Cerita Merangsang – Maria…. Maria….

20 Juni 2010

Maria. Itu namaku. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan ketika aku berusia 11 tahun. Saat itu, aku benar-benar sendirian. Rasa takut dan kesepian menyerang hati dan pikiranku. Yang paling menyedihkan adalah, aku sama sekali tidak pernah dikenalkan ataupun berjumpa dengan kerabat ayah maupun ibu. Aku tidak pernah bertanya. Selama ini aku hanya mengenal ayah dan ibu saja. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Kami bertiga sangat bahagia.

Aku tidak ingat, bagaimana aku bisa sampai di panti asuhan itu. Yayasan Bunda Erika, aku membacanya di sebuah papan nama di depan pintu masuk bangunan itu. Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Kehadiran mereka membuatku setidaknya “lupa” akan kemalangan yang baru saja menimpaku. Tidak lamapun, aku merasa kalau aku telah menemukan rumah baru bagiku. Enam bulan pun berlalu.

Pada suatu hari yang cerah, mendadak kami dibangunkan oleh Bunda Risa, salah satu pengurus di tempat kami.

“Ayo bangun, cepat mandi, pakai pakaian terbaik kalian, setelah itu kalian harus berkumpul di aula. Kita akan kedatangan seseorang yang sangat istimewa”, katanya sambil tersenyum hangat.

Dan aku pun bertanya, “Bunda, tamu istimewanya siapa sih? Artis ya?”

“Mungkin ya..”, kata Bunda Risa sambil tertawa kecil.

“Karena dia adalah putra tunggal dari pemilik yayasan ini..”

Tak kusangka, pertemuanku dengan Erik Torian bisa mengubah hidupku, seluruhnya. Saat dia melewati barisan anak-anak yang lain, dia tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Senyuman misterius menghiasi wajahnya. Dengan posisi membungkuk, dia mengamati wajahku dengan teliti. Temannya yang ikut bersamanya pun ikut memperhatikan diriku.

“Ada apa Torian? Apa kau kenal dengan anak ini?”, tanyanya.

“Tidak”, Erik masih memandangiku sambil memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa.

“Sempurna” katanya dingin.

“Seperti boneka..”

Aku yakin sekali dia bergumam ["..boneka yang aku idam-idamkan"]

Lalu dia melepaskan wajahku dan langsung meninggalkanku begitu saja.

Sehari setelah kunjungan itu, Erik bersama temannya itu kembali mengunjungi yayasan, untuk mengadopsi diriku.

“Halo.. Maria” Erik melemparkan senyum yang berbeda dari kemarin.

“Mulai saat ini, aku-lah yang akan merawat dan mengurus Maria. Kamu tidak harus memanggil aku ‘ayah’ atau sebutan lainnya, panggil saja aku Erik.”

Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,”Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi.”

Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yang membalasku dengan senyuman hangat.

Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian di rumah megah seperti ini dan masih berusia 24 tahun saat itu. Diam-diam, aku kagum dengan penampilan Erik dan Tomi yang sangat menarik. Berada di tengah-tengah mereka saja sudah sangat membuatku special. Erik sangatlah baik padaku. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain untuk dipajang dikamar tidurku. Dia sangat memanjakan aku. Tapi, dia juga bersikap disiplin. Aku tidak diperbolehkan untuk keluar rumah selain ke sekolah tanpa dirinya.

Empat bulan berlalu, rasa sayangku terhadap Erik mulai bertambah. Hari itu, aku mulai merasa bosan di rumah dan Erik belum pulang dari kantor. Aku pun menunggunya untuk pulang sambil bermain Play Station di kamarku. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku berbunyi.

“Erik sudah pulang!!”, pikirku senang.

Aku pun berlari keluar kamar untuk menyambutnya. Tapi, di depan kamar Erik aku berhenti. Pintunya terbuka sedikit. Dan aku bisa tahu apa yang terjadi di dalam sana. Erik bersama seorang wanita yang sangat cantik, berambut panjang, kulitnya pun sempurna. Aku hanya bisa terdiam terpaku. Aku melihat Erik mulai menciumi bibir wanita itu dengan penuh nafsu. Tangannya meraba-raba dan meremas payudara wanita itu.

“Ohh..Erik”

Pelan-pelan, tangan Erik menyingkap rok wanita itu dan menari-nari di sekitar pinggul dan pahanya. Tak lama, Erik sudah habis melucuti pakaian wanita itu. Erik merebahkan wanita itu ke tempat tidur dan menindihnya, tangan Erik bermain-main dengan tubuh wanita itu, menciuminya dengan membabi buta, menciumi leher, menciumi payudara wanita itu sambil meremas-remasnya.

“Ohh..Eriik..” Aku mendengar desahan wanita itu.

Aku melihatnya. Aku tidak percaya bahwa aku menyaksikan itu semua. Tapi, aku tidak bergerak sedikit pun. Aku tidak bisa.

Erik pun membuka resleting celananya dan mengeluarkan ‘senjata’nya, kedua kaki wanita itu dipegang dengan tangan Erik dan Erik segera menancapkan ‘senjata’nya ke liang wanita yang sudah basah itu dengan sangat kasar. Wanita itu mengerang dengan keras. Tanpa sadar, pipiku sudah dibasahi oleh air mata. Hatiku terasa sakit dan ngilu. Tapi, aku tetap tidak bisa beranjak dari sana. Aku tetap melihat perbuatan Erik tanpa berkedip sambil berlinang air mata.

Erik masih melanjutkan permainannya bersama wanita cantik itu, dia menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan sangat cepat. Teriakan kepuasan dari wanita itu pun membahana di seluruh ruangan. Sepuluh menit setelah itu, Erik terlihat kejang sesaat sambil mengerang tertahan. Erik pun menghela napas dan beristirahat sejenak, masih dalam rangkulan wanita itu. Permainan berakhir.

Tapi aku masih mematung di depan kamarnya, memperhatikan Erik dari sebelah pintu yang sedikit terbuka. Aku tidak mau bergerak juga, seolah-olah aku sengaja ingin ditemukan oleh Erik. Benar saja, aku melihat Erik berbenah memberesi bajunya dan bergerak menuju pintu. Dia membuka pintu dan melihat diriku mematung sambil menangis di sana. Dia memperhatikanku sejenak dan senyuman misterius itu hadir lagi.

Dia pun membungkukkan tubuhnya,

“Hey, tukang ngintip cilik. Aku nggak marah kok. Hanya saja, aku sudah mempersiapkan hukuman yang tepat untukmu. Tapi, tidak saat ini. Ayo, aku temani kamu sampai kamu tertidur. Kalau kamu capek, besok bolos saja.”

Erik pun menggendongku yang masih terisak kekamar tidurku. Dan semalaman dia tidur sambil memelukku dengan hangat.

“Aku..aku..sayang Erik”

“Erik adalah milikku..hanya milikku seorang”

Pikiranku berputar-putar memikirkan hal itu. Tak lama, aku pun tertidur lelap.

Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-14. Aku senang sekali, karena Erik telah mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun untukku di sebuah hotel bintang 5. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial. Aku pun mengenakan gaun berwarna putih yang baru dibelikan Erik. Kata Erik, aku sangat cantik dengan baju itu, “Kamu cocok sekali dengan warna putih, sangat matching dengan warna kulitmu.. Dan lagi, sekarang.. kamu semakin cantik.”

Teman-teman perempuanku juga berdecak kagum melihat penampilanku saat itu.

“Kamu cantik ya Maria? Beruntung sekali kamu punya ayah angkat seperti Erik..”

Kata Sara, teman baikku sambil tertawa meledek. Sara melirik ke arah Erik yang sedang duduk di meja pojok bersama Tomi.

“Hey Maria, Erik itu ganteng banget ya? Temennya juga..” ujar Sara sambil tertawa kecil.

Aku pun hanya bisa tertawa, aku pun menetujuinya. Akhir-akhir ini, kami memang jadi sering membicarakan soal cowok. Mungkin karena puber. Tak lama, Aryo temanku yang sepertinya suka denganku datang, sambil menyerahkan hadiah, dia mencium kedua pipiku. Tanpa sadar pipiku bersemu merah.

Setelah pesta usai, Erik mengajakku istirahat di kamar hotel. Aku lumayan capek, tapi aku senang. Dan setiba di kamar, aku memeluk Erik sambil mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih Erik..aku sayang sekali sama Erik..”

Erik pun membalas pelukanku sejenak dan kemudian melepasnya, dan dia memegang kedua lenganku sambil memandangku dengan serius. Aku pun merasa heran dan sedikit takut.

“..Erik? Kenapa? Marah yaa? Aku..melakukan kesalahan apa?”

Tanpa banyak bicara, Erik menggeretku ke tempat tidur, mencopot dasinya dan menggunakannya untuk mengikat kedua tanganku dengan kencang. Aku memekik dan mulai menangis.

“Eriik!! Sakit!! Kenapa??!!”

Dia melihatku dengan pandangan marah. Kemudian berteriak,

“Kenapa??!! Kenapa katamu?! Kamu itu perempuan apa??!! Masih kecil sudah kenal laki-laki!! Sudah kuputuskan! Kamu harus di hukum atas perbuatanmu barusan dan perbuatanmu 2 tahun yang lalu!!”

Deg. Jantungku terasa berhenti mengingat kejadian itu.

“Erik marah..”, pikirku.

Aku pun merasa ketakutan. Aku takut dibenci. Aku tidak mau kehilangan lagi orang yang kusayangi.

Tiba-tiba, Erik menarik gaunku dengan sangat kasar sehingga menjadi robek. Aku berteriak.

“Ini akibatnya kalau jadi perempuan genit!!”

Erik menariknya lagi untuk kedua kalinya, pakaian dalamku semakin terlihat. Celana dalamku juga akan dilepasnya.

“Erriik!! Jangaan!!”, aku berteriak ketakutan.

Terlambat, aku sudah telanjang total. Hanya sisa-sisa gaunku-lah yang masih menyembunyikan bagian-bagian tubuhku sedikit. Erik melihatku dengan penuh nafsu. Nafasnya terdengar berat penuh dengan kemarahan dan birahi. Dia pun menahan tanganku yang terikat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.

“Aku harus menjadi orang pertama yang..”

Erik tidak menyelesaikan kata-katanya dan mulai melumat bibirku dengan sedikit kasar.

“Hmmphh..”

Untuk pertama kalinya aku merasakan ada getaran yang aneh pada tubuhku. Sensasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Erik terus berlanjut menciumku, aku bisa merasakan lidahnya memijat lidahku. Aku pun mengikuti permainannya, sedikit takut, sedikit ingin tahu. Erik mulai meremas-remas payudaraku yang belum tumbuh seutuhnya.

“Ahh..”

Aku mulai menikmati getaran aneh pada diriku.

“Panas..badanku terasa panas..Erik..” pikirku dalam hati.

Erik melanjutkan ciumannya ke leher dan menggigitnya sedikit, remasan tangannya di payudaraku makin kuat.

“Ahh..!!” nafasku makin memburu.

Tiba-tiba Erik berhenti dan melihatku sambil tersenyum misterius.

“Hmm..kamu menyukainya bukan? Ya kan, setan cilik?”

Mukaku bersemu merah, tapi terlalu takut untuk berbicara, tubuhku bergetar hebat. Erik melepaskan kemejanya dan celananya, masih memandangiku. Aku terlalu malu untuk memandang wajahnya.

“Aku rasa, kamu sudah siap untuk permainan selanjutnya..”

Erik tertawa kecil, sedikit kemarahan masih tersisa pada dirinya. Erik kembali menciumiku, kali ini dia meremas payudaraku sambil menghisapnya.

“Hhh..!!”

“Tidak apa-apa..kalau Erik..tidak apa-apa.” pikirku.

Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Erik mulai memasukkan ‘senjata’nya ke dalam diriku.

“Emm..” aku tidak berani bilang kalau aku merasa sakit.

Erik mulai tidak sabar, dan dia memasukkannya dengan kasar.

“Aaahh..!!”

Aku menjerit dan mulai menangis lagi. ‘Senjata’nya sudah memasuki diriku seutuhnya dan sakit yang kurasakan itu sedikit aneh, ada kenikmatan di dalamnya. Aku mulai sedikit meronta sambil berteriak. Tapi Erik menahanku dengan kuat. Erik menciumi diriku yang bergetar hebat dengan sedikit paksa. Bosan dengan posisinya, Erik membalikkan posisi tubuhku menjadi telungkup.

“Erriik..!! tidaak!!” aku sangat malu melakukan posisi itu.

Tetapi Erik tidak peduli dan melanjutkan kembali permainannya. Setiap kali tubuh Erik menghentak, aku menjerit sekeras-kerasnya. Erik melakukan gerakan menghentak itu secara teratur, dan tiba-tiba aku merasakan getaran yang sangat hebat dalam diriku, aku merasakan ‘liang’ku

menyempit karena otot-otot di tubuhku menjadi tegang. Aku pun berteriak lebih keras dari sebelumnya.

“Ohh..Maria.”

Aku merasakan tangan Erik meremas pinggulku dengan kuat. Tubuh Erik mengejang, dan cairan deras pun mengalir dari ‘liang’ku. Aku mendesah panjang. Tubuhku masih bergetar. Erik masih menindihku dan mulai menciumi punggungku.

“Hhhmm.. pilihanku memang selalu tepat”, gumamnya.

Aku memilih untuk diam. Erik bergeser ke sampingku. Dia memandangiku yang masih berlinang air mata. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya.

“Maria, kamu adalah milikku seorang.. tidak ada satupun yang boleh menyentuhmu tanpa seizin-ku.”

Erik memeluk tubuhku yang kecil dengan erat.

“Ya Erik..aku adalah milikmu. Aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan, asal kau tidak membenciku.” Aku masih terisak.

“Anak bodoh.. Aku tidak akan pernah membencimu Maria..”

Pelukan Erik semakin erat. Mukaku terasa panas. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Erik.

“Terima kasih..Erik.”

TAMAT

Tags : cerita merangsang,cerita 17 tahun, tante, cewek smu, toket, gambar tante telanjang,gadis 17 tahun,memek 17 tahun,film dewasa,cowok telanjang,dangdut telanjang,foto tante girang telanjang bulat,gadis muda telanjang dengan payudara indah


Cerita Merangsang – Ida, Responden Pertamaku – 2

17 Juni 2010

Dari Bagian 1

Demikian asyik dan seriusnya memperagakan aksinya di depan saya mengenai persetubuhannya di kolom jembatan bersama dengan pacar atau calon suaminya waktu itu, sehingga Ida tidak terpokus lagi pada pertanyaan dan permintaan saya tadi, malah ia mejawab lebih dari yang kuminta yakni dengan cepatnya berdiri dan melangkah ke pintu lalu mengunci rapat-rapat. Saya heran dan gembira, karena tindakannya mulai mengarah kepada apa yang saya niatkan yakni menikmati tubuhnya yang ramping dengan kulit yang putih mulus itu.

Kegembiraan saya itu bertambah ketika Ida tiba-tiba memegang tangan kanan saya dan menuntun saya masuk ke kamar tidurnya. Setelah kami berdua berada dalam kamarnya itu, Ida dengan cepatnya mengunci pintu kamar, lalu kembali menarik tangan saya hingga kami duduk berdampingan di tepi rosban tempat tidurnya. Saat itu saya hanya nurut dan diam seribu bahasa mengikuti aksinya.

Tidak lama setelah itu, Ida tiba-tiba berdiri di depan saya sambil berkata, “Jika kakak serius ingin mengetahui jawabanku atas pertanyaan Kak tadi, maka inilah jawabannya.. ” kata-kata itu diucapkannya dengan tegas sekali, namun sedikit berbisik sambil mempreteli sendiri pakaian yang dikenakannya seolah ia ingin membuka seluruh pakaiannya sekaligus.

Ketika Ida sudah bugil sambil berdiri di depan saya, kontan saja saya ikut berdiri dan langsung meraih kepalanya dan menariknya ke depan sehingga bibir kami saling bersentuhan, berpagutan, bahkan saling mengisap bibir dan lidah tanpa kami bicara sedikitpun. Kebisuan kami itu berlangsung agak lama, namun tangan, bibir dan seluruh tubuh kami sangat aktif menjalankan aksinya masing-masing, termasuk dengan gegasnya Ida mempreteli seluruh pakaian yang menutupi tubuhku, sehingga kami berpelukan dalam keadaan sama-sama bugil. Setelah puas berpagutan dan berpelukan, saya lalu melepaskan pagutan itu dan memindahkan mulutku ke kedua payudara mulus dan putihnya yang tertancap ke depan dan sedikit mengeras, namun ukurannya cukup sederhana. Maklum ia belum pernah meneteki seorang bayi, bahkan belakangan baru saya tahu kalau suaminya pun sangat pasif ketika bersetubuh dengannya, sehingga teteknya itu jarang sekali disentuh oleh mulut suaminya.

Hampir seluruh tubuhnya saya jilati mulai dari bagian atas hingga ke bagian bawa. Ketika saya mengisap puting susunya, Ida menggelinjang-gelinjang kegelian bercampur nikmat, sesekali ia mengeluarkan nafas terengah-engah sebagai tanda nikmat yang dirasakannya. Mungkin karena nikmat yang dirasakannya tak tertahankan lagi sampai-sampai ia meraih rambut kepalaku lalu menggigit-gigitnya dan menarik-narik dengan mulutnya. Isyarat itu mendorong saya untuk menghentikan mengisap kedua teteknya, namun kali ini saya alihkan jilatanku ke perut dan turun ke selangkangannya bahkan sempat saya dengar suara dari mulutnya..

“Aduhh Kak, rasanya enak sekali aku ngga tahan lagi nih”, sehingga saya tambah bergairah dan mulai tak terkontrol nafasku, apalagi ketika ia meraih kontolku yang sejak tadi mengeras dan berdiri. Meskipun ukuran kontolku itu tidak terlalu besar, tapi juga tak terlalu kecil untuk ukuran penis Indonesia. Semakin saya percepat jilatanku pada lubang memeknya yang sedikit berbulu itu, namun agak montok, Ida juga semakin mempercepat dan memperkuat tarikan tangannya pada kontolku, seolah ia mau membawa lebih dekat dengan memeknya.

Ketika kumasukkan lidahku lebih dalam ke lubang memeknya yang basah itu, ia sempat melenguh, “Aahh.. sstt” hanya itu suara yang sempat terdengar di telingaku, namun pada saat saya sedikit menggigit-gigit kelentitnya yang mungil dan indah dipandang mata itu, ia tiba-tiba berteriak agak keras sambil tertawa kecil..

“Uuhh.. aahh.. mm.. saa.. kiit.. Kak.. ha.. hah.. hah” suaranya tiba-tiba seolah ia mengeluarkannya tanpa disadari.

Untung waktu itu tidak ada orang lain yang mendengarnya, sebab jika ketahuan kami bisa malu dan dibunuh oleh tetangga dan dilaporkan pada suaminya Ida. Kebetulan tetangga kami pada keluar ke tempat kerjanya, sedang istri saya lagi ke pasar belanja.

Karena kami mulai terasa capek dan nampak tak mampu lagi menahan gejolak nafsu birahi dari dalam, maka setelah puas menjilati memeknya dan tarikan tangan Ida atas kontol saya semakin keras, saya lalu menggotong Ida yang sedang bugil itu ke tempat tidurnya, lalu meletakkan tubuhnya di atas kasur sambil dengan terlentang dan secara pelan-pelan saya renggangkan kedua pahanya yang sedang menjepit memeknya yang basah.

Ida nampaknya lemas sekali dan tidak bergerak sedikitpun seolah ia pingsang, namun matanya sedikit terbuka memperhatikan gerakan saya dan seolah mengharapkan sekali agar saya mempercepat masuknya kontol saya ke memeknya, meskipun ia tidak mampu lagi berkata-kata. Sikap seperti itu tentu saja saya bisa baca atas dasar pengalaman saya dengan istriku setelah ia terangsang sekali. Pelan tapi pasti, sambil memagut kembali bibir Ida dan meremas susunya, kontolku ikut aktif maju ke depan hingga sedikit menyentuh bibir vagina Ida yang sudah mulai licin, basah dan agak menganga menunggu tancapan kontolku, seolah kontolku itu melihat sehingga tanpa bantuan kedua mata kepalaku kontol itu bisa menemukan sendiri sasarannya dengan tepat.

“Kak, masukkan cepat donk, dorong lebih keras lagi biar amblas seluruhnya” demikian secara tiba-tiba suara itu keluar dari mulut Ida ketika ujung kontolku mulai bergeser 1 cm masuk ke lubang paginanya sambil ia tarik pinggulku erat-erat seolah ia ingin memaksakan kontolku masuk sekaligus. Namun, karena menurut Ida kontolku agak lebih besar daripada kontol suaminya, maka wajar saja bila mulanya kami agak kesulitan memasukkannya dengan cepat sesuai harapan Ida, melainkan memerlukan kesabaran, kerjasama yang baik dan teknik yang tepat.

Setelah saya maju mundurkan dan gerakkan ke kiri dan ke kanan yang dibantu pula oleh Ida dengan gerakan yang sama, akhirnya sedikit demi sedikit kontol itu mampu menembus lubang memek Ida yang paling dalam. Begitu dalamnya menancap, sehingga Ida sempat mendorong pinggul saya karena merasa sedikit kesakitan ketika saya mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi lalu mendorong dengan kerasnya kontol saya ke dalam memeknya. Terasa memang ujung kontol saya menyentuh sesuatu dalam vagina Ida. Namun, hal itu tidak mengurangi kenikmatan persenggamaan kami, melainkan semakin nikmat, terbukti dari suara kami saling memburuh dan bergantian keluar sebagai tanda nikmat.

Semakin lama gocokan kontol saya atas memek Ida semakin cepat dan semakin nikmat pula, hingga pada menit 30 sejak masuknya kontol saya pada lubang vagina Ida, saya merasakan ada gejolak yang memaksa dari dalam kontol saya.

“Bagaimana Ida, enak? apa masih lama bisa bertahan?” tanya saya pada Ida ketika mulai terasa ada aliran hangat yang menelusuri batang kontolku.

“Ra.. raa.. sanya, sudah mau keluar nih, percepat gocokannya Kak” jawab dan pintanya sambil memeluk erat pinggul saya.

“Boleh saya keluarkan di dalam memekmu?” tanya saya dengan cepat sebelum betul-betul aliran itu tiba pada puncaknya.

“Di dalam saja Kak, siapa tahu saya bisa membuahi spermamu, biar saya punya anak” jawabnya dengan penuh harap sambil memelukku dengan eartnya seolah takut saya keluarkan di luar.

Beriringan dengan pintanya pada saya tadi, Ida terasa gemetar dan sedikit menggigit leherku, dan pada saat itu pula saya merasakan ada cairan hangat yang lepas dari ujung kontolku, sehingga terasa pertemuannya dan kenikmatannya tidak dapat saya gambarkan dan menyetarakan dengan kenikmatan sebelumnya. Sungguh betul-betul puncak kenikmatan, sorga duniawi dan segalanya dalam hidup saya, entah menurut Ida.

