dan mereka mengatakan bahwa aku harus minum obat ini sehari dua kali sebanyak tiga butir.

Lalu mereka menjepit kedua puting susuku dan dihubungkan pada tali di kepala penisku. Aku benar-benar tidak berdaya dan pasrah karena tanganku masih diborgol dan mataku masih tertutup kain. Seketika mereka membuka tutup mataku dan juga borgolku. Lalu mereka menyuruhku bergaya dengan beberapa gaya. Aku pun menurut. Lalu kilatan lampu blitz memancar kearah aku. Mereka memotret aku dalam keadaan seperti itu. Mereka memotretku dengan kamere digital dan juga merekam dengan handycam.

Akupun diancam tidak boleh macam-macam, karena foto-foto bugil aku akan disebar jika aku bertindak macam-macam. Termasuk mereka juga akan menyerahkan fotoku kepada keluaragaku di kampung. Mendengar itu, aku semakin menuruti semua keinginan mereka. Kini aku duduk sambil berlutut, karena hanya seperti itu hak dan tempatku sekarang.

Sekarang aku dipakaikan kalung anjing lengkap dengan rantai pengiringnya. Selain itu mereka juga membungkam dan menutup mulutku alat penutup yang menyerupai bola, sehingga mulutku terbuka. Lalu aku disuruh merangkak layaknya seekor anjing. Setiap gerak-gerikku sudah terekam baik dalam foto maupun kamera.

Sekarang mereka membawa aku keluar kantor dengan menarik rantai pada leher aku. Aku berjalan di depan mereka, sesekali mereka menendang dan mencambuk pantatku dan pnggungku sewaktu aku berjalan lambat ataupun terlalu cepat. Kami berjalan menuju mobil yang sudah kuparkir. Keadaan kantor sudah sepi dan aman termasuk ruang parkir hanya ada mobil Nyonya Lenny saja. Karena satpam juga sudah diperbolehkan pulang sejak jam tiga tadi.
Ke bagian 2

Tags : cerita merangsang, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang, telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cari gambar, gambar foto


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.