Walaupun kami sudah sama-sama mencapai puncak kenikmatan itu, tapi rasanya kami tidak ingin saling melepaskan rangkulan kami, entak kenapa, tapi yang jelas, saya baru kali ini merasakan puncak persetubuhan dengan perempuan yang luar biasa nikmatnya, hanya sayangnya Ida adalah istri orang lain dan bukan ditakdirkan jadi pasangan sex saya seumur hidup. Di samping itu, saya sedikit menyesal menyemprotkan sperma saya ke dalam vagina Ida tanpa sadar betul, sebab jangan-jangan betul apa yang diharapkan Ida menjadi kenyataan yakni menjadi janin, bisa-bisa ketahuan suami Ida yang sudah lama berusaha menghamili istrinya, namun tidak pernah jadi kenyataan. Tapi jika hal itu terjadi, Ida pasti cari akal untuk meyakinkan suaminya kalau anak yang dikandungnya itu adalah berkat usaha mereka berdua. Setelah keputusan itu muncul di pikiranku, saya lepaskan pelukanku dan mencoba istirahat sejenak dengan harapan saya akan lanjutkan ronde berikutnya, sebab posisi atau gaya sex yang sempat kami peraktekkan tadi baru satu macam, sementara masih banyak gaya-gaya yang akan kutunjukkan Ida.

Belum saya berhenti berfikir dan menikmati istirat, kami terpaksa mendadak berdiri dan buru-buru mengenakan pakaian kami masing-masing, karena tiba-tiba suara istriku dari rumah terdengar “Mana Bapak, cari Bapak nak, mungkin ada di rumah tetangga” kata istriku sepulang dari pasar yang membuat kami kaget dan takut kalau-kalau ketahuan, apalagi Ida menutur dengan rapat pintunya setelah sebelumnya jarang ia menutupnya.

Tanpa kami mencuci dan membersihkan kemaluan kami yang berlepotan dengan sperma, Ida dan saya segera bangkit, lalu Ida buru-buru membuka pintunya. Setelah ada isyarat dari Ida bahwa aman di luar, maka saya segera meraih berkas wawancaraku lalu keluar dengan biasa-biasa dan langsung ke rumah. Setelah istriku menanyakan dari mana saya tadi, maka saya hanya beralasan bahwa saya hanya sekedar jalan-jalan keliling kompleks rumah saya. Tiba di rumah, saya langsung masuk ke kamar memeriksa celanaku kalau-kalau ada noda sperma yang melekat, namun tidak sedikitpun kecuali hanya ada basah sedikit pada celana dalamku, itupun tidak sampai dapat diketahui oleh istriku. Baru kuingat sesaat setelah kami menyelesaikan permainan tadi, saya sempat melapnya dengan kain Ida yang ada di dekat kasurnya.

Dalam pikiran saya di rumah bahwa muda-mudahan Ida masih mau dan bersedia mengulangi persenggamaan itu pada waktu-waktu yang akan datang, tentunya pada saat suaminya tidak ada di rumah. Dalam hatiku meyakinkan bahwa pasti Ida tidak menolak sebab ia betul-betul merasakan kepuasan yang luar biasa tadi, yang menurutnya belum pernah dirasakan dari suaminya. Walaupun wawancaraku terputus sebelum seluruh pertanyaan saya ajukan dan dijawab oleh Ida, namun cukup memuaskanku, bahkan itulah harapan utama saya melakukan wawancara, pengumpulan data hanyalah alasan yang saya buat-buat, sebab itu bisa saja saya rekayasa, lagi pula karya ilmiah Ati tinggal di print. Sebelum saya mewawancarai wanita lain, saya akan berusaha menuntaskan semua gaya sex yang saya ketahui terhadap Ida, apalagi masih banyak pertanyaan saya yang tersisa belum saya ajukan pada Ida pasti ia bersedia jika ada kesempatan kelak.

Memang betul cita-citaku itu dapat terlaksana dengan Ida tidak lama setelah peristiwa yang pertama itu, bahkan berlanjut pada beberapa wanita pilihan saya yang lainnya. Tapi saya belum sempat mengisahkannya pada dalam cerita ini, sebab terlalu panjang untuk diceritakan. Untuk itu, bagi teman-teman yang berminat membacanya, silahkan tunggu lanjutannya pada episod dan kesempatan berikutnya, saya jamin lebih menarik dan lebih seru lagi. Jika ada di antara pembaca yang ingin berkenalan denganku atau mau mengoreksi atau mengomentari kisahku ini, silahkan hubungi emailku di: razsmsn7@gmail.com, saya akan berusaha membalasnya.

TAMAT

Tags : cerita merangsang, cerita seks, cerita tante, video abg, amoy bugil, cewek cantik,blog cerita dewasa,kumpulan cerita dewasa,cerita seru,cerita dewasa 17tahun,17 tahun hot,cerita nafsu, nafsu seks, gairah nafsu, budak nafsu, cewek nafsu


Cerita Merangsang – Ida, Responden Pertamaku – 1

17 Juni 2010

Para penggemar cerita porno yang budiman. Perkenalkan, nama saya Aidit. Usiaku saat ini 38 tahun dengan tinggi badan 165 cm, berat badan 59 kg, warna kulit antara putih dan hitam, rambut hitam lurus. Saya tinggal pada salah satu kota Kabupaten di Sulsel bersama seorang istri dan 3 orang anak. Sehari-harinya saya bekerja sebagai pengelola jasa, khususnya di bidang pengetikan komputer dan penyusunan karya ilmiah.

Ceritanya begini. Pada bulan Agustus tahun 2009 yang lalu, saya kebetulan menerima pesanan karya ilmiah dari seorang mahasiswi pada salah satu Perguruan Tinggi Swasta di kota tempat tinggal saya, judulnya “PACARAN SEBELUM KAWIN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KERHARMONISAN RUMAH TANGGA”. Sesuai perjanjian saya dengan mahasiswi tersebut (namanya panggil saja ‘Ati’), bahwa pengumpulan data-dada yang akan dimuat dalam karya ilmiah itu menjadi tanggung jawab Ati selaku mahasiswi yang akan mempertanggung jawabkan isinya di depan penguji.

Setelah Ati mengajukan proposal atau draft karya ilmiah yang telah saya susun sesuai pesanannya dan telah mendapat persetujuan dari ketua jurusan dan dosen pembimbingnya, saya lalu meminta dia untuk mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan judulnya itu, baik dengan cara mencari buku-buku rujukan maupun dengan cara melakukan penelitian melalui wawancara dengan beberapa orang yang telah berumah tangga, terutama terhadap mereka yang kebetulan pacaran sebelum nikah. Meskipun sebenarnya banyak buku-buku yang berkaitan dengan judul tersebut, namun selain saya ingin mengetahui fakta-fakta di masyarakat tentang pengaruh pacaran sebelum nikah, juga untuk memanfaatkan judul itu agar saya bisa mengorek pengalaman berpacaran dari beberapa orang yang telah menjadi suami istri.

Setelah berjalan sekitar 2 minggu, Ati datang ke rumah membawa beberapa buku rujukan, namun ia tidak membawa sedikitpun data hasil wawancara dengan orang lain sesuai permintaan saya, dengan alasan ia merasa malu, segan dan tidak mampu wawancara, padahal daftar pertanyaannya telah saya berikan sejak awal.

“Aduh Kak, saya kesulitan memperoleh data wawancara, karena saya merasa malu dan takut tidak dilayani orang, apalagi saya ini kan masih gadis” katanya sambil meletakkan beberapa buku rujukan karya ilmiahnya di depan saya.

“Ngga apa-apa jika memang hal itu masih agak sulit adik dilakukan, saya maklumi alasannya itu kok, apalagi adik tidak dibekali izin penelitian dari pemerintah, bisa-bisa adik disangka punya maksud lain. Nanti kita lihat bagaimana caranya yang terbaik agar penyusunan karya ilmiah ini tetap berjalan sesuai rencana” demikian kata saya sambil mencoba menenangkan perasaannya agar ia tidak merasa putus asa.

Hanya dalam tempo 3 minggu saya sempat menyelesaikan penyusunan karya ilmiah itu, namun saya masih tetap tidak print, karena rencana ujian meja Ati masih jauh yakni nanti pada Bulan Oktober 2009 (masih berkisar 2 bulan lagi). Saya terus mencari akal bagaimana caranya agar keinginan saya tadi bisa terwujud. Saya mencoba menghubungi di rumahnya lewat telepon dan minta agar dia datang ke rumah saya guna membicarakan masalah kelanjutan penyusunan karya ilmiah itu. Setelah Ati datang ke rumah saya pada hari itu juga, saya menawarkan bantuan.

“Bagaimana jika saya sendiri membantu adik melakukan wawancara dengan beberapa kenalan saya, yang kebetulan saya ketahui telah pacaran sebelum nikah? apakah adik tidak keberatan?” begitulah tawaran saya pada Ati ketika kami duduk bersama pada ruang tamu di rumah saya, apalagi Ati nampak bingung dan kesulitan memperoleh data wawancara waktu itu.

“Justru saya sangat setuju Kak, dan berterima kasih pada Kak atas kesediannya membantu saya. Saya bersedia memberikan segala biaya yang Kak butuhkan selama dalam proses penelitian wawancara itu”. Dimikian jawaban Ati atas tawaran saya itu, seolah dia sangat gembira dan bersemangat mendukung tawaran saya itu.

Ati adalah anak satu-satunya perempuan dari 3 bersaudara. Dia anak seorang pengusaha beras yang tergolong kaya di daerah kami, sehingga tak heran bila Ati bersedia membayar biaya-biaya yang saya butuhkan dalam proses penyusunan karya ilmiahnya. Karenanya, saya berani menawarkan bantuan kepadanya, selain untuk memperoleh maksud tertentu saya itu juga untuk memperoleh tambahan penghasilan dari Ati. Bahkan Ati sempat menawarkan kendaraan sepeda motor Honda Supra yang dipakainya kepada saya untuk saya gunakan selama proses wawancara di lapangan, tapi saya tidak menerimanya karena saya masih punya sepeda motor sendiri yang bisa saya gunakan dalam proses wawancara itu, lagi pula biar Ati merasa berutang budi pada saya nantinya.

Setelah saya membuat Surat Kuasa Penelitian dan minta tanda tangannya, Ati lalu pamit untuk pulang ke rumahnya. Keesokan harinya, sayapun mulai bereaksi. Mula-mula saya datangi tetangga dekat yang saya kenal pacaran sebelum nikah dengan membawa sejumlah pertanyaan spekulatif yang bisa menjebak para responden. Tentu saja saya terlebih dahulu mempersiapkan beberapa kriteria responden dan syarat-syarat wawancara, termasuk usianya tidak terlalu lanjut, punya penampilan yang menarik, punya waktu dan kesempatan yang banyak untuk diwawancarai, jujur, terbuka, tidak terlalu ketat kontrol dari suaminya sebab obyek penelitian saya, khusus bagi wanita saja serta beberapa syarat lain yang bisa mewujudkan impian saya, termasuk salah satu syarat utamanya adalah bersedia menandatangani kesepakatan rahasia wawancarapa pada siapapun, khususnya kepada suami mereka.

Hampir semua responden yang saya wawancarai merasa senang dan tidak menolak ketentuan wawancara yang saya ajukan, sebab mereka itu rata-rata kenalan saya, bahkan ada di antara mereka bekas pacar atau sahabat saya, sehingga tanpa saya janjikan apa-apapun mereka nampaknya tetap bersedia untuk diwawancarai dan ingin agar wawancara itu berjalan lama dan berulang-ulang kali, apalagi kami lakukan rata-rata di tempat khusus yang sengaja saya sediakan untuk wawancara, termasuk di kamar-kamar penginapan atau hotel dan di rumah-rumah sahabat saya.

Ida (nama samaran) adalah wanita berusia 35 tahun sebagai responden yang pertama kali saya wawancarai. Dia kebetulan tetangga dekat saya, yang sehari-harinya saya temani ngobrol tentang berbagai hal, termasuk soal berpacaran, meskipun suaminya selalu di sampingnya, tapi dia orangnya suka humor, terbuka dan lugu, bahkan seringkali humor soal-soal porno, termasuk hubungannya dengan suaminya. Pada hari itu, suaminya kebetulan ke kota Makassar mengikuti pertemuan organisasi usaha yang dikelolanya (sebutlah pelatihan) selama beberapa hari. Tentu saja kesempatan seperti itu yang saya tunggu-tunggu.

“Ida, kemana suaminya kok ngga kelihatan?” tanya saya ketika saya sedang menemuinya di depan rumah kami sambil berpura-pura tidak tahu, meskipun sebelum suaminya berangkat ke Makassar sempat kami bincang-bincang mengenai rencana keberangkatannya itu.

“Ke Makassar Kak Dit, kebetulan dia dapat rekomendasi dari Depnaker untuk ikut pelatihan selama sepekan di Makassar” jawabnya.

Setelah kami bincang-bincang sebagaimana layaknya tetangga dekat, saya lalu menyampaikan maksud utamaku padanya.

“Mau ngga Dik Ida membantu saya, sebab kebetulan saya mempunyai masalah yang berkaitan dengan profesi saya, dan nampaknya adik Ida merupakan salah seorang yang dapat saya harapkan membantu menyelesaikannya” tanya saya pada Ida dengan santai sambil saya sedikit tersenyum padanya.

“Masalah apa Kak Dit, mudah-mudahan saya bisa dan mampu membantu, apalagi kita ini kan sudah seperti keluarga atau saudara sendiri” katanya lebih lanjut.

“Ngga berat kok, hanya saya butuh informasi yang jelas dari adik Ida”, kata saya terus terang padanya.

“Tentang apa itu Kak Dit? saya rasanya kurang banyak mengetahui informasi” tanyanya seolah bingung dan serius ingin mengetahui masalahku.

Setelah saya melihat Ida kebingungan dan seolah ingin cepat mengetahui masalah saya yang perlu bantuan dari dia, saya lalu mengajak masuk ke rumahnya dengan alasan kurang sopan jika saya menyampaikannya di luar rumah. Ia pun bergegas masuk dan mempersilahkan saya duduk di kursi plastiknya yang ia telah siapkan. Setelah kami duduk berhadap-hadapan, sambil meletakkan di atas meja beberapa lembar kertas yang saya bawa, seperti surat kuasa penelitian dari Ati, ketentuan wawancara dan lain-lainnya, saya lalu berkata terus terang padanya.

“Begini Dik Ida, ada seorang Mahasiswi yang sedang saya susun karya ilmiahnya, yang kebetulan kesulitan mendapatkan data-data wawancara tentang judulnya, sebab berkaitan dengan masalah kehidupan suami istri, maklum ia masih gadis. Jadi terpaksa ia minta tolong dan menguasakan pada saya untuk mengambil data-data dari beberapa orang yang telah berkeluarga, termasuk adik Ida, siapa tahu mau berbaik hati memberikan informasi yang jelas, jujur, terbuka dan penuh keikhlasan” demikian penjelasan saya secara rinci terhadap Ida.

Mendengar penjelasan saya itu, dia tiba-tiba tertawa kecil lalu diam sejenak seolah ragu dan malu mengutarakan soal-soal kehidupan rumah tangganya. Namun, setelah berfikir sejenak dan mempertimbangkan tawaran saya itu, akhirnya dia meraih dan membaca lembar per lembar kertas yang saya letakkan di depannya itu tanpa bersuara sedikitpun.

Setelah dia baca dan paham isinya, dia lalu berkata, “Ngga apa-apalah, asalkan Kak mau merahasiakan pada suami saya dan pada orang lainnya tentang informasi yang saya berikan mengenai kehidupan rumah tangga kami bersama suami. Kebetulan Ida hanya sendiri di rumahnya waktu itu, sebab ia belum dikaruniai seorang anak, meskipun telah beberapa tahun menjalani kehidupan rumah tangga dengan suaminya.

Setelah menyatakan kesediaannya dan menandatangani perjanjian wawancara yang saya sodorkan, Ida lalu bertanya, “Apa yang ingin Kak Dit tanyakan pada saya, silahkan diajukan satu-persatu, nanti saya berikan jawaban seadanya” katanya.

Saya mulai membuka susunan pertanyaan yang telah saya sediakan sebelumnya dan mulai mengajukan pertanyaan pada dia secara berurutan. Dari 27 nomor pertanyaan yang saya siapkan, hanya 11 pertanyaan yang sempat saya ajukan dan dijawab oleh Ida pada waktu pertemuan pertama itu, sebab Ida nampaknya terlalu serius menjawab dan mencermati makna pertanyaan saya, sehingga kondsi wawancara kami seolah dipengaruhi oleh suasana lain yang tiba-tiba menyerang konsentrasi berpikir kami, khususnya pada pertanyaan yang ke 11.

“Karena adik Ida menjawab tadi bahwa sebelum nikah dengan suaminya, adik telah bersetubuh beberapa kali dengan calon suaminya di bawa kolom jembatan, bagaimana awal kejadiannya saat itu? tolong dijelaskan satu persatu mulai dari pertama kali bersetubuh hingga yang terakhir kalinya sebelum nikah, termasuk proses selama berlangsungnya persetubuhan anda, misalnya waktu calon suami adik itu memegang tangan adik, mencumbu, memeluk, meremas payudaranya, membuka kancing baju dan celana dalam adik, memasukkan penis dan menggocok memek adik serta posisi yang diterapkannya hingga adik mencapai puncak persetubuhannya” itulah rentetan pertanyaan dan permintaan akhir saya pada Ida saat itu dalam poin 11, sambil meminta ia sedikit memperagakan di depanku.

Ida adalah sosok wanita yang cukup mulus dan nampaknya memiliki gairah seks yang tinggi serta sedikit agak simpatik pada saya selama ini sebagaimana nampak dari perbincangan kami sehari-hari. Tidak heran jika ia rela dan tidak segan-segan menuruti semua permintaan saya saat itu, termasuk ia menunjukkan sedikit aksinya di depan saya seolah ingin merangsang saya, meskipun sejak awal saya memang telah terangsang akibat pakaian yang dikenakannya agak tipis dan sedikit ketat, terutama celana kain yang dikenakannya sedikit ditarik agak ke atas sehingga ujungnya berada di atas lututnya. Tangan saya ikut lebih memperjelas ucapkanku dengan sengaja menunjuk dan menyentuh bagian-bagian yang kminta untuk diperagakan sedikit, sehingga wawancara kami waktu itu berjalan semakin tak karuan namun cukup seru.

Bersambung Ke bagian 2

Tags : cerita merangsang, cerita seks, cerita tante, video abg, amoy bugil, cewek cantik,blog cerita dewasa,kumpulan cerita dewasa,cerita seru,cerita dewasa 17tahun,17 tahun hot,cerita nafsu, nafsu seks, gairah nafsu, budak nafsu, cewek nafsu


Cerita Merangsang – Kisah Ngentot Ananda – 2

17 Juni 2010

Setelah membayar dan membuka pintu pagar, Ananda berjalan terlebih dahulu menemui papanya di ruangan tamu yang sduah menunggunya.

“Papa, Mama, kok belum tidur?” tanya Ananda manja.

“Sebentar lagi juga tidur kok” jelas papanya.

“Mana Adietya?” tanya papanya.

“Ada, masih di luar” jawab Ananda.

“Suruh dia masuk” sahut papanya.

“Diet, di panggil Papa tuh” kata Ananda.

Tak lama aku melangkah menuju ruangan tamu untuk menemui kedua orangtuanya.

“Nak Adiet, Om dan Tante mau istirahat dulu yah” kata papanya.

“Kalau masih ada yang dibicarakan dengan Ananda silahkan di lanjut aja” jelasnya lagi.

“Terima kasih, Om, Tante” jawabku sopan.

Kemudian mereka berdua meninggalkan kita yang masih berdiri di ruangan tamu.

“Diet, kita ngobrol di luar aja yah” ajak Ananda kemudian.

“Kita duduk di taman aja yah, sambil menikmati bulan purnama” jawabku pelan.

Kebetulan malam itu bulan sedang muncul penuh dengan sinarnya yang menerangi seluruh taman di depan rumah Ananda. Dengan mesra aku mengandeng tangan Ananda menuju balai-balai kecil yang ada di pojok rumah Ananda. Kemudian aku dan Ananda berdiri di sebelah balai-balai, sambil aku memeluknya mesra.

Aku menatap lembut mata Ananda, dan tak lama kemudian kedua mata Ananda tertutup perlahan. Dengan lembut aku mengecup bibirnya yang ranum, dan sebelah tanganku meremas payudaranya yang kiri. Ananda masih mengenakan gaun hitam yang tadi di pakai acara makan malam. Belahan gaun di dadanya yang rendah, memudahkan tangan kiriku menelusup lembut membelai payudaranya yang kiri.

“Ohh.. Diet” desahnya pelan.

Kemudian bibirku turun menjelajahi leher jenjangnya yang mulus dan mengecupnya lembut. Di saat aku mencumbunya, tanganku yang kanan meremas buah pantatnya pelan. Dan hal ini membuat Ananda mendesah untuk kesekian kalinya.

“Ohh.. Diet.. Terusin” desahnya lirih.

Tangan Ananda juga tak tinggal diam, ketika menerima rangsangan dariku. Di elusnya bagian depan celanaku yang sudah mulai menonjol. Dan aku membantunya dengan mebuka resliting celana jeansku. Setelah reslitingku terbuka, kembali tanganku menelsuri belakang punggunya di bawah gaun hitamnya.

Tak lama berselang, tanganku sudah ke atas dan perlahan jemariku membuka gaunnya yang panjang. Dengan pelan jari tanganku menurunkan gaunnya dari pundaknya yang mulus. Perlahan-lahan aku menurunkannya, sambil bibirku tak lepas dari bibirnya dan memainkan lidahku ke dalam rongga mulutnya. Lidahku membelit dan menghisap Lidah Ananda dengan lembut yang di balasnya dengan lembut pula.

Kemudian tanganku beralih kebelakang punggungya dan menemukan kaitan Bra nya yang berukuran 36B dan jemariku perlahan melepas kaitannya. Dengan lembut aku menarik Bra 36 B warna hitam milik Ananda, yang berenda di bagian pinggir dan tengahnya.

Seketika nampaklah di hadapanku sepasang payudara ranum milik Ananda yang begitu menggairahkan. Pemandangan saat itu begitu erotis, karena cahaya bulan menyinari sepasang payudara Ananda. Perlahan aku menundukkan kepalaku untuk memudahkan lidahku mengecup puting payudara Ananda yang sebelah kiri. Dengan lembut aku menghisap ujungnya, yang sebelumnya lidahku bermain sesaat di pangkalnya.

“Sshh.. Diet.. Oh” desahnya mulai terangsang.

Kembali aku membenamkan lidahku diiringi dengan hisapan yang kuat, namun lembut ke puting payudaranya. Ananda sepertinya sudah sangat terangsang oleh hisapan lidahku. Itu terlihat dari gerakan tangannya yang sudah masuk menemukan penisku di balik celana dalam yang masih aku kenakan. Tangannya yang halus agak liar saat memilin dan meremas penisku dan ini membuatku mendesah menerima perlakuannya.

“Ohh.. Sshh.. Sayang” desahku lirih.

Jemari tangan Ananda yang lentik beralih sesaat setelah bermain dengan penisku untuk membuka bajuku yang sudah mulai kusut oleh kemesraan yang berlangsung. Ketika Ananda sibuk membuka bajuku, aku juga mengambil inisiatif buat memanjakan bagian bawah Ananda setelah bagian atasnya cukup terangsang.

Dengan perlahan aku meminta Ananda duduk di balai-balai. Kemudian tanganku meloloskan gaun hitamnya yang masih menggantung di pinggangnya. Sambil menurunkan gaun hitamnya, tanganku juga mengelus pahanya yang mulus.

Dan tak lama Ananda hanya tinggal Celana dalamnya yang berwarna hitam dan modelnya sangat sexy sekali, ditengah nya ada renda yang berbentuk hati dan dari balik renda menerawang bulu-bulu vaginanya yang tebal dan hitam panjang, seperti rambut di kepalanya.

Perlahan aku menurunkan celana dalamnya yang sexy dan seketika hidungku juga menghirup aroma khas vagina seorang gadis. Dengan lembut lidahku menjulur menjilati tepian vaginanya yang menggairahkan kelakianku.

“Sshh.. Diet” desahnya parau menahan rangsangan.

Kemudian aku lanjutkan dengan membuka bibir bagian dalam vaginanya dengan lidahku dan tanganku mengelus buah pantatnya lembut. Ujung lidahku menyentuh bagian dalam vaginanya yang berwarna pink dan sudah mengeluarkan lendir birahinya.

“Oh.. Diet.. Aku sudah enggak kuat” jeritnya terangsang.

Sesaat aku menghentikan foreplayku. Ananda kemudian berdiri dan menggantikan posisiku yang sedari tadi merangsang setiap senti tubuhnya dengan jilatan dan remasan. Kemudian Ananda memintaku untuk duduk di balai-balai. Dengan lembut jemari tangan Ananda membuka celana dalamku dan menurunkannya seketika.

Dan tak lama lidah Ananda sudah menelusuri pangkal pahaku dan berakhir di tepian pahaku yang bersebelahan dengan buah zakarku. Aku membantu Ananda dengan mengangkat kedua pahaku untuk memudahkan Ananda merangsang bagian bawahku. Kembali lidah Ananda menjulur menelusuri buah zakarku dan beranjak pelan menuju batang penisku yang sudah tegak oleh tangsangan yang di berikannya.

“Oh.. Sshh” aku mendesah oleh gerakan lidahnya.

Dengan gerakan lembut, seketika mulut Ananda yang berbibir sensual telah melahap seluruh batang penisku dan ini membuat aku menjerit parau menahan kenikmatan.

“Auu, Sshh..” jeritku dengan suara parau menahan birahiku yang memuncak.

Dengan gerakan lembut, Ananda mengatupkan kedua bibirnya dan menarik keluar batang penisku yang seketika aku merasakan kenikmatan tak terhingga.

“Sshh.. Ohh” desahku panjang menahan nikmat dari isapan bibir Ananda.

Merasa cukup dengan ransangan yang Ananda berikan, kembali aku berdiri dan meminta Ananda berbaring di balai-balai yang beralaskan sebuah matras empuk. Perlahan kembali aku merangsang Ananda yang aku mulai dengan menjilati telapak kakinya dan jemari kakinya yang mengakibatkan tubuh Ananda menggelinjang pelan.

Mulutku mengulum ujung jemari kakinya, sementara tanganku mengelus pahanya yang mulus dan sesekali ujung ibu jariku menggelitik clitorisnya dan telunjukku mengelus belahan anusnya secara bersamaan.

“Ohh Sshh.. Diet” jeritnya semakin parau menahan rangsangan yang aku berikan.

Lendir di vaginanya mulai meleleh melewati anusnya, ketika aku mengusap belahannya.

“Diet aku sudah nggak kuat nih” jeritnya lagi.

Aku merasa sudah saatnya memberikan kenikmatan yang sebenarnya buat Ananda. Dengan perlahan aku merangkak di atas tubuh bugil Ananda yang menggairahkan. Kembali aku mengusap permukaan vagina Ananda dan berhenti sesaat di clitorisnya yang sudah menyembul keluar. Dengan lembut aku membimbing penisku menuju belahan vaginanya. Perlahan ujungnya mulai menyentuh bibir luar vaginanya dan dengan gerakan lembut aku menekan sedikit ujung penisku.

“Slebb.. Slebb..” terbenamlah sedikit ujung penisku membelah vaginanya.

“Hek.. Shh.. Diet terusin” erangnya lirih.

Aku berhenti sesaat untuk memberi kesempatan Ananda menikmati penetrasiku. Dengan lembut dan mantap kembali aku menekan penisku ke belahan vagina Ananda yang telah licin oleh lendir birahinya.

“Slebb.. Slebb” terbenamlah seluruh penisku ke dalam rongga vaginanya.

“Hek.. Ohh Diet enak sayang” jeritnya menahan kenikmatan yang aku berikan.

Dan tak lama aku mulai melakukan gerakan memaju mundurkan penisku ke dalam rongga vagina Ananda yang masih sempit. Sambil menggoyangkan pantatku aku juga sedikit menundukkan kepala untuk menjilati ujung payudaranya yang sebelah kiri, sementara tanganku yang kiri memilin ujung payudara satunya.

Sesaat aku merasakan jepitan vagina Ananda begitu kuat dan memberikan kenikmatan tersendiri yang belum aku rasakan sebelumnya. Mata Ananda sesekali terpejam dan kedua bibirnya mengatup rapat, ketika aku pada saat yang lain melakukan gerakan memutar, memilin batang penisku di dalam rongga vaginanya.

Di gerakan yang kesekian aku merasakan denyut dari vagina Ananda, yang pijitannya begitu terasa di batang penisku. Sepertinya Ananda akan mencapai orgasmenya ketika kemudian aku merasakan denyutnya semakin cepat. Dan perkiraanku terjawab bersama jeritannya yang erotis memecah kesunyian malam itu.

“Ohh.. Diet aku sudah sampai” jeritnya panjang.

Dengan gerakan cepat aku memaju mundurkan penisku ke dalam rongga vagina Ananda yang masih menyisakan denyutan kecil. Dan di saat gerakanku yang kesekian aku reflek menundukan kepalaku dan langsung mengecup bibir sensual Ananda dengan sedikit liar. Seketika menyemburlah spermaku di dalam rongga vagina Ananda sembari aku mendekap erat tubuh sexy Ananda.

“Makasih yah Diet..” kata Ananda sambil mengecup bibirku kembali.

“Kamu sudah memberikan kebahagian kepadaku malam ini” ujarnya menambahkan.

“Aku juga merasakan hal yang sama kok” timpalku kemudian.

Sambil memeluk tubuhnya dengan erat dan mengecup keningnya serta kedua pelupuk matanya lembut. Malam semakin larut dan akan menjelang fajar bersama dengan berpindahnya sang rembulan ke sisi sebelah barat menandakan waktu yang telah aku lewati bersama Ananda yang memberiku kesan mendalam terhadap arti sebuah hidup.

TAMAT

Tags : cerita merangsang,cerita ngentot, artis bugil, video bokep, tante bugil, cerita sexs,rahma azhari bugil,video rahma azhari terbaru,isep tetek,cerita berahi,cerita seks,cerita daun muda,film bf,tante girang,tetek julia perez,gadis berjilbab


Cerita Merangsang – Selembut Nafsu Wanita

15 Juni 2010
Di suatu desa hiduplah seorang pemuda yang bernama Ryan Wilantara. Ia sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojeg. Pasa awalnya pengalaman sebagai tukang ojeg biasa-biasa saja bahkan lancar-lancar saja. Tetapi lama kelamaan pengalamannya semakin pahit. Hal itu ditandai dengan semakin sepinya penumpang tetapi persaingan tetap ada.

Untuk mengubah nasibnya, akhirnya Ryan memutuskan untuk mengadu nasib di kota. Untuk modal tersebut Ryan terpaksa menjual motor milik satu-satunya itu. Akhirnya terjuallah motor Ryan seharga 5 juta kepada tetangganya yang kebetulan sedang membutuhkan motor.

Dengan modal sebesar itu jadilah Ryan pergi ke kota untuk mengadu nasib. Saat tiba di kota Ryan mencari kontrakkan yang cocok untuknya. Setelah cukup lama mencari, ia mendapatkan kontrakan dengan biaya sebesar Rp 150.000/bulan. Untuk ukuran Jakarta biaya tersebut termasuk murah.

Setelah resmi menempati kontrakan itu datanglah seorang gadis tetangganya untuk berkenalan.

“Hai..” sapa gadis itu.

“Hai juga..” balas Ryan.

“Aku baru melihatmu di sini.”

“Ya memang saya baru datang dari desa untuk mengadu nasib di kota ini.”

“Ooh dan siapa namamu?”

“Namaku Ryan, panggil saja aku Ryan. Dan namamu..?”

“Namaku Melisa, panggil saja aku Lisa.”

Setelah itu cukup lama mereka berbincang-bincang mengenai diri dan pengalaman mereka.

“Lis, nanti sore kamu ada acara.?”

Lisa berpikir sejenak.

“Tidak, memangnya ada apa?”

“Aku mau mengajakmu untuk membeli mebel.”

“Ya, bisa nanti aku, kau ajak.”

Saat ini waktu sore pun tiba. Ryan dan Melisa pergi ke toko mebel sambil berbincang-bincang. Ryan membuka pembicaraan.

“Lis, aku saat ini menganggur dan ingin mencari pekerjaan. Apakah engkau punya informasi lowongan kerja?”

“Kalau di tempatku ada yaitu sebagai security, kamu mau?”

“Memangnya kerjamu dimana sih?”

“Aku bekerja sebagai DJ di sebuah diskotik.”

“Kalau ada lowongan di sana tolong bantu aku dong.”

“Ya, akan aku usahakan.”

Pada suatu saat dengan usaha Lisa, Ryan di panggil oleh manager diskotik untuk wawancara. Dan wawancara berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun. Selain itu Ryan juga di terima untuk bekerja di discotik itu.

Ryan mulai bekerja pada esok malam yang kebetulan berbarengan dengan sahabat barunya, Lisa.

Hari pertama Ryan mulai bekerja pada pukul 6 sore sampai pukul 4 pagi. Begitu juga untuk hari-hari berikutnya. Kebetulan pada jam kerja itu berbarengan dengan Lisa sehingga mereka bisa berangkat bersama-sama.

Di discotik itu Ryan berkenalan dengan Herman sebagai kepala security. Malampun semakin larut tetapi pengunjung semakin ramai. Saat itu datanglah seorang wanita cantik berambut panjang mengunjungi diskotik tersebut. Ia datang sendirian dengan wajah yang murung yang mungkin di sebabkan karena kesepian.

Kemudian wanita itu menghampiri di mana Ryan dan Herman berada.

“Maaf, adakah yang bisa menemaniku?”

Atas permintaan wanita itu Ryan dan Herman saling tatap. Lalu Herman memberi kode agar Ryan yang memenuhi permintaan wanita itu. Ryan pun setuju karena Herman merupakan atasannya. Kemudian wanita itu menggandeng Ryan untuk menuju ka lantai discotik untuk berdansa. Musik mengalun lembut dan wanita itu mendekap erat tubuh Ryan. Dan wanita itu berkata:

“Aku baru melihatnu di sini.”

“Ya, saya memang orang baru di sini.”

“Kenalkan, namaku Sarah dan siapa namamu?”

“Panggil saja aku, Ryan.”

Kemudian metreka kembali berdekapan erat sampai alunan musik selesai. Setelah itu Sarah kembali berbicara kepada Ryan.

“Ryan pas libur kerja maukah kau main ke rumahku.”

Ryan berpikir sejenak.

“Mungkin bisa tetapi jam berapa?”

“Kira-kira jam 9 pagi lah.”

“Ya, akan saya usahakan untuk mengunjungi rumahmu.”

“Ohh, terima kasih Ryan.” Ucap Sarah sambil mengecup pipi Ryan dan memberikan beberapa lembar seratus ribuan ke telapak tangan Ryan. Ryan berusaha untuk menolak tetapi sarah terus memaksanya. Akhirnya Ryan pun terpaksa menerima uang dari Sarah.

Setelah Sarah pergi keluar dari diskotik itu, Ryan memghampiri Herman untuk melaporkan kejadian yang baru dialaminya.

“Bang Herman tadi wanita itu memberiku uang sebanyak ini.”

“Ooo, itu memang rejekimu, maka terimalah dan aku minta satu lembar untuk beli rokok.”

Dan Ryan pun memberikannya dengan senang hati. Selain itu Ryan juga memberikan beberapa lembar uang tersebut kepada Lisa saat sampai di rumah kontrakannya. Dan Lisa pun sangat senang menerimanya. Beberapa hari kemudian Ryan teringat janjinya kepada Sarah untuk main ke rumahnya. Memang pada waktu yang lalu Ryan juga diberikan kartu nama dari Sarah.

Untuk menepati janjinya Ryan jadi pergi menuju rumah Sarah yang alamatnya sudah tertera di kartu nama dari Sarah. Dengan menggunakan angkutan umum, Ryan sampai di suatu pemukiman elit. Kemudian Ryan mencari rumah yang tertera di kartu nama tersebut. Setelah mencari-cari, Ryan menemukan rumah yang akan dicari. Saat Ryan sampai di pintu gerbang rumah Sarah, pintu pagar itu terbuka secara otomatis. Ternyata Sarah sudah menunggu di teras rumahnya.

Ryan sangat kagum dengan rumah Sarah, karena rumah itu sangat besar dan mewah. Halaman rumah itu cukup luas dengan aman yang sangat indah. Sarah menyambut mesra kedatangan orang yang dinantikannya, yaitu Ryan.

“Hai Ryan. Akhirnya kau datang juga.”

“Engkau sudah lama menungguku?”

“Belum kok baru 5 menit aku menunggumu di sini, ayo kita ke dalam sekarang. Aku sudah menyiapkan santapan untukmu.”

Akhirnya Ryan mengikuti Sarah untuk masuk ke dalam rumah gadis itu. Ryan sangat kagum dengan perabotan yang ada di rumah Sarah, semuanya serba lux dan sangat indah di pandang mata. Setelah itu mereka menuju ruang makan untuk makan siang bersama. Ternyata hidangan yang sudah dipersiapkan oleh Sarah cukup banyak yang membuat Ryan cukup terkejut.

“Wah, banyak sekali hidangan ini. Apakah ini hanya untuk kita berdua?”

“Ya, ini untuk kita berdua, memangnya kenapa?”

“Terus terang hidangan ini sangat banyak. Apakah kita berdua sanggup untuk menghabiskannya?”

“Kalau tidak habis, tidak apa-apa. Kan nanti bisa dihangatkan jika kita ingin makan lagi.”

“Oh ya Sarah.”

“Ya ada apa, sayang?”

Di rumah sebesar ini kamu tinggal dengan siapa?”

“Di sini aku tinggal sendirian dengan 2 orang pembantu.”

“Berarti apakah kamu tidak kesepian?”

“Aku memang kesepian Ryan. Dan aku sangat berharap engkau mau tinggal bersamaku di sini.”

“Waduh bagaimana ya. Aku saat ini masih bingung dan saya tidak enak dengan anggapan orang, karena kita ini bukan apa-apa dan baru berkenalan.”

“Walaupun begitu aku mohon padamu Ryan agar engkau mau tinggal bersamaku di sini untuk mendampingi aku yang setiap saat kesepian.”

Ryan semakin bingung dengan permohonan Sarah itu antara menolak atau menerima, dalam diri Ryan masih perang batin.

“Atau kalau engkau tak mau tinggal di sini bagaimana kalau engkau aku belikan sebuah rumah supaya aku bisa bebas untuk mengunjungimu”

“Wah jangan Sarah itu sama saja engkau membuat hutang budi kepadamu”.

“Aku ikhlas kok yang penting kita bisa bertemu setiap saat.”

Setelah makan siang selesai, mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya Sarah membuka pembicaraan kembali.

“Ryan, ikut aku yuk!”

“Kemana?”

“Pokoknya ikut deh.”

Akhirnya Ryan mengikuti Srah untuk menuju keruang tengah. Di ruang tengah itu Sarah menyalakan TVnya yang cukup besar sekaligus VCD playernya. Ryan melihat Sarah memasukkan sekeping vCD ke playernya. Dan Sarah kembali mendekati Ryan untuk duduk di sampingnya sekaligus untuk menonton film dari TV itu.

Ternyata dari tangan di TV itu Ryan cukup terkejut karena yang di tampilkan adalah tayangan yang sangat vulgar. Tak lama kemudian Sarah bangkit untuk menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian Sarah kembali muncul dari kamar dan memakai daster sutera tang sangat tipis dan tak ada pelapis tubuhnya selain daster itu. Kemudian Sarah mendekati Ryan yang sudah bangkit gairahnya karena menyaksikan tayangan vulgar dari TV itu.

“Ryan..

“Ya..

“Kita ke kamar yuk.”

Bagai kerbau dicucuk hidungnya Ryan mengikuti Sarah untuk menuju ke kamarnya. Saat sampai di kamar, Sarah langsung mengunci pintu kamar. Ryan sangat kagum dengan keadaan di kamar itu. Kamar yang cukup luas, bahkan melebihi luasnya rumah kontrakan Ryan dan berisikan perabotan yang sangat mewah. Kemudian Sarah mengajak Ryan untuk ke ranjang tidurnya yang mewah dan empuk itu.

Didekat ranjang mewah itu Ryan dan Sarah saling berhadap-hadapan. Saling pandang. Dan Sarah langsung memeluk Ryan denagn hangat dan Ryan pun memeluknya. Saat berpelukan Ryan membelai rambut Sarah yang hitam mengkilat dan panjang tergerai itu. Kemudia Ryan mencium bibir Sarah yang sejak tadi merekah. Dan Sarah pun membalas denagn melumat bibir Ryan dengan hangat. Ketika mereka saling mempermainkan lidahnya, wanita kaya yang kesepian itu benar-benar melambung perasaannya.

Karena mereka sudah tak tahan lagi, Sarah melepaskan gaun tipisnya dan sekaligus melepaskan pakaian Ryan. Lalu Sarah terlentang di atas ranjang mewah dan menantikan pelukan Ryan. Kemudian Ryan memeluk tubuh itu. Menyentuh payudaranya yang ranum dan lembut kulitnya.

Ryan mencium bibir itu kembali. Lidahnya mempermainkan rongga mulut Sarah. Menggelitiknya dan menimbulkan rasa nikmat. Sarah memang masih perawan, dan Sarah dengan antusias menangkap lidah Ryan dengan lidahnya. Permainan yang panas itu terus berlanjut. Puas mencium, Ryan dengan lidahnya menyapu sepanjang leher. Sehingga membuat Sarah menggelinjang.

“Oohh, Ryan..”

Ryan hanya tersenyum saja. Dengus nafasnya kini terasa di telinga dan lidahnya menggelitik di lubang telinga itu. Kemudia Ryan mencucup puting susunya.

“Oohh..

Ryan tersenyum. Lidahnya mempermainkan puncak payudara itu. Kemudian menghisap-hisapnya.

“Ryan..”

Puas menghisap-hisap puting susu Sarah, Ryan menjilati kulit lembut sepanjang perut. Kemudian turun ke bawah, dan singgah di bukit kecil dengan rerumputan yang menghitam. Bau wangi khas parfum dan shampo membuat Ryan betah di tempat itu. Ia menciumi rerumputan itu.

“Oohh..”, desah Sarah kenikmatan.

Sejuta keindahan terasa menyatu. Kenikmatan tiada tara. Kenikmatan yamg luar biasa. Akibatnya seluruh tubuhnya gemetar hebat.

“Ryan..”

“Ya?”

“Tak tahan nih..”

Ryan tersenyum. Ryan tahu Sarah masih perawan dan alat kemaluan Ryan sudah menegang sejak tadi dan siap untuk menghujam. Ryan mencoba benda itu untuk masuk ke dalam liang vagina yang tampak mulai basah dan lembab itu.

Ia tekuk kaki Sarah yang cantik. Ia lebarkan pahanya sehingga lubang dalam liang vagina itu menganga di depan senjata pamungkasnya. Dan ia mulai masuk. Mulai menekan. Tetapi sering terpeleset. Beberapa kali ia coba, tapi gagal lagi.

Akhirnya kedua tangan Sarah membantu melebarkan bibir vaginanya. Dan Ryan memasukkan senjata meriamnya, menekan dengan tubuh. Dan akhirnya melesak ke dalam, setelah Sarah menggerakkan pantatnya sedikit. Dan terdengar pekik tersentak.

“Oouwww..!”

Sarah memeluk tubuh Ryan, matanya berkaca-kaca.

“Kenapa?” tanya Ryan lirih.

“Sakit.”

“Aku hentikan ya.”

“Jangan Ryan walau sakit tapi enak kok.”

“Benar?”

“Ya.”

Lalu Ryan melanjutkan menusuk vagina Sarah dengan senjatanya secara pelan-pelan. Ryan tahu bahwa selaput kesucian Sarah telah pecah. Pastilah darah perawan itu akan jatuh ke sprey, menetes dan ia melihat Sarah menahan rasa sakit.

Namun di sisi lain ia kepuasan di wajah itu, maka ia kemabli menggerakkan senjatanya yang terlanjur menghujam ke dalam gua lembab itu, perlahan saja. Kemudian menekannya lagi, dan begitu seterusnya. Sarah merasa ada sesuatu yang bergerak cepat dan menggetarkan seluruh sendi darahnya. Dan mengalir dengan bergolak dahsyat.

“Oohh..”

Desah Sarah merasakan kenikmatan. Begitu juga dengan Ryan, gerakannya makin cepat dan makin bertenaga, akhirnya ia mencengkeram bahu Sarah dan memeluk wanita itu. Keduanya melenguh dahsyat. Berbarengan dengan itu cairan kental dan hangat menyembur dari lubang meriam Ryan dan dinding rahim Sarah.

Dengus kepuasan terasa sekali dari hidung Ryan. Begitu juga dengan hempasan nafas Sarah. Dan Ryan menggelosor di sisi Sarah, dan melihat ada apa di bawah pantatnya. Ia melihat ada bercak darah sedikit di atas sprey yang sudah acak-acakan tak karuan itu.

TAMAT

Tags :Cerita merangsang,cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang, dewi persik telanjang, telanjang artis indonesia


Cerita Merangsang – Tanteku Yuni

9 Juni 2010

Hallo netters, namaku Wawan, umurku sekarang 26 tahun. Aku ada cerita menarik mengenai pengalaman seksku. Kejadian ini terjadi pada saat aku masih duduk dikelas 3 SMA, yach kira-kira umurku masih sekitar 19 tahun. Karena tinggal di salah satu kota besar yang terkenal dengan pendidikannya, aku dititipkan oleh orangtuaku di rumah tanteku yang kebetulan juga bekerja sebagai dosen disalah satu perguruan swasta terkenal dikota.

Tanteku namanya Yuni, dia ini seorang “Single parent” dengan tiga orang anak; dua perempuan dan satu laki-laki. Suaminya sudah meninggal karena kecelakaan mobil. Suaminya ini memang seorang pembalap lokal yang tidak terkenal namanya. Dengan tiga orang anak dan umurnya yang sudah 37 tahun, tanteku ini masih saja kelihatan seksi. Tubuhnya terawat, karena dengan kondisi keuangannya yang mapan, tanteku secara teratur senam. Hasilnya, walaupun dengan tiga orang anak, tubuhnya tetap terawat dengan baik. Pantatnya besar dengan pinggul yang juga besar tapi pahanya selain putih dan mulus juga singset tanpa ada tumpukan lemak sedikitpun. Payudaranya lumayan besar, entah kira-kira berapa ukurannya akupun tidak tahu tapi yang jelas masih sekal tidak kendor layaknya seorang Ibu yang sudah melahirkan tiga orang anak.

Kejadiannya berawal pada saat yang tidak diduga sama sekali. Saat itu di rumah sedang tidak ada orang hanya ada tanteku yang sedang asyik memasak untuk hidangan makan siang, kebetulan hari itu jadwal mengajar tanteku hanya satu mata kuliah saja.

Sepulang sekolah, aku menemukan tanteku didapur sedang asyik memasak. Dengan langkah gontai karena kecapekan, aku langsung menghampiri meja makan.

“Tante Yun, belum siap yah makanannya?” tanyaku kelaparan.

“Belum Wan, sabar yah. Ini lo si Suti (pembantu tanteku) pulang tadi pagi, jadinya ya gini nih repot sendiri” keluh tanteku

Di dahinya terlihat cucuran keringat, belum lagi tangannya yang belepotan dengan berbagai macam bumbu yang sedang diraciknya. Kelihatan sekali kalau tanteku tidak pernah kerja “Sekeras” ini. Walaupun begitu, entah kenapa terlihat sekali wajah tanteku semakin cantik.

Saat itu dia hanya menggunakan daster pendek yang sebenarnya tidak ketat tapi karena bentuk pantat dan pinggulnya yang besar, daster itu jadi kelihatan agak ketat dan memetakan garis dari celana dalamnya kalau dia sedang membungkukkan badannya. “Ah, seksi sekali” pikirku kotor.

“Wawan bantuin ya Tante?” tawarku.

“Boleh Wan, sini!” ternyata tanteku tidak keberatan.

Tidak ada angin tidak ada hujan, belum sampai aku mendekat, entah karena apa tiba-tiba kran air di cucian piring copot dari pangkalnya. Otomatis air yang langsung dari tandon air yang penuh menyembur dengan derasnya mengenai tanteku yang kebetulan ada didepannya.

“Aduh Wan, tolong.., gimana ini?” tanteku dengan paniknya berusaha menutupi saluran air yang menyembur dengan tangannya.

Karena tubuh tanteku tidak terlalu tinggi, untuk mencapai saluran itu dia harus sedikit membungkuk. Terlihat sekali dasternya yang sudah basah kuyup itu sekali lagi memetakan pantatnya yang besar. Garis celana dalamnya kini terlihat lebih jelas.

Dengan tergesa-gesa, tanpa pikir-pikir lagi aku segera mendekat dan membantunya menutup saluran air itu dengan tanganku juga. Tanpa aku sadari ternyata posisi tubuhku saat itu seperti memeluk tubuhnya dari belakang. Bisa di bayangkan, tanpa sengaja juga kontolku mengenai belahan pantatnya yang sekal. Keadaan ini bertahan beberapa lama. Hingga menimbulkan sesuatu yang kotor dipikiranku.

“Aduh Wan gimana ini?” tanya tanteku tanpa bisa bergerak.

“Duh gimana ya Tante, aku juga bingung.” kataku mengulur waktu.

Saat itu, karena gesekan-gesekan yang berlebihan di kontolku, aku jadi tidak bisa menahan gairah untuk merasakan tubuhnya. Pelan-pelan aku melepas satu tanganku dari saluran air itu, pura-pura meraba-raba disekitar cucian piring, mencari sesuatu untuk menutup saluran air itu sementara. Tanpa sepengetahuannya aku justru melepas celanaku berikut juga celana dalamku. Memang agak susah tapi akhirnya aku berhasil dan dengan tetap pada posisi semula kini bagian bawahku sudah tidak tertutup apa-apa lagi.

“Wah, nggak ada yang bisa buat nutup Tante. Sebentar Wawan carikan dulu yah”

Kini niatku sudah tidak bisa ditahan lagi, pelan-pelan aku melepas peganganku di saluran air.

“Pegang dulu Tante” kataku sedikit terengah menahan gairah.

“Yah, gih sana cepetan, Tante sudah pegal nih” sungut tanteku.

Kemudian tanpa pikir panjang, secepat kilat aku menyingkap dasternya, kemudian secepat kilat juga berusaha untuk melorotkan celana dalamnya yang entah warnanya apa, karena sudah basah kuyup oleh air, warna aslinya jadi tersamar.

“Ehh.. apa-apan ini Wan, jangan gitu dong!?” tanpa sadar tanteku melepas pegangannya disaluran air untuk menahan tanganku yang masih berusaha melepaskan celana dalamnya. Air menyembur lagi.

“Auhh.. ohh” suara tanteku jadi tidak jelas karena mulutnya kemasukan air. Tanpa sadar juga tanteku berusaha untuk menutup saluran air dengan tangannya lagi, otomatis tanganku sudah tidak ada yang menahan lagi.

“Kesempatan” pikirku, dengan satu sentakan celana dalam tanteku merosot sampai diujung kakinya.

“AuWCh.. duh Wan jangan, aku ini tantemu, jangann..” Mohon tanteku.

Kepalang tanggung, aku langsung jongkok. Aku lalu menyibak pantatnya yang besar dan mencari liang senggamanya. Kudekatkan kepalaku, kujulurkan lidahku untuk mencapai vaginanya.

“AuWChh.. Wan.. ahh..” jilatan pertamaku ternyata membuatnya bergetar tanpa bisa beranjak dari tempat semula, kalau bergerak air pasti akan menyembur lagi.

Lidahku semakin leluasa merasakan aroma dari vaginanya, semakin kedalam membuat tanteku bergetar hebat. Entah kenapa sudah tidak ada lagi bahasa tubuhnya yang menunjukkan penolakan, yang ada kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak keruan. Kecari klitorisnya, memang agak sulit, setelah dapat kuhisap habis, dua jariku juga ikut menusuk liang vaginanya. Tidak terkira jumlah lendir yang keluar, tak lama kemudian, terasa pantatnya bergetar hebat.

“Ahh..hh Wann.. ahh aouhh..” dengan erangan keras, rupanya tanteku sudah mencapai orgasme. Tubuhnya langsung lunglai tapi tanpa melepas pengangannya dari saluran air.

“Aduh aku belum apa-apa” pikirku.

Langsung aku berdiri, kusiapkan senjataku yang sudah mengacung dengan keras. Dengan dua tanganku aku coba menyibakkan kedua belahan pantatnya sambil kudekatkan kontolku kevaginanya. Kudorongkan sedikit demi sedikit. Begitu sudah betul-betul tepat dimulut liang kenikmatannya, tanpa ba-bi-bu langsung kulesakkan dengan kasar.

“Ahh sakit Wan.. pelan.. auh” kepala tanteku langsung melonjak keatas, tanpa sengaja pegangannya di saluran air terlepas. Air menyembur dengan deras. Kepalang basah, begitu mungkin pikir tanteku karena selanjutnya dia hanya berpegangan dipinggiran cucian piring. Sudah tidak ada penolakan pikirku.

Kudiamkan sebentar kontolku yang sudah masuk hingga pangkalnya didalam vagina tanteku, ku nikmati benar-benar bagaimana ternyata vagina yang sudah mengeluarkan tiga orang manusia ini masih saja nikmat menggigit. Sensasi yang sangat luar biasa sekali. Pelan-pelan kutarik, kemudian kudorong lagi.

“Oohh.. Wan enak, terus sayang..yang cepat aouhh.. ahh.. terus sayang” pantatnya bergoyang melawan arah dari kocokanku.

“Nah gitu Wan, ouhh.. ya gitu teruuss..” Pinta tanteku.

Aku terus mengocokkan kontolku dengan cepat. Sebentar kemudian tubuhnya mulai bergetar hebat.

“Yang cepat Wan, Tante sudah mau keluar lagi.. ouhh.. terus” kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak karuan.

“Cepatt.. cepatt truss.. ouchh.. Tante kelluaarr.. aghh” Orgasmenya telah sampai dibarengi dengan kepalanya yang melonjak naik, tangannya mencengkeram pinggiran cucian piring dengan erat.

“Cabut dulu Wan.. Tante linuu..” pinta tanteku, karena merasakan aku yang masih mengocoknya dari belakang.

“Akan wawan cabut, tapi janji nanti diteruskan ya Tante?” kataku.

“Iya, tapi sekarang dari depan aja yah” janji tanteku.

Tubuhnya kemudian berbalik. Wajahnya sudah awut-awutan dan basah kuyup. Kemudian dia duduk diatas cucian piring sambil menghadapku. Aku mendekat, langsung kucari bibirnya dan kemudian kami berpagutan lama. Sambil kami berciuman, satu tangannya membimbing kontolku kearah liang vaginanya. Tanpa disuruh dua kali kudorongkan pantatku dibarengi dengan masuknya juga kontolku.

“Ahh.. oohh..” erang tanteku, ciuman kami terlepas.

“Kocokkan yang cepatt wann..” pinta tanteku sambil pahanya semakin dilebarkan.

“Begini Tante..” Kataku sambil mengocokkan kontolku dengan cepat.

“Gila kamu Wann.. kuaatt sekalii kamuu..” sambil satu tangannya menarik satu tanganku, kemudian ditaruhnya di bagian atas vaginanya. Aku tahu mau maksudnya.

“Yahh yang ituu.. teruss Wann.. ohh enakk.. Wan teeruss..” rintih tanteku ketika sambil kontolku mengocok vaginanya tanganku juga memelintir klitorisnya.

“Ohh Wan, Tante hampir sampai..” tubuhnya mulai bergetar agak keras.

“Aku juga hampir sampai Tante.. ohh punya Tante eenakk..” aku mulai tidak bisa mengendalikan lagi, orgasmeku tinggal sebentar lagi.

“Dikeluarin dimana Tante?” tanyaku minta ijin.

“Udah nggak usah mikirin itu, ayoo teruss.. didalemm jugaa nggakk Papa”

“Ayoo..Tante udah diujung nihh wann..”

“Ouhh.. enakk.. cepatt Wann.. yangg cepatt” rintih tanteku.

“Goyang Tante, kita barengan ajaa.. oghh” orgasmeku sudah diujung.

Semakin kupercepat kocokanku, tanteku juga mengimbangi dengan menggoyang pantatnya. Sambil berpegangan pada belakang pantatnya, kukeluarkan air maniku.

“Aku keluarr tantee.. aughh..” sambil kubenamkan dalam-dalam.

“Tante juga Wann.. oughh akhh.. gilaa.. uenakknya..” erangnya sambil jemarinya mencengkeram bahuku.

Akhirnya kami berdua terkulai lemas. Kudiamkan dulu kontolku yang masih ada didalam vaginanya. Kulirik ada sedikit lelehan air mani yang keluar dari vaginanya. Seperti tersadar dari dosa, tanteku mendorong badanku.

“Kamu nakal Wan, berani sekali kamu berbuat ini” sungut tanteku.

“Tapi Tante juga menikmatinya kan?” belaku.

Tanpa berkata apa-apa, dia kemudian turun, meraih celana dalamnya kemudian berlalu kekamar mandi. Aku berusaha mengejarnya tapi dia sudah lebih dulu masuk kamar mandi kemudian menguncinya.

“Tante air di tandon tadi sudah habis loh” candaku dari luar kamar mandi tapi tidak ada balasan dari dalam.

*****

Demikian pengalamanku, selanjutnya kejadian seperti tadi berlangsung terus. Walaupun menolak dalam hati tapi tubuh dan hasrat tanteku tidak bisa menolak kontolku. Bagi para pembaca yang ingin berbagi pengalaman atau mungkin justru ada Tante-Tante yang berhasrat seperti tanteku, silakan hubungi emailku, pasti kubalas.

TAMAT

Tags : Cerita merangsang,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,tante girang, tante girang ngentot, telepon tante girang, tante girang kesepian, komunitas tante girang, gairah tante girang, toket tante girang, dunia tante girang, dengan tante girang, cerita ngentot tante girang, kisah tante girang, payudara tante girang


Cerita Merangsang – Dessy Namaku

8 Juni 2010

Namaku Dessy, 23 tahun. Aku sekarang tinggal di Jakarta. Banyak orang mengatakan bahwa aku sangat cantik, walau aku tak merasa demikian. Aku dilahirkan di satu keluarga yang biasa saja. Ayah dan ibuku bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta. Aku mempunyai 2 orang kakak laki-laki. Yoga, 29 tahun, dan Okky, 25 tahun. Keduanya belum menikah. Yoga bekerja sebagai montir mobil, Okky bekerja serabutan. Dan aku sendiri sampai saat ini belum bekerja setelah tamat kuliah D3.

Aku selalu di rumah membantu ibu dalam urusan rumah tangga. Aku jarang keluar. Sampai saat ini aku belum mempunyai kekasih karena ada suatu hal yang akan aku ceritakan sekarang ini. Keluargaku tidak ada masalah dalam hal ekonomi. Ekonomi kami cukup walau tidak bisa lebih. Hanya saja ada satu hal yang sangat membebani perasaanku saat ini. Kurang lebih 5 bulan yang lalu awal dari beban perasaanku ini dimulai..

Waktu itu, 5 April 2010 pagi hari, ayah dan ibu serta Yoga sudah pergi kerja. Hanya Okky dan aku yang ada di rumah. Okky masih tiduran di kamarnya walau sudah bangun. Aku sendiri sedang menyapu di tengah rumah. Kulihat Okky bangkit dari ranjangnya dan segera keluar dari kamar.

“Masih ada makanan, tidak?” tanya sambil lewat.

Tak kusangka tangan Okky tiba-tiba meremas pantatku dari samping sambil lewat.

“Ihh.. Kamu ngapain sih!” aku membentak.

Okky hanya tersenyum dan segera ke kamar mandi. Aku pikir Okky hanya iseng menggoda aku. Tapi ketika Okky sudah selesai dari kamar mandi, tanpa sepengetahuanku tiba-tiba Okky memelukku dari belakang.

“Hei! Lepaskan aku!” aku berteriak sambil meronta.

Tapi Okky malah sengaja meremas buah dadaku dan menciumi leher dan tengkuk aku. Aku terus meronta, tapi pelukan Okky makin kuat.

“Diamlah, Des.. Sebentar saja,” bisik Okky di telingaku sambil tangannya tetap meremas buah dadaku.

Entah kenapa aku jadi lemah meronta. Malah aku rasakan ada perasaan aneh yang menjalari tubuhku. Antara mau dan tidak, aku biarkan tangan Okky meremas buah dadaku. Bahkan ketika Okky menyingkap dasterku dan tangannya masuk ke celana dalamku, aku biarkan tangannya meraba dan menelusuri belahan memekku.

“Mmhh…” aku mendesah dengan mata terpejam.

“Ke kamar, yuk?” bisik Okky tak lama kemudian.

Aku hanya bisa mengangguk. Okky lalu menarik tanganku ke kamarnya. Di dalam kamar, Okky dengan terburu-buru melepas semua pakaian yang melekat di tubuhku. Nafasnya terdengar cepat. Aku diam saja diperlakukan demikian oleh kakakku. Entah kenapa gairahku bangkit diperlakukan demikian.. Nafsuku makin terangsang lagi ketika kulihat Okky melepas semua pakaiannya dan terlihat kontolnya yang cukup besar dipenuhi bulu lebat berdiri dengan tegak.

Okky menghampiri, lalu mengecup bibirku. Aku langsung membalas ciumannya dengan hangat. Tangan Okky kembali bermain dan meremas buah dadaku. Kontolnya sesekali menyentuh memekku sehingga membuat darahku selalu berdesir.

“Ohh.. Ohh…” desahku ketika jari tangan Okky menyentuh memek dan menggosok-gosok belahan memekku. Aku sendiri langsung menggenggam kontol Okky dan meremasnya pelan.

“Mmhh…” desah Okky sambil menggerakkan pinggulnya.

“Isepin kontol aku, Des…” pinta Okky berbisik.

“Tidak mau ah, jijik…” kataku sambil terus mengocok kontol Okky.

“Ya sudah, masukkin langsung saja,” kata Okky sambil menarik tubuhku ke atas ranjang.

Tak lama tubuh Okky langsung menindih tubuhku. Diarahkan kontolnya ke memekku lalu didesakannya pelan-pelan.

“Aww! Pelan dong, Ky…” jeritku pelan.

“Susah masuk nih…” kata Okky sambil terus berusaha memasukkan kontolnya ke memekku.

“Aku masih perawan, Ky…” bisikku.

Okky tak menjawab. Dia terus berusaha menyetubuhiku.

“Bantuin dong…” bisik Okky.

Akupun segera menggenggam kontol Okky. Aku arahkan kepala kontolnya ke lubang memekku.

“Tekan pelan-pelan, Ky…” bisikku.

Okky mulai mendesakkan kontolnya pelan.

“Aww.. Terus tekan pelan-pelan.. Aww…” kataku sambil agak meringis menahan perih ketika kontol Okky mulai masuk ke memekku.

“Pelan, Ky.. Pelan.. Aww.. Aww.. Mmhh.. Ohh.. Terus, Ky…” bisikku lirih ketika kontol Okyy sudah mulai keluar masuk memekku.

Okky terus memompa kontolnya mulai cepat.

“Ohh…” desah Okky disela-sela gerakannya menyetubuhi aku.

“Kenapa kamu melakukan hal ini?” tanyaku sambil memeluk Okky.

“Karena aku sayang kamu, suka kamu…” jawab Okky sambil menatap mataku.

Aku diam. Tak terasa air mataku mengalir ke pipi..

“Kenapa kamu menangis?” tanya Okky sambil menghentikan gerakannya.

Aku diam sesaat. Mataku terpejam.

“Karena.. Sudahlah…” kataku sambil tersenyum.

Ada rasa tak menentu saat itu. Antara rasa sedih karena diperawani kakak kandung sendiri, dan juga gairah seks-ku yang sangat tinggi untuk disalurkan, dan entah perasaan apalagi saat itu yang ada di hatiku. Aku lumat bibir Okky sambil menggerakkan pinggulku. Okkypun segera membalas ciumanku sambil melanjutkan menggerakan kontolnya keluar masuk memekku. Lama kelamaan perasaan tak menentu yang sempat hinggap di hatiku mulai menghilang, terganti oleh rasa sayang terhadap kakakku dan rasa nikmat yang sangat tak terhingga. Tak lama aku rasakan Okky mulai menyetubuhiku makin cepat. Dengan mata terpejam didesakkannya kontolnya dalam-dalam ke memekku.

“Ohh.. Aku mau keluar, Des…” kata Okky.

“Jangan keluarkan di dalam, Ky…” pintaku sambil menggerakan pinggulku makin cepat mengimbangi gerakan Okky.

Tak lama Okky segera mencabut kontolnya dari memekku cepat-cepat. Lalu, crott! Crott! Crott! Air mani Okky menyembur banyak di atas perutku. Okky lalu bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Diusap dan diremasnya buah dadaku. Akupun segera memegang dan menggenggam kontol Okky yang sudah mulai lemas.

“Aku sayang kamu…” kata Okky sambil mencium kening dan mengecup bibirku.

Aku tersenyum.. Begitulah, sejak saat itu kami selalu bersetubuh setiap ada kesempatan. Aku sangat menikmati persetubuhan kami. Kedekatan dan keromantisan hubungan kami semakin hari semakin kuat. Seringkali kami saling raba, saling remas bila sedang nonton televisi walau saat itu semua keluarga sedang kumpul. Aku nikmati itu setiap malam. Antara was-was kalau ketahuan dan rasa romantis serta nikmat, semua aku lakukan dengan suka hati.

Rasa sayang yang sangat besar bisa aku rasakan dari Okky. Apapun yang aku mau, atau apapun masalah yang aku hadapi, akan selalu dipecahkan dan dilalui bersama Okky. Kenikmatan dalam persetubuhan dengan Okky telah membawa aku ke suasana yang serba indah. Dengan Okky pula aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya melakukan oral seks. Bagaimana rasanya di jilat memek sampai orgasme, bagaimana rasanya menjilat dan menghisap kontol sampai air mani Okky tumpah di dalam mulutku dan menelannya.

Untuk beberapa bulan kami nikmati “kegilaan” dalam hubungan asmara saudara sekandung. Entah sudah berapa banyak tempat yang kapai pakai untuk melampiaskan rasa sayang dan gairah dalam bentuk persetubuhan. Sudah banyak penginapan dan hotel yang kami singgahi untuk bisa memacu desah dan birahi untuk meraih kenikmatan. Entah sudah berapa puluh kali aku menghisap kontol dan menelan air mani Okky di dalam bioskop. Aku lakukan semua itu dengan perasaan bebas tanpa beban. Aku nikmati semua permainan yang kami lakukan.

Tapi ada satu hal yang mulai membebani hatiku saat ini. Aku mulai merasa berdosa atas hubunganku dengan kakak kandungku. Pernah aku bilang kepada Okky untuk menghentikan hubungan ini, dan mengatakan bahwa aku ingin membina hubungan dengan orang lain. Okky marah besar karenanya. Dia mengatakan bahwa dia sangat sayang aku, dan tidak ada satu orang lelakipun yang boleh menyentuh aku. Bahkan pernah ada beberapa lelaki yang main ke rumah untuk menemui aku, tidak pernah lagi datang berkunjung karena Okky selalu ikut nimbrung ketika aku menemui mereka. Okky selalu dengan ketus menimpali setiap ucapan mereka dengan ucapan yang menyindir dan menghina.

Hal lain adalah, aku tidak bisa menolak keinginan Okky untuk menyetubuhiku. Dan jujur saja kalau aku juga sangat menikmati cumbuan dia karena bisa memenuhi kebutuhanku untuk menyalurkan libido aku. Sekarang aku bingung harus bagaimana. Aku ingin hidup normal dalam membina hubungan asmara dan ingin normal dalam menyalurkan kebutuhan seks aku, tapi tidak mau menyakiti hati kakakku karena aku sangat sayang dia. Aku ingin hidup normal. Tolonglah..

*****

Demikian penuturan kisah yang Dessy paparkan kepada saya. Sengaja saya bercerita sebagai “Dessy” sendiri agar ceritanya lebih terjiwai.. Sesuai dengan permintaan Dessy, bila ada yang bisa membantu memberikan jalan keluar, silakan untuk mengirimkan advice ke alamat email saya, dan akan segera saya forward ke email Dessy. Demikian.

TAMAT

Tags : Cerita Merangsang,cerita sexs, cerita ghairah, melayboleh, gambar telanjang, cerita berahi, setengah baya,bugil bandung,abg bandung,mahasiswi bandung,perek bandung,bispak bandung,pijat bandung,memek bandung,panti pijat bandung,artis bandung,bokep bandung,foto bandung,smu bandung,chika bandung bugil,anak bandung


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